Thursday, December 2, 2010

Episode Adik #1: Menunggu Dea Mandi


Sebagai anak tertua dari lima bersaudara, saya terkadang merasa penuh sekali saat di rumah. Masing-masing dari adik saya karakternya berbeda-beda. Bayangkan saat kami masih anak-anak, dan memperebutkan sesuatu. Wah, rame sekali seperti sarang tawon kesenggol galah.

Salah satu adik saya yang keempat, namanya Dea, sekarang sedang duduk di kelas 2 di SMA Negeri 6 Yogya. Akhir-akhir ini, ia senang sekali karena baru saja mendapat KTP baru.

Oya, Dea ini adik saya yang agak 'lain'. Ketika kami berempat berkulit sawo matang, Dea berkulit kuning langsat. Ketika kami berempat memiliki mata besar, Dea bermata agak sipit. Bahkan saat dia masih balita, orang-orang di kampung memanggilnya 'kapuk' alias 'kapas'. Dea punya tulang pipi yang menonjol, sesuatu yang kami tidak punyai, apalagi saya yang wajahnya bulat seperti bola.

Nah, Dea ini punya kebiasaan yang bagi kami sekeluarga sangat menjengkelkan, apalagi saat pagi hari: MANDINYA LAMA SEKALI! Wah, coba sampeyan bayangkan! Jam enam pagi adalah jam tersibuk di rumah kecil kami. Saya hendak pergi kuliah, adik saya hendak pergi ke kampusnya yang jauh di Sewon, adik saya yang kecil hendak berangkat ke SD, dan kami semua harus antri mandi.

Dan saat-saat menunggu Dea mandi adalah saat-saat yang menyiksa. Hampir satu jam dia bisa betah di kamar mandi! Tanpa ada nyanyian atau suara-suara yang ramai saat guyuran air menyentuh lantai kamar mandi. Lamaaaaaa sekaliiiii! Kami sekeluarga selalu heran, dan menjadi marah-marah, karena pagi hampir habis dan kami semua harus berangkat untuk belajar. Orangtua saya selalu menyuruh Dea untuk mandi lebih cepat karena banyak yang ingin mandi dan kamar mandi hanya satu, tapi bertahun-tahun Dea selalu melakukan hal yang sama, setiap mandi pagi dan mandi sore.

Pada satu kesempatan, saya mewawancarai Dea karena saya penasaran apa sih yang ia lakukan di kamar mandi, setiap hari, dan menghabiskan waktu 45 menit hingga satu jam 'berkubang' di dalamnya. Perlu sampeyan ketahui, kamar mandi kami sangat sangat sederhana, jadi bukan karena berendam di bath-tub, atau bermain busa di bawah pancuran. Bukan. Itulah sebabnya mengapa ketika saya sering melakukan perjalanan ke luar kota, dan bermalam di hotel, wah, sungguh saya nikmati ritual mandi di bath-tub dengan air panas, atau sekedar bermain-main dengan air di bawah pancuran besar. Jadilah saya terheran-heran dengan Dea, yang selalu berlama-lama di kamar mandi.
Apa ya yang ia lakukan di dalam sana? Karena kami punya kakek di Mojokerto, yang sudah almarhum, yang juga punya kebiasaan yang sama. Awalnya, kami semua mengira, kebiasaan Dea ini diturunkan dari almarhum kakek saya yang mandinya hampir 2 jam setiap hari.

Jadilah saya mewawancarai adik saya yang bernama lengkap Fahreza Amadea Laily ini.

Setelah wawancara yang penuh dengan tawa yang membahana dan mata yang membelalak, saya tahu sekarang mengapa Dea mandi lama, dan apa saja yang ia lakukan di dalam kamar mandi. Jangan kuatir, saya sudah mendapat persetujuan dari adik saya yang centil itu untuk menceritakannya di sini.

Jadi, kuncinya adalah pada angka TIGA.

Bingung? Begini, saat mandi, seperti kita semua, Dea melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan atau yang sampeyan lakukan: menyabun badan, gosok gigi, membasuh badan, mencuci muka, dan seterusnya. Hanya, Dea melakukan semua itu TIGA KALI berturut-turut! Waow! Gila!

Bayangkan hal ini:
Menyabun badan tiga kali, membasuhnya tiga kali, sikat gigi tiga kali, berkumur-kumur tiga kali dikalikan tiga, menyampo rambut tiga kali, membilas rambut tiga kali, mencuci muka tiga kali, membasuh muka tiga kali, dan bahkan saat dia sudah selesai dan hendak pergi ke kamarnya untuk ganti baju, ia menggosokkan kakinya ke keset tiga kali!
Eits, belum berakhir ritualnya! Saat mengeringkan tubuh dengan handuk, adik saya ini perlu waktu 15-20 menit untuk menuntaskannya (benar-benar sangat tuntas, karena setiap lekuk ia keringkan, hingga ke sela-sela jempol kaki!), saat memakai losion untuk tubuh, ia membutuhkan waktu 10 menit untuk melakukannya, dan saat berdandan, ia bisa selesai dalam waktu kurang dari 5 menit saja!

Waow!
Itu semua dilakukan dalam rentang waktu 45 menit hingga 1,5 jam. Coba sampeyan bayangkan! Betapa ributnya suasana pagi di rumah kami saat kami berteriak-teriak memanggil, "Deaaaaa, cepaaaaat!"

Saya lalu bertanya, mengapa tiga kali?
Dea menjawab, saya suka angka tiga.

Saya bertanya lagi, sejak kapan kamu memulai ritual ini?
Dea hanya menggeleng-geleng sambil berpikir keras.
Ternyata, ia sudah memulai kebiasaan ini sejak SD, saat ia sudah bisa mandi sendiri.
Tanpa ia tahu sebabnya mengapa ia mandi lama.

Dan saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

2 comments:

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...