Thursday, December 9, 2010

Epilog Delapan


Saya akhiri tanggal delapan ini dengan sebuah perjalanan yang panjang, dan basah.
Karena hujan sedang turun deras lagi di sini. Tepat di ulu hati saya.
Bukan karena apa-apa, hanya kadang kembali merasakan nikmatnya hujan dalam diri adalah sebuah hal yang sangat melegakan.
Karena, saat berjalan dalam hujan, orang takkan tahu kalau mata kita juga basah.
Dan semalam, saat saya sedang menunggu di halte bis sekitar jam sembilan malam, kaki saya menjadi hidup, seolah mereka ingin saya menuruti kaki-kaki ini, dan bukan sebaliknya.
Dan, memang benar. Tak ada bis yang akan membawa saya pulang ke rumah.
Hanya bis terakhir yang datang, tepat saat jarum jam ungu saya menunjuk ke angka setengah sepuluh,
dan berhenti di depan sebuah stadion di bilangan Kotabaru. Sisanya?
Saya hanya menurut ke mana kaki-kaki saya akan membawa saya.
Hujan memang tidak turun semalam.
Namun, saya seperti melihat diri saya sendiri ditimpa hujan saat saya berjalan menyusuri ruas-ruas jalan yang mulai menggelap dan sepi.
Lampu-lampu kota membuat bayang-bayang memanjang dan menggeliat-geliut.
Saya melewati sepasang pemulung muda yang memunguti sisa-sisa sore.
Mereka menengok ke arah saya sebentar, lalu melanjutkan pekerjaan mereka. Kardus demi kardus, dan plastik demi plastik.
Saya seberangi jalan membundar, dan kaki saya menyuruh saya berlari. Cepat! Cepat!
Sebelum si mata kuning benderang melibas saya dalam sekejap mata.
Saya tiba di sudut-sudut gelap rumah besar yang dijaga seekor anjing berwarna coklat kehitaman.
Saya tidak mau membangunkannya. Kaki saya seperti melayang.
Dan saya tiba di deretan bangunan yang sudah tertutup rapat. Sosoknya yang besar seperti berlindung di balik bayang-bayang lampu tanam yang menyisakan dengung serangga yang menikmati sinar temaram. Udara menggigit.
Saya dekapkan selendang saya ke dada.
Kau harus menyeberang lagi! Kata kaki saya. Dan saya patuh.
Kali ini saya tiba di belokan yang terang, orang-orang malam masih bergerombol, menyeruput gelak dan tawa dari mata mereka yang berair karena kegelian. Entah karena apa.
Saya menunduk. Ada yang sekelebat mampir dalam ingatan saya. Dan menyisakan perih.
Kaki saya mengarah menuju jalan setapak kecil di samping gereja besar peninggalan kolonial. Saya melirik ke dalamnya.
Sepi. Hanya daun-daun yang saling menggesek dan siulan angin di bawah kaki saya yang terdengar.
Kembali, gelap di sudut ini membungkus saya dalam-dalam.
Ah, saya tidak mau menggelap dan mendingin. Dan kaki saya tahu itu.
Diarahkannya saya turun ke jalan yang bercahaya dan menyuruh saya lagi untuk cepat-cepat menyeberangi jalan.
Saya melewati sebuah kedai kopi yang masih asyik masyuk dengan suasana malam.
Saya tersenyum kepada para penjaga parkir.
Mata mereka kaget melihat senyuman dari si orang asing. Dan saya terus berlalu.
Tibalah saya di bawah jalur rel kereta api. Saya mendongak. Jalinan besi silang menyilang menyapa saya dari atas.
Saya mendesah. Teringat ada seseorang yang selalu gemetar dan memilih melaju ketika di bawah rel yang menderu.
Hujan turun lagi tiba-tiba. Hanya saya yang basah.
Orang-orang yang berkerumun di jembatan melihat sungai yang bergolak, tetap kering. Hanya saya yang kuyup.
Dan saya kembali menunduk. Membenahi selendang saya. Dingin kembali menyentuh kuduk.
Saat saya tiba di bawah lampu merah, di sebuah warung yang sekaligus rumah, sekilas saya melihat sepasang kaki.
Milik seorang ibu yang kelelahan karena siang.
Di payudaranya menempel seorang bayi yang terpejam. Dada kecilnya turun naik.
Kakaknya yang masih terjaga cukup sibuk dengan buku pelajarannya.
Saya basah lagi. Kali ini bukan karena sesuatu yang saya bawa dari utara, tapi ada yang menyentak.
Dan saya menelan ludah.
Lagi lagi, saya harus menyeberang. Jalanan masih ramai dan penuh kendaraan.
Saya berjalan di trotoar yang separuhnya telah ditimpa bambu-bambu berisi iklan-iklan yang membuat mual.
Dan, tibalah saya di ruas jalan yang tak pernah tidur di kota ini.
Becak-becak tak lelah menawarkan jasanya.
Dan saya tak lelah menggeleng sopan sambil tersenyum, mboten Pak, nuwun.
Saya melewati banyak hal di ruas ini, orang-orang yang sibuk mendorong kotak besi besar beroda, pemuda-pemuda yang menggandeng pasangannya, perempuan yang merokok, ibu-ibu penjual gudeg yang tersenyum karena lega ada pelanggan baru di lesehannya,
pedagang yang sibuk meneliti laba rugi di sebuah buku kecil bersampul batik merah dan andong-andong yang sejenak membiarkan kudanya beristirahat.
Saya hampir sampai rumah. Hampir.
Saya membelok, dan melihat dua orang nenek renta yang beselimut sarung sedang meringkuk di emperan etalase yang biasanya memajang gaun-gaun ringan yang mengembang. Dan sekarang, malam telah mengubah wajahnya.
Saya menghela napas. Hujan yang mengguyur saya sejak tadi, perlahan berubah menjadi gerimis.
Gerimis yang damai. Yang membuat saya ingin memeluk tubuh-tubuh tua itu dan sekedar memberi nyala.
Saya berjalan dalam diam.
Gerimis masih turun dalam diri saya, dan orang-orang tetap berjalan. Bau bakmi goreng menyelinap.
Berganti-ganti dengan bau pasar yang istirahat dan kepul rokok di cakruk-cakruk tua.
Satu blok lagi, dan saya sampai.
Jalanan mulai lengang di sini. Bersiap untuk bermimpi dan menarik selimut ke dagu.
Dan memadamkan lampu.
...
Selamat malam, gerimis.
Berharap setelah hujan ada pelangi yang muncul, walau malu-malu.
Dan saat tanggal sudah berganti menjadi sembilan,
sebelum selimut saya terlipat,
saya hendak menuliskan satu kata saja,
kepada si pembuat hujan tadi malam:
..mengasihimu...

*untuk Greg Sindana, sembilan-desember*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...