Thursday, December 2, 2010

Episode Adik #2: Ssst, Jangan Berisik!


Pada episode sebelumnya, saya bercerita tentang adik saya, Dea yang mandinya lama, nah kali ini saya akan bercerita tentang adik saya yang lain, yang bernama Nunna, yang sedang menjadi mahasiswa Kriya Tekstil, ISI.
Kalau Dea punya cerita tentang ritual mandi, Nunna punya cerita tentang tidur.

Jadi, adik saya yang bernama lengkap Nurina Rizky Savitri yang kata orang mirip saya ini, sangat tidak suka berisik-berisik di malam hari.
Kami bertiga, saya-Nunna-Dea, memang tidur dalam satu kamar, dan dalam satu tempat tidur yang sekarang sudah tidak cukup lagi untuk menampung kami bertiga yang sedang tumbuh. Jadi, bayangkan, kami bertiga tidur seperti ikan teri berjejer, saya tidur di tengah-tengah diapit Nunna di sebelah kanan saya, dan Dea di sebelah kiri saya.
Tidur dengan mereka bertiga cukup asyik. Sebelum tidur, kadang kami bertukar cerita dan gosip hingga bapak kami harus berteriak untuk menyuruh kami tidur karena waktu sudah hampir tengah malam. Kadang kami bersenda gurau, saling mengejek satu sama lain, hingga tertawa sampai keluar air mata. Kadang kami langsung tidur karena terlalu capek pada siang harinya.

Saya sudah hafal dengan kebiasaan tidur dua adik saya ini.

Dea: ia akan tidur seperti batang pohon. Lelap sekali dan tidak bergeming.
Kesulitannya: saat ia 'mengambil' jatah tempat saya, sulit sekali untuk menggulingkan tubuhnya ke sisi yang lain karena ia tak bergeming, tidur pulas dan tanpa suara.

Nunna: kebalikannya. Sedikit suara, sekecil apapun itu, akan membangunkannya. Sedikit sentuhan, atau tak sengaja saya menyenggol punggungnya, ia akan terbangun. Ia akan terganggu dengan suara televisi yang terlalu keras di samping kamar. Ia akan sangat terganggu dengan suara derap kaki tikus-tikus besar yang berlarian di atap kamar kami yang sudah bolong-bolong. Ia akan sangat terganggu dengan bau asap rokok bapak saya yang mengalir menuju kamar kami. Dan Nunna tidak bisa tidur tanpa DRAGON hitam di sisinya.

Sedangkan saya: kalau tidur, setiap detik saya berubah posisi. Tapi saya akan tidur seperti batang pohon juga, seperti Dea. Bedanya, saya suka ngiler, dan adik-adik saya tidak. Kenapa saya ngiler? Sampeyan bisa baca alasannya di sini.

Jadilah, saat-saat tidur di rumah adalah saat-saat yang penuh dengan berjuta rasa. Ada banyak peraturan yang kadang, saya rindu, saat saya sering bepergian ke luar kota dan tidur sendirian.
Seperti:
1. Tempat tidur harus dibersihkan dulu dan ditata rapi sebelum tidur (aturan Nunna)
2. Pintu harus selalu ditutup, kalau mau keluar untuk pipis, jangan lupa pintunya ditutup lagi (aturan Nunna)
3. Tidak boleh senggol-senggol (aturan Nunna)
4. Kalau ada tikus-tikus besar yang berderap di atas kami, segera tutup wajah dan sekujur badan dengan selimut kalau nggak ingin rambutmu kotor dan matamu kelilipan karena atap kamar sudah bolong-bolong (aturan kami semua)
5. Lampu tidak boleh dimatikan (aturan kami semua)
6. Tidak boleh sms-an saat di tempat tidur, karena b-e-r-i-s-i-k! (aturan Nunna)
7. Hape harus di-silent dan tidak boleh mengaktifkan nada getar karena bikin kaget (aturan Nunna)
8. Bantal dan selimut milik sendiri-sendiri, tidak boleh saling ditukar (aturan kami semua)

Seperti yang sampeyan baca, Nunna memang punya kuasa atas tempat tidur, tapi ia sangat bertanggungjawab. Biasanya, ia-lah yang membersihkan tempat tidur sebelum kami semua tidur, dan ia juga yang merapikan tempat tidur setelah kami bangun, termasuk melipatnya hingga rapi dan menumpuk batal-bantal.

Ritual tidur komunal ini sudah berlangsung sejak saya kehilangan kamar saya sejak tiga tahun yang lalu, dan kami harus tidur berdesak-desakan karena pinggul saya cukup besar dan tempat tidur menjadi semakin kecil.
Kadang, masing-masing dari kami memang ingin punya kamar sendiri karena semakin banyak barang-barang dan ruang terlalu sempit. Namun, meski belum bisa terwujud, kami tahu bahwa menikmati tidur bareng yang seru setiap malam kadang juga menjadi anugerah yang mengantar kami dalam mimpi-mimpi indah, untuk punya ruang kami masing-masing, suatu hari kelak.

Kebersamaan seperti inilah yang kadang saya rindukan, saat saya tidur di kamar hotel yang jauh, sendirian, dan dingin.
Ternyata bukan masalah kamar tidur dan segala fasilitasnya, tapi perasaan hangat dan nyaman saat tidur di rumah, meski harus berdesak-desakan setiap malam.

Selamat tidur! :)

4 comments:

  1. dua alinea terakhir,setuju banget,kadang saya tdk habis pikir dg org2 yg begitu mengagungkan privasi.komunal?boleh juga..

    ReplyDelete
  2. komunal,sampai saya es em a,setelah itu kakak2 saya bertebaran di berbagai kota untuk kuliah dan kerja,maka jadilah saya makhluk individual,eh ternyata asik juga.memang manusia adalah makhluk paling adaptatif ya mbak,rame oke,sepi monggo..

    ReplyDelete
  3. iya. memang harus seimbang kok Mas :)
    jadi ya saat komunal ya komunal, saat butuh ruang untuk diri sendiri ya memang harus sendiri...
    hehehe :D sip.nuwun

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...