Friday, December 3, 2010

Gegar Hotel

Entah mengapa, November lalu adalah bulan dimana saya harus banyak melakukan perjalanan dan tentu saja harus menginap di berbagai hotel.

Satu yang kadang saya sukai dari menginap di hotel adalah sepreinya yang bersih dan tempat tidurnya yang empuk dan nyaman, sesuatu yang tidak saya dapatkan di rumah.
Hal lain yang saya suka adalah di hotel bisa mandi lama, dengan pancuran air panas atau berendam di dalam bath-tub. Lagi-lagi, hal yang tak bisa saya dapatkan di rumah.
Tapi, ada hal yang terkadang saya tak suka.
Perasaan sendiri dalam kamar yang besar, mewah, dan nyaman.
Rasa akan 'dirumahkan' dalam sebuah entitas yang serba digital. Ya. Saya pernah setengah jam berdiri di depan pintu kamar saya di sebuah hotel di bilangan Cengkareng, Jakarta hanya gara-gara pintu itu harus dibuka dengan semacam kartu tipis seperti kartu ATM.

Dan saya sering mengalami berbagai macam benturan-benturan yang kemudian membuat saya mengusap kepala, dan berpikir.
Seperti saat saya kesulitan untuk membuat air panas dengan teko elektrik yang disediakan di hotel, atau saat saya harus menelpon layanan kamar dan si room boy dengan tergopoh-gopoh datang, padahal saya hanya ingin bertanya bagaimana cara membuka botol air putih yang dikemas seperti minuman bersoda. Dan sampeyan tahu? Alat pembuka botol yang saya cari di mana-mana itu ternyata tertempel secara permanen di tembok kamar mandi, tepat di samping toilet duduk. Waaah!

Saya juga sempat ketakutan setengah mati saat saya menekan saklar lampu kamar mandi, ada suara yang berdengung keras sekali, dan saya takut ada yang bocor atau ada apa, karena suara itu begitu keras dan mengganggu. Dan membuat saya sedikit takut, karena saya tidur sendirian di hotel berbintang di Kuta, Bali dengan dua tempat tidur. Setelah saya cari-cari tahu, ternyata itu suara dari exhausted fan, alias kipas angin yang ditanam di dalam eternit untuk mengeringkan lantai kamar mandi yang terbuat dari kayu mengkilap itu. Waah!

Hotel yang saya inapi di Kuta. Ini pemandangan yang
dapat dilihat dari balkon kamar lantai dua.
Lagi-lagi saya gegar hotel.

Dan saya tidak malu.
Saya malah suka saat teman-teman saya bilang saya 'ndeso'.
Ndak apa-apa.
Saya menikmati perasaan-perasaan asing saat memasuki sebuah dunia yang sama sekali baru.
Saya menikmatinya. Benar-benar.
Lalu akan ada banyak hal menarik yang akan merangsang otak saya untuk berpikir tentang ini dan itu.
Dan tentu saja, sembari menikmati sebuah pengalaman yang jarang saya dapatkan setahun sekali juga merupakan hal yang dibolehkan.

Saya tetap ingat dengan kamar tidur saya di Yogya yang setiap malam harus menjadi ajang berdesak-desakan dengan dua adik perempuan saya, karena kami sekamar bertiga.
Saya tetap tahu rasanya tidur kedinginan beralas tikar di lantai.
Jadi ya, bagi saya, gegar hotel yang saya alami ini makin menambah 'rasa' saya, terutama dalam 'mengalami' ketika tidur dan mandi.

Beberapa hari ini baru saya tahu, bahwa mengapa ada dua gelas dan dua botol air mineral yang selalu disediakan dalam kamar mandi hotel.
Yang ternyata untuk berkumur-kumur saat gosok gigi, karena konon katanya, tamu-tamu hotel dari berbagai negara itu tidak bisa berkumur dengan air keran Indonesia, jadi harus menggunakan "air bersih".
Hmmm, silakan sampeyan pikir sendiri mengapa.


Jangan minum air dari keran.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...