Saturday, December 4, 2010

Kereta dan Saya

Saya suka kereta api.
Sejak kecil, saya selalu suka kereta api.
Konon kata Ibu saya, saat saya masih berumur tiga bulan, orangtua saya sudah membawa saya bepergian naik kereta api ke Mojokerto, tempat nenek saya tinggal. Tentu saja dengan kereta api ekonomi.
Dan saat-saat liburan sekolah adalah waktu yang paling saya nantikan, karena kami akan pergi ke rumah nenek dengan kereta api. Saya masih ingat suara lengking peluit saat kereta hendak diberangkatkan, suara pengumuman yang membahana, suara dentang bel yang memenuhi telinga, lalu suara mesin lokomotif yang melaju.
Tut tut! Jes jes kook!


Itulah mengapa hingga kini, saya masih memilih bepergian dengan kereta api. Hingga pada suatu hari, saya dan pacar saya, Greg, mendapat undangan teman baik saya, Hananto, untuk pergi ke rumah kakeknya di Pohsarang, Kediri. Wah, sangat menarik. Hari itu tanggal 18 Agustus. Saya masih ingat, karena masih banyak bendera merah putih berkibar-kibar di sepanjang jalan. Kami naik kereta api Kahuripan yang berangkat jam 6 pagi dari Stasiun Lempuyangan.


Kereta sudah penuh saat kami naik. Kami mendapat tempat duduk di gerbong restorasi, alias duduk bersama-sama para awak kereta. Greg, seperti biasa, sangat tertarik dengan pemandangan di luar jendela. Dan kami juga senang berjalan-jalan di atas kereta, karena kadang duduk saja terasa sangat menjemukan.
Yang saya suka saat naik kereta api ekonomi adalah kedinamisannya.
Kereta yang hidup. Kereta yang selalu menggeliat dan penuh dengan semangat.
Penjaja makanan tak pernah berhenti mampir, teriakan atas minuman, jajanan dan buah yang akrab di telinga.
Dan angin yang selalu meniup ujung-ujung rambut saya.

Selama saya hidup, baru tiga kali saya naik kereta api eksekutif dan sekali naik kereta api bisnis.
Sisanya, saya habiskan perjalanan dengan mengikuti lantunan gerbong yang berirama suara tangis bayi dan pedagang asongan.

Saya kadang membeli sesuatu dari mereka: peniti-jarum pentul untuk ibu saya, permen jahe pedas, nasi pecel Madiun, kipas bulat anyaman bergambar cabe merah, jepitan ketiak, tambal panci, dan tahu petis.
Tapi saya tidak pernah buang air kecil di toilet kereta.
Dan saya selalu senang untuk berjalan hingga ke ujung gerbong, dan duduk sambil memandangi rel yang terus menjauh dan pada saat yang bersamaan terus berlari mengejar.
Rel adalah benda yang juga hidup.
Membentang memanjang hingga ke titik hilang. Saling bertaut dan berkelindan.
Kadang saat rel berpotongan dengan rel yang lain dan saling silang menyilang kemudian berpisah, saya tersenyum.
Mirip manusia.
Yang suatu saat bersilangan dengan yang lain, berpacu, berkejaran, lalu berjalan sendiri-sendiri.

Ah, hidup!
Dan sungguh saya nikmati setiap detak dan detik perjalanan ini.

Menunggu Kahuripan di Lempuyangan saat jam lima tigapuluh pagi.

Melamun di depan jendela yang terbuka sambil memanjakan indera saya
melihat hijau dan biru di sepanjang jalan.
Seperti melihat pohon-pohon melayang dan tiang listrik berkejar-kejaran.
Pecel Madiun yang menjadi santapan wajib saat mengarah ke timur.
Jeruk, jeruk, mau jeruk Mas? Lima ribu sekilo. Manis-manis.
Rel: yang selalu saya ingin tangkap saat mereka hendak mengejar saya dari ujung gerbong.

2 comments:

  1. hi... tulisannya bagus dan sangat inspiratif, saya minta ijin pake image dan copas inspiration storynya yaa

    bisa bagi kontak?

    warm regards

    ReplyDelete
  2. hai :)
    maturnuwun :)
    boleh, boleh, silakan :)
    ini dengan Mas atau Mbak ya? silakan email saya di sadhusindana@gmail.com
    sip sip :)

    -vanie-

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...