Thursday, December 2, 2010

Kadang Saya Tak Suka Pantai...

Awal November kemarin, saya harus ke Bali karena saya menang sayembara. Saat saya mendarat di Ngurah Rai, sambutan yang saya dapat adalah hujan deras. Teman baik saya, Prima, yang sudah menikah di Bali sempat bilang kalau saya bisa mampir ke studio suaminya yang seorang pentato. Saya lalu sampai ke Kuta setelah keblasuk-blasuk karena saya disorientasi arah. Jalanan banjir dan sepatu saya basah kuyup.
Saya lari-lari masuk gang Benesari di pinggir pantai Kuta dan ternyata studio tato teman saya masih tutup. Daripada saya kebasahan, saya bengong sambil nunggu hujan di teras studio. Setelah hujan cukup reda, saya putuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke Pantai Kuta.
Saya tak tahu mau ngapain di pantai. Saya nggak mahir renang, saya nggak bawa baju renang, dan sepatu saya basah, berat dan lembab.
Saya duduk di bawah pohon besar. Sendiri. Saya pandangi pantai biru, laut yang silau, dan langit yang bergumpal. Hawa pantai yang lengket menyapa saya.

Saya pikir, kadang saya tak suka pantai.
Panas, silau, dan sebenarnya saya tak tahu harus ngapain. Pernah, saya terkejut saat pertama kali saya ke Kuta tahun 2009 lalu, saya hendak duduk di atas kursi pantai. Belum tiga detik, bahkan sebelum pantat saya menempel, seorang laki-laki besar bilang, bayar Mbak, 30 ribu. APA? Untuk menikmati pantai saja saya harus bayar? Mending saya duduk di pasir. Dan saat saya sendirian kali ini, saya hanya bisa menikmati apa yang indra visual saya tangkap. Dan rasanya, pantai Kuta pagi itu sedang ingin sendiri. Saya menangkap rerasa yang lain, beda saat saya pergi ke pantai-pantai yang lain di Jawa. Dan saya sempat tidak nyaman dengan rasa ini.

Hmm, saya pandangi lagi ombak putih yang lemas, tiba-tiba di sebelah saya ada mas-mas berkulit coklat sekali. Seorang peselancar. Dia memberikan saya kursi plastik warna hijau, duduk di sini saja, mbak. Saya tersenyum. Dan mas-mas ini mulai tanya-tanya, dari mana, sama siapa, ngapain ke Bali, bla bla dan bla bla. Saya sedang tidak dalam rasa untuk mengobrol pagi itu. Saya hanya tersenyum, dan mengangguk-angguk saat ia bercerita bahwa satu jam yang lalu ada badai di pantai, dan bahwa ada pelangi yang mampir di pantai Kuta sesaat sebelum saya sampai dan duduk di pasirnya yang lengket. Lagi-lagi saya tersenyum. Pagi yang membuat perut saya kaku, hingga sulit senyum, dan saya merasa bahwa tulang-tulang saya melembek dan melunglai.
Beberapa mas-mas yang berkulit coklat gelap kemudian datang, mengobrol dalam bahasa Indonesia dan Sunda, bercampur-campur dengan bahasa Bali. Saya meraih koran. Saya tidak tertarik dengan pantai lagi.

Saya tidak tahu kenapa saya tiba-tiba tidak suka dengan pantai.

Menurut saya,
m-o-n-o-t-o-n.
Itu-itu saja.
Pantai yang berpasir dan berbuih,
orang-orang berkulit pucat telanjang dada, selancar,
berjemur,
dan pijat memijat.
Laki-laki berkulit coklat. Sangat coklat.
Payung-payung.
Pasir yang lengket.
Kursi pantai yang mahal.
Bikini warna-warni.
Handuk bertebaran.
Dada-dada yang membusung dan belang karena matahari.
Laki-laki berkulit putih yang sangat putih.
Perempuan yang berkulit putih yang sangat putih.
Ah...
Jadilah saya memunguti beberapa imaji yang berserakan di hadapan saya pagi itu. Tentu saja dengan hati yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Hanya ada kaki, pasir, dan daun menguning yang ditimpa sinar pagi.

Sepatu kesayangan saya yang sedang berjemur di Pantai Kuta.
Warna-warni imitasi yang membuat saya semakin silau.
Papan selancar yang tak hanya menantang laut, tetapi juga langit dan daun-daun.

3 comments:

  1. lagi lagi lagiiii...

    ReplyDelete
  2. memang mba... pantai itu monoton, kaku dan palsu.
    hahaha...

    -arum-

    ReplyDelete
  3. @ Arum:
    hehehe. iya. panas dan lengket.
    itu tambahannya :)

    btw, maturnuwun sudah mampir di kurakurakikuk :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...