Monday, December 27, 2010

Cerita dari Kampung #2: Sipek, The Lonely Heart Club Band

Masih ingat, saya pernah bercerita tentang Barkah?
Kali ini, saya akan bercerita tentang teman Barkah yang lain, masih dari kampung saya yang padat di barat Malioboro, di balik deretan rumah-rumah berlogo Bakpia Pathuk, atau 'back alley neighborhood' alias komunitas belakang rumah (menurut J. Sullivan), yaitu kampung Ngadiwinatan.

Namanya Sipek.
Begitu orang-orang menyebutnya.
Saya tidak tahu nama aslinya. Semua orang di kampung saya memanggilnya:
s-i-p-e-k. Sipek.

Sunday, December 26, 2010

Kora-Kora: Aaaaaaaaaargh!

Selamat Natal!
Kali ini, saya menghabiskan Natal dengan berjalan-jalan ke Sekaten di Alun-Alun Utara yang penuh sesak. Saya membawa serta adik bungsu saya, Wisnu yang memang minta diajak ke Alun-Alun. Tak lupa Greg saya ajak serta.
Setelah parkir di depan warung bajigur langganan kami di dekat Keraton, kami lansung berjalan ke arah wahana permainan.
Sebenarnya kami ingin naik Bombom-Car, namun urung karena ternyata per orang 10 ribu tiketnya. Apa? Wah, mahal. Padahal kami bertiga. Jadilah kami berjalan-jalan saja melewati banyak hal yang berwarna-warni, berkelap-kelip, berpendar-pendar serta riuh rendah suara-suara khas pasar malam.
Kami melewati dremolem, alias ferries-wheel yang penuh dengan teriakan anak-anak kecil.

Saturday, December 25, 2010

Dari Pathuk hingga Nagan

Setiap hari, saya berjalan kaki dari bilangan Pathuk ke area Nagan Lor, dan kali ini saya mengamati sekeliling saya. Ada benda-benda baru yang menarik perhatian saya kali ini.

Friday, December 24, 2010

Nostalgia di Sooko

Kalau sampeyan belum tahu, saya menghabiskan tiga tahun di Mojokerto, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan situs Majapahit-nya. Bapak saya memang asli Mojokerto, walhasil, kadang saya mengimajinasikan bapak saya yang dari bumi Majapahit bertemu dengan ibu saya yang dari Mataram, wah, seru ya. Jadilah saya hibrida dari kedua kerajaan besar itu.
Pengalaman tiga tahun bersekolah 'bukan' di kota pelajar memberikan sebuah pengalaman luar biasa. Merasakan hidup di desa yang tak pernah punya akses buku-buku bagus (harus ke Surabaya kalau hendak beli Tetralogi Buru), tak ada akses bioskop (lagi-lagi harus ke Surabaya hanya untuk sekedar nonton AADC waktu itu), dan akses internet yang mahal sekali (enam ribu perjam waktu itu).
Dan minggu lalu, demi tandatangan pak kepala sekolah SMA saya yang baru di atas ijazah saya yang lama, saya menyempatkan diri melongok SMA saya yang penuh dengan romantisme masa-masa remaja yang penuh gairah.

Thursday, December 23, 2010

Skripsi oh Skripsi

Jadi, begini to yang namanya skripsi?
Ahai! Wadow! Hush! Sssssst!
Saya mengambil mata kuliah THESIS yang artinya adalah skripsi satu setengah tahun yang lalu, dan hari ini, tepat di hari Ibu, saya pontang panting kesana kemari untuk mencari dosen sambil meminta tandatangannya yang berharga.
Saya pikir, itu hanya mitos.
Saya pikir, itu hanya legenda.
Itu adalah:

Tuesday, December 21, 2010

Monday, December 20, 2010

Sepuluh Menit Saja di Istiqlal

Kali ini Antoine mengajak saya ke Masjid Istiqlal, yang katanya terbesar di Asia Tenggara. Kami masuk ke pelatarannya dan mencopot alas kaki, lalu masuk ke dalam. Lantai agak lengket karena banyaknya orang yang lalu lalang dan keluar masuk masjid. Begitu tiba di dalam, kami bertemu dengan seorang laki-laki yang mengaku menjadi pemandu karena Antoine seorang bule. Dia berkata, saya akan ajak Anda berkeliling masjid, sepuluh menit saja.
Kami berpandangan. Sepuluh menit saja? Wah, okelah.
Kami mengikuti mas-mas yang berpakaian rapi itu, lalu mulai masuk ke dalam masjid. Ini pertama kalinya saya pergi ke Istiqlal, jadi saya cerap sebanyak-banyaknya rasa yang menggaung dan bergema di sudut-sudut pilar masjid.

