Monday, December 27, 2010

Cerita dari Kampung #2: Sipek, The Lonely Heart Club Band

Masih ingat, saya pernah bercerita tentang Barkah?
Kali ini, saya akan bercerita tentang teman Barkah yang lain, masih dari kampung saya yang padat di barat Malioboro, di balik deretan rumah-rumah berlogo Bakpia Pathuk, atau 'back alley neighborhood' alias komunitas belakang rumah (menurut J. Sullivan), yaitu kampung Ngadiwinatan.

Namanya Sipek.
Begitu orang-orang menyebutnya.
Saya tidak tahu nama aslinya. Semua orang di kampung saya memanggilnya:
s-i-p-e-k. Sipek.

Sejak saya masih balita, Sipek sudah hadir. Ia seperti bayang-bayang yang mengikuti kemana kami melangkah. Kadang ia menjadi bayang-bayang di balik tembok-tembok dingin yang selalu basah saat musim hujan, kadang ia hadir di tengah gang kecil sambil mengawasi orang yang lalu lalang.
Ya, ia ada di mana-mana.


Saya masih ingat, kadang orang-orang tua di kampung selalu menakut-nakuti saya yang masih kecil waktu itu dengan sosoknya yang jangkung dan bercambang. Matanya yang abu-abu selalu mengawasi kemana kaki kecil saya melangkah. Saya sempat takut. Bukan karena apa-apa. Bukan karena ia dianggap gila dan suka membuat onar. Tidak.
Karena ia selalu diam.
Karena ia tak pernah berkata-kata.
Karena ia selalu menatap. Dan diam. Tanpa ekspresi.


Berbeda dengan Barkah, Sipek seorang yang lebih penyendiri.
Rumahnya berjarak tujuh rumah dengan rumah saya. Setiap pagi, kadang saya melihatnya duduk di depan beranda rumahnya, terpekur menatap konblok.
Kali lain saya melihatnya berdiri di bawah tiang lampu yang selalu bergoyang-goyang kalau kita bersender di tiangnya.
Hari berikutnya saya melihat Sipek sedang duduk jongkok di tengah-tengah gang kecil di belakang rumah saya, ya, di tengah-tengah, hingga orang-orang yang lalu lalang selalu kaget karena begitu berbelok, tiba-tiba ada Sipek jangkung yang sedang jongkok di tengah gang.


Kadang saya memikirkan tentang Sipek dalam-dalam.
Seperti beberapa minggu yang lalu, saya mencoba mengorek keterangan dari ibu saya tentang asal muasal Sipek. Tak banyak informasi yang saya dapat. Hanya ada satu kata kunci, ia menjadi sangat pendiam karena ditinggalkan kekasihnya. Tapi, belum tentu cerita ibu saya benar. Kalau sampeyan tinggal di kampung, pasti akan banyak polemik tentang cerita ini dan itu.


Jadilah, memori tentang Sipek yang pendiam itu dalam ingatan ibu saya kadang berbaur dengan fantasi dan fakta. Tak apa.
Saya masih ingat pada suatu hari, ketika keluarga kami sedang berkumpul di rumah nenek saya, yang notabene rumahnya ada di depan rumah saya, tiba-tiba saya terpekik. Ada seraut wajah muncul di balik jendela.
Wajah yang abu-abu dengan misai dan jenggot yang kelabu.
Sipek hadir di balik gelak tawa kami.
Sipek ada di balik tembok kami.
Mungkin ia mendengarkan.
Mungkin ia tersenyum (saya tak pernah melihatnya tersenyum).
Atau mungkin ia tidak peduli.


Pernah juga, Sipek datang tiba-tiba dan masuk ke ruang tamu rumah saya.
Ada ayah saya di sana.
Sipek tak berkata. Ia hanya menempelkan telunjuknya ke mulutnya.
Ayah saya tersenyum lebar, korek?
Lalu ayah saya memberinya korek gas. Entah dari saku mana, Sipek mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya dengan fasih.
Lalu ia pergi begitu saja.
Tanpa kata-kata.


Adik saya selalu lari terbirit-birit kalau melihat Sipek di sekitar rumah saya, di gang sempit belakang rumah atau sekedar lewat sambil merokok.
Masa-masa sekarang, Sipek lebih sering menghabiskan waktu di dalam rumah atau di cakruk depan rumahnya.
Melihat anak-anak muda bermain kartu sampai larut malam.
Atau sekedar berbaring sambil menerawang.


Saat saya browsing di facebook-nya tetangga-tetangga saya di kampung, saya menemukan potret dirinya. Saya terkesiap.
Sungguh, ia menua.
Saya tak menyangka. Saya tak pernah melihatnya dari dekat.
Saya tak tahu kalau rambut dan jengotnya sudah memutih.
Sipek yang ada dalam ingatan saya adalah Sipek yang jangkung, mata yang tajam, mulut terkatup, dan tanpa ekspresi.
Saya terpekur sendirian.


Kadang, saya bertanya-tanya, apakah Sipek pernah berbicara.
Mungkin pernah dengan keluarganya.
Karena ia masih punya keluarga yang sayang kepadanya dan merawatnya.
Tak seperti Barkah yang harus mencari seribu rupiah tiap hari hanya sekedar untuk membeli makanan.


Sipek menjadi sebuah ikon kampung yang khidmat.
Keterdiamannya mengajarkan saya bahwa kadang kata-kata terlalu panjang untuk diucapkan, dan kata-kata menjadi tak berarti lagi jika hanya sekedar kata-kata.
Sipek memberi makna pada sebuah diam.
Diam yang tak pasrah.
Diam yang terus mengolah dan bergolak.
Meski ia tak pernah menunjukkan ekspresi mukanya kepada khalayak.
Sipek mengajarkan kepada saya akan pentingnya menarik diri sejenak, tak menghiraukan bahasa yang campur baur dan silang sengkalit di antara lorong-lorong kampung kami yang padat dengan bau inang atau bekas pipis anak-anak.
Sipek juga membuat sadar, bahwa bumi ini semakin menua.
Walau diam atau bergerak, bumi akan terus bergerak dan bergerak.
Tak ada yang kekal.
Dan saya, sekali lagi, hanya bisa menulis coretan singkat ini, untuk berterimakasih kepada Sipek, yang tak pernah berkata-kata, tapi bisa membuat saya berkata-kata.

Mungkin saya terlalu banyak berkata hari ini.
Sipek, the Lonely Heart Club Band.

2 comments:

  1. sebelum saya melihat foto sang tokoh utama cerita ini,imajinasi saya menggiring saya ke wajah master sulap terkenal,Limbad,hanya saja dalam versi lebih tua,rambut dan jenggot yg memutih,selebihnya sama..

    ReplyDelete
  2. hehehe :) makasih ya Mas Bayu,,dapat salam dari Sipek :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...