Wednesday, November 17, 2010

Tentang Rumah

Saya tercenung ketika melihat gambar rumah teman karib saya, Muhamad, yang rata dengan tanah karena terkena muntahan Merapi beberapa waktu lalu. Saya masih ingat dengan jelas ruang-ruang yang pernah saya masuki saat kami dulu sering berkumpul bersama dengan teman-teman Orong-Orong. Di kamarnya yang bersih dan sederhana, di ruang tamunya yang lantainya dingin sekali, dan terutama di terasnya yang hijau dan segar. Bahkan dulu kami sempat berencana untuk berkemah di halaman depan rumah Muhamad yang asri itu. Beberapa menit yang lalu, saat saya mengamati gambarnya sekali lagi, semua berubah menjadi abu-abu. Dingin. Yang tersisa hanya lubang pintu rumah yang (seingat saya) menghubungkan rumah induk dengan pekarangan belakang.

Jadilah saya menulis tulisan pendek ini: tentang rumah.

Saya sedikit banyak bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan rumah, atau dalam keadaan tidak punya rumah. Bukan karena bencana alam, memang. Namun, 'rasa' saat perasaan memiliki rumah itu tercerabut dari diri pernah saya rasakan.

Keluarga saya sampai sekarang belum punya rumah sendiri.
Kami masih mengontrak di perkampungan padat di barat Malioboro. Hingga kini. Dulu, saya mengalami bagaimana kami berpindah-pindah dari kampung satu ke kampung yang lain. Dengan lima orang anak yang ditanggung, membuat acara pindahan seperti boyongan besar-besaran.

Saya masih ingat, saat saya masih dua atau tiga tahun, keluarga kami masih tinggal dengan nenek saya. Jadi saya masih ingat sekilas lorong-lorong rumah nenek atau rasa saat saya digendong oleh para famili.

Saat saya masuk teka, kira-kira umur lima tahun, keluarga kami pindah ke kampung di seputaran Jalan Ahmad Dahlan. Saya masih ingat, rumah yang besar dengan pekarangan yang luas, pohon pepaya di halaman, pohon pare berbunga kuning yang merambat di atap bambu di samping rumah, tempat saya biasa mandi sambil takut-takut kalau-kalau ulat pare yang gendut itu jatuh ke kepala saya. Saya juga masih ingat dengan pagar bambu yang sudah menghitam yang melingkari pekarangan rumah, tempat saya dan anak-anak tetangga bermain engklek atau membuat rumah-rumahan dari tanah basah selepas hujan. Sungguh rumah yang sampai sekarang masih sering muncul dalam mimpi-mimpi saya.

Saat saya hendak naik kelas empat esde, tiba-tiba datanglah bencana itu.
Saya melihat dengan jelas saat si pemilik rumah datang dan bersuara keras menyuruh keluarga saya pindah karena sesuatu hal. Saya masih belum ingat, apakah karena uang sewa rumah nunggak atau karena apa. Jadilah kami boyongan lagi, pindah ke rumah nenek saya lagi dan umpel-umpelan dengan keluarga besar. Banyak hal yang terjadi saat kami tinggal dan berbagi atap dan ruang dengan keluarga besar. Hingga pada saat saya hendak masuk es-em-pe, kami pindah lagi ke sebuah rumah yang sangat sederhana, di depan rumah nenek saya. Mengontrak.

Sampai sekarang.

Sungguh, rumah bagi saya juga sesuatu yang masih saya idam-idamkan, masih saya cari-cari, masih dalam sebuah proses menjadi, dan tetap menjadi sebuah perjalanan panjang untuk menemukan dan ditemukan. Karena rumah selayaknya seorang ibu, yang memberi rasa nyaman dan terlindung, dan bisa tertidur sejenak dengan tenang meski beralas tikar dan tanpa bantal. Jika seorang ibu pergi dari diri kita, sebagaimana rumah yang tercerabut, saya tahu bagaimana rasanya.

Saya tahu bagaimana rasanya.

***

Untuk teman karib saya, Muhamad Hidayat...

2 comments:

  1. Bukan sebuah rumah, tapi tempat dimana kita bisa menikmati dimana kita berdiri saat ini.

    With Love tonight

    ReplyDelete
  2. :) iya Gun, "a home" dan bukan "a house"

    maturnuwun :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...