Sunday, December 19, 2010

Lingga Monas

Masih dalam pengembaraan saya di Jakarta dengan Antoine, romo Katolik dari Perancis yang saya paksa untuk mampir ke Monas, yang menurut dia less-interesting. He-he-he. Jadilah saya pergi ke Tugu Monas untuk pertama kalinya dalam hidup saya! Sekedar ingin tahu agar ada sesuatu yang bisa dirasakan, diceritakan, dibagikan dan dikenang.
Satu kesan pertama tentang Tugu Monas adalah jauuuuuh.
Perjalanan dari Masjid Istiqlal sih tidak jauh, tapi kompleksnya yang luas membuat saya kelaparan. Kata Antoine, lihat invani, pelataran Tugu Monas yang luas ini sepi dan kosong, padahal di bawah jembatan dan tepi Sungai Ciliwung banyak orang berdesakan karena tak punya lahan untuk tempat tinggal. Lihat betapa kontrasnya ibukotamu!
Saya nyengir.

Kuli-kuli Sunda Kelapa

Saat saya mampir ke Jakarta beberapa waktu lalu, saya sempat menyambangi Sunda Kelapa. Sebuah pelabuhan yang tidak asing di telinga saya karena sudah diulang-ulang sejak SD dalam pelajaran Sejarah.
Saya pergi ke Sunda Kelapa dengan teman bule saya dari Perancis, Antoine, seorang romo Katolik yang sangat tertarik sekali dengan budaya Indonesia. Kami naik taksi dari Cengkareng, lalu turun di seputaran Harmoni, dan berjalan kaki sampai Sunda Kelapa.Sore yang mendung.

Friday, December 17, 2010

Mesin-mesin di Balik Kemudi

Pak Nahkoda.
Masih melanjutkan cerita saya saat pertama kali naik kapal menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk, saya akhirnya bisa masuk juga ke ruang nahkoda, tempat si juru mudi kapal mengemudikan kapal yang saya tumpangi. Awalnya, saya hanya iseng-iseng saja motret-motret, hingga ada laki-laki yang dengan ramah menyilakan saya masuk ke ruang kemudi. 
Waaah, baru kali ini saya masuk ke dalam ruangan yang ajaib ini. Ya, ajaib, karena saya ndak tahu sama sekali apa ini apa itu. Saya ngobrol sebentar dengan pak nahkoda, tentang 'ini apa pak', 'kalau itu apa pak namanya' dan 'oh, gitu to caranya,' tapi ya saya sudah lupa lagi sekarang. Jadi saya potret saja yang banyak supaya suatu saat saya ingat. Mangga dipunpirsani.

Thursday, December 16, 2010

Tebuireng, Gus Dur dan Jilbab Jingga

Hari ini saya diajak paman saya untuk menengok atau bahasa Jawa Timurnya, nyambangi sepupu saya, Anis, yang mondok di pondok pesantren di Jombang. Sudah hampir seminggu saya memang menyepi di rumah nenek saya di Mojokerto. Dan sore ini saya bertolak menuju Jombang, ke sebuah daerah bernama Diwek, Cukir, dekat Pondok Pesantren Tebuireng, tempat dimana Gus Dur dimakamkan. Wah, saya sudah tidak sabar. Saya memang berniat untuk ziarah ke makam Gus Dur.
Dan ketika paman saya sudah bersiap-siap hendak berangkat, mbah putri saya bilang, eh, lapo koen gak athik jilbab?

Kenapa saya tak pakai jilbab? Ya saya kan memang tak berjilbab.
Ternyata, usut punya usut, kalau kita ke pondok, memang harus berjilbab. Ya.

Wednesday, December 15, 2010

Terombang-ambing di Laut

Kalau kemarin saya sudah cerita tentang terombang-ambing di udara dan di darat, sekarang saya akan menceritakan pengalaman saya terombang-ambing di laut. Wah, episode tiga hari ini memang harus lengkap: episode terombang-ambing. Dan kali ini saya akan bercerita pengalaman pertama saya saat saya naik kapal. Walaupun hanya menyeberang selat kecil yang memisahkan Jawa dan Bali, tapi benar-benar sebuah pengalaman.

Terombang-ambing di Darat

Kalau sebelumnya saya bercerita tentang terombang-ambing di udara dalam perjalanan saya dari Bali menuju Jogja, kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana saya terombang-ambing di darat. Saya sampai heran sendiri, kok sepertinya perjalanan saya ke Bali kali ini susah sekali. Berangkatnya susah, pulangnya juga susah. Berangkatnya penuh perjuangan, pulangnya juga penuh perjuangan. Untung saja saya termasuk orang yang tahan menderita. He-he.
Jadi, saya seharusnya berangkat pagi-pagi naik Mandala dengan tujuan Denpasar. Namun, pagi sebelum saya berangkat, saya di-sms Mandala bahwa penerbangan tidak dibatalkan tapi dialihkan ke Semarang. Wah.
Saya putar otak. Jam penerbangan tetap. Jam 7 pagi. Tapi dari Ahmad Yani, Semarang. Dan berarti saya harus menginap. Dan berangkat dari Jogja sore itu juga. Wah. Saya ber-wah-wah sendirian.

Tuesday, December 14, 2010

Terombang-ambing di Udara

Ada yang menarik saat saya hendak pulang ke Jogja dari Bali.
Masih dalam masa-masa saat Merapi masih aktif, dan banyak penerbangan yang ditunda, atau bahkan dibatalkan. Dalam jadwal tiket saya hari itu, seharusnya saya pulang ke Jogja naik Garuda malam hari, sekitar jam 8 WITA. Sehari sebelumnya, saya ditelpon pihak Garuda yang membatalkan penerbangan ke Jogja karena abu vulkanik masih mengganggu penerbangan. Okelah. Jadilah saya manut dengan Mbak Dyah, dari Solo, yang mengajak saya untuk bersama-sama naik Lion Air. Dengan jadwal pukul 12 siang bertolak dari Ngurah Rai, lalu transit dulu di Jakarta, baru ke Adi Sumarmo, Solo. Rencananya saya akan naik kereta api Prambanan Ekspress, alias Prameks begitu saya sampai di Solo.
Dan tanpa firasat apa-apa, saya berangkat dengan Mbak Dyah.
Kami tiba di Ngurah Rai hampir pukul 12 dan berlari-lari ke kounter Lion untuk check-in. Dan ternyata, pesawat ditunda. Pukul 2 siang, pesawat baru datang. Jadi kami menunggu dua jam, mengobrol, dan kelaparan.

Sunday, December 12, 2010

Sepotong Waktu di Prambanan Ekspress

Petualangan sore ini berakhir. Sandal jepit dan sepatu butut harus pulang ke rumah.
Kaki-kaki yang letih. Tertumpu di pergelangan. Dan mencoba untuk tidur.

Saturday, December 11, 2010

Segarnya Sore di Ngarsopuro

Karena Pasar Triwindu alias Windujenar sudah tutup, kami memutuskan untuk berjalan-jalan saja di sepanjang Jalan Ngarsopuro, Solo.
Wah, segar sekali sore itu!
Hawanya enak sekali. Nyaman.
Dan suasananya Solo banget.
Hampir mirip atmosfer Jogja, tapi agak lengang. Kapan ya, Jogja punya ruang publik seperti ini? Yang sewaktu-waktu mobil-mobil tak boleh lewat, hanya ada pertunjukan wayang kulit atau ketoprak yang dikeraskan suaranya lewat speaker-speaker yang ditanam di dasar tiang-tiang lampu. Sementara berbagai patung menghiasi pinggir jalan yang ditata apik. Pedagang es dawet tampak hilir mudik sambil menanti pembeli. Dan ketika saya melihat ke atas, wah, saya suka dengan lampu kota ini! Indah sekali dengan sangkar burung dari bambu.
Ngarsopuro, saya kira, saya jatuh cinta kepadamu.

Friday, December 10, 2010

Merekam Jejak Sejarah Barang di Pasar Triwindu

Sore itu, saya dan Greg yang sedang ke Solo naik Banyubiru sempat tidak tahu tujuan hendak pergi ke mana karena memang kali ini benar-benar jalan-jalan spontan.
Jadi, begitu kaki kami menginjak lantai Stasiun Balapan dan tiba di parkiran belakangnya yang penuh dengan tukang becak, tiba-tiba saya baru ingat kalau di Solo ada pasar barang antik yang cukup terkenal, meski saya tak tahu namanya. Dan akhirnya kami naik becak ke pasar 'terwindu', yang menurut pak becak, semua barang antik ada di sana. Dan dia berkali-kali meyakinkan kalau 'masih buka, mbak, masih buka'. Saya lirik jam digital di hape saya, hmm, hampir jam lima, dan saya berharap, pasar 'terwindu' masih membuka dirinya untuk kami sore itu.

Thursday, December 9, 2010

Epilog Delapan


Saya akhiri tanggal delapan ini dengan sebuah perjalanan yang panjang, dan basah.
Karena hujan sedang turun deras lagi di sini. Tepat di ulu hati saya.
Bukan karena apa-apa, hanya kadang kembali merasakan nikmatnya hujan dalam diri adalah sebuah hal yang sangat melegakan.
Karena, saat berjalan dalam hujan, orang takkan tahu kalau mata kita juga basah.
Dan semalam, saat saya sedang menunggu di halte bis sekitar jam sembilan malam, kaki saya menjadi hidup, seolah mereka ingin saya menuruti kaki-kaki ini, dan bukan sebaliknya.
Dan, memang benar. Tak ada bis yang akan membawa saya pulang ke rumah.
Hanya bis terakhir yang datang, tepat saat jarum jam ungu saya menunjuk ke angka setengah sepuluh,
dan berhenti di depan sebuah stadion di bilangan Kotabaru. Sisanya?
Saya hanya menurut ke mana kaki-kaki saya akan membawa saya.

Wednesday, December 8, 2010

Ke Solo Naik Si Banyubiru!

Jumat sore itu, saya ajak Greg untuk ke Bandara untuk me-refund tiket Garuda saya yang batal karena abu Merapi. Setelah selesai, tiba-tiba saja ide spontan untuk berjalan-jalan tercetus gara-gara kami melihat ada stasiun di dekat bandara.
Langsung saja kami berjalan ke arah rel kereta, dan menyusuri rel kereta api yang penuh dengan kerikil berwarna kayu manis. Hampir saja kami terhempas karena ada kereta lewat, wah, agak susah ya, pikir saya untuk ke stasiun ini. Kami lalu menyeberang untuk pesan tiket ke Solo.
Tiba di dekat loket, saya tertawa terbahak-bahak. Ternyata, ada jalan kecil di sebelah parkiran bandara yang langsung menuju loket kereta. Wah, ngapain tadi kami mlipir-mlipir lewat rel dan berteriak-teriak saat ada kereta lewat? Ha-ha-ha.

Mampir di Omah Sinten

Kali ini kami mampir makan malam di Omah Sinten, kawasan Ngarsopuro, depan Kraton Mangkunegaran, Solo setelah jalan-jalan sejenak ke Pasar Triwindu untuk berburu barang antik. Greg dan saya segera memilih tempat dan membaca daftar menu.
Wah, lumayan mahal juga, pikir saya. Mencoba satu kali saja, tentunya dibolehkan kan? Sekedar mengecap suasana senja di Solo dan merasa apa yang ditangkap indra.

Monday, December 6, 2010

Warna. Perjalanan. Lensa

Saya suka kuning. Begitu sensual. Dan kadang membuat bergairah.
Lokasi: Legian, Kuta, Bali, Indonesia (2009)

Merah jambu dan biru membuat jiwa saya menjadi kanak-kanak kembali. Mengendarai karusel dan menghentak-hentak.
Lokasi: Legian, Kuta, Bali, Indonesia (2009)

Sunday, December 5, 2010

Sesuap Sore di Jimbaran

Saat ke Bali awal November kemarin, saya dan teman-teman penerima Prakarsa Kota Lestari mampir ke Pantai Jimbaran untuk merasakan bagaimana rasanya makan malam di sepanjang pantai, yang konon katanya sambil memandang matahari terbenam di pesisir Bali.

Jadilah kami bersama-sama berangkat, dan ternyata setelah sampai di pantai, mendung bergayut di atas laut. Wah,sepertinya tidak akan ada matahari terbenam di Jimbaran sore ini. Jadi ya kami putuskan untuk menunggu saja. Teman-teman saya yang kebanyakan sudah berkeluarga itu sedang asyik berfoto-foto ria, saya memilih untuk berjalan-jalan di pantai yang masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang bermain air, dan sisanya bermalas-malasan di atas handuk pantai.

Saturday, December 4, 2010

Kereta dan Saya

Saya suka kereta api.
Sejak kecil, saya selalu suka kereta api.
Konon kata Ibu saya, saat saya masih berumur tiga bulan, orangtua saya sudah membawa saya bepergian naik kereta api ke Mojokerto, tempat nenek saya tinggal. Tentu saja dengan kereta api ekonomi.
Dan saat-saat liburan sekolah adalah waktu yang paling saya nantikan, karena kami akan pergi ke rumah nenek dengan kereta api. Saya masih ingat suara lengking peluit saat kereta hendak diberangkatkan, suara pengumuman yang membahana, suara dentang bel yang memenuhi telinga, lalu suara mesin lokomotif yang melaju.
Tut tut! Jes jes kook!

Friday, December 3, 2010

Gegar Hotel

Entah mengapa, November lalu adalah bulan dimana saya harus banyak melakukan perjalanan dan tentu saja harus menginap di berbagai hotel.

Satu yang kadang saya sukai dari menginap di hotel adalah sepreinya yang bersih dan tempat tidurnya yang empuk dan nyaman, sesuatu yang tidak saya dapatkan di rumah.
Hal lain yang saya suka adalah di hotel bisa mandi lama, dengan pancuran air panas atau berendam di dalam bath-tub. Lagi-lagi, hal yang tak bisa saya dapatkan di rumah.

Thursday, December 2, 2010

Kadang Saya Tak Suka Pantai...

Awal November kemarin, saya harus ke Bali karena saya menang sayembara. Saat saya mendarat di Ngurah Rai, sambutan yang saya dapat adalah hujan deras. Teman baik saya, Prima, yang sudah menikah di Bali sempat bilang kalau saya bisa mampir ke studio suaminya yang seorang pentato. Saya lalu sampai ke Kuta setelah keblasuk-blasuk karena saya disorientasi arah. Jalanan banjir dan sepatu saya basah kuyup.

Episode Adik #2: Ssst, Jangan Berisik!


Pada episode sebelumnya, saya bercerita tentang adik saya, Dea yang mandinya lama, nah kali ini saya akan bercerita tentang adik saya yang lain, yang bernama Nunna, yang sedang menjadi mahasiswa Kriya Tekstil, ISI.
Kalau Dea punya cerita tentang ritual mandi, Nunna punya cerita tentang tidur.

Jadi, adik saya yang bernama lengkap Nurina Rizky Savitri yang kata orang mirip saya ini, sangat tidak suka berisik-berisik di malam hari.
Kami bertiga, saya-Nunna-Dea, memang tidur dalam satu kamar, dan dalam satu tempat tidur yang sekarang sudah tidak cukup lagi untuk menampung kami bertiga yang sedang tumbuh. Jadi, bayangkan, kami bertiga tidur seperti ikan teri berjejer, saya tidur di tengah-tengah diapit Nunna di sebelah kanan saya, dan Dea di sebelah kiri saya.

Episode Adik #1: Menunggu Dea Mandi


Sebagai anak tertua dari lima bersaudara, saya terkadang merasa penuh sekali saat di rumah. Masing-masing dari adik saya karakternya berbeda-beda. Bayangkan saat kami masih anak-anak, dan memperebutkan sesuatu. Wah, rame sekali seperti sarang tawon kesenggol galah.

Salah satu adik saya yang keempat, namanya Dea, sekarang sedang duduk di kelas 2 di SMA Negeri 6 Yogya. Akhir-akhir ini, ia senang sekali karena baru saja mendapat KTP baru.

Oya, Dea ini adik saya yang agak 'lain'. Ketika kami berempat berkulit sawo matang, Dea berkulit kuning langsat. Ketika kami berempat memiliki mata besar, Dea bermata agak sipit. Bahkan saat dia masih balita, orang-orang di kampung memanggilnya 'kapuk' alias 'kapas'. Dea punya tulang pipi yang menonjol, sesuatu yang kami tidak punyai, apalagi saya yang wajahnya bulat seperti bola.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...