Tuesday, November 2, 2010

Sejarah Airmata

Pernahkah sampeyan merasakan jantung yang berdesir saat bibir terkatup rapat dan diam-diam airmata mengalir?

Saya pernah.

Dan airmata saya semalam mengalir, pelan, tidak usah terlalu deras.
Saya kalau menangis selalu diam-diam.
Tanpa suara.
Dan katanya, itu yang paling sakit.

Mungkin iya, mungkin juga tidak.
Saya sering menangis diam-diam di kamar mandi karena di kamar mandi banyak air.
Saya merasa nyaman saat mempertemukan airmata saya dengan jutaan tetes air di kamar mandi.
Saat mereka bertemu, saya merasa lega.
Seperti menyerahkan anak ayam ke induknya.

Saya ingin tahu, kenapa saat menangis saya tak bersuara.
Dan saya ingin tahu kenapa airmata saya terasa lezat.
Ternyata, ada tiga jenis airmata.
Satu, airmata fundamental, yang membasahi mata tanpa disuruh.
Dua, airmata refleks, yang keluar saat kita mengiris bawang atau sedang menguap.
Tiga, airmata emosional, yang menetes saat kita sedang sakit, tertekan, atau berduka.
Dan ternyata kandungan kimiawi dalam airmata ketiga ini mengandung banyak hormon berbasis protein seperti prolactin (protein yang keluar saat menyusui), hormon adrenocorticotropic (yang merespon tekanan biologis) dan leucine enkephalin (si pembunuh rasa sakit alami).

Saya baru tahu.
Ternyata saya akan lega setelah menangis karena si airmata mengandung pembunuh rasa sakit alamiah.
Si airmata lah yang membunuh rasa sakit saya pelan-pelan.
Dan dengan diam-diam.

Dan kenapa saya menangis diam-diam?
Dan kenapa saya menangis?
Dan kenapa saya?
Dan kenapa?

Saya mungkin sedang membersihkan diri saya.
Karena menangis juga katarsis.
Seperti Merapi yang juga sedang katarsis.
Ingin memuntahkan uneg-unegnya, meski lewat abu vulkanik dan awan panas.
Sedangkan saya, lewat tangisan diam-diam sepanjang malam. Hanya air. Dan mata.

Saya sedang merasakan nikmatnya menangis diam-diam.
Kata Victor Hugo, dia yang tidak menangis, tidak melihat.
Dan saya menangis karena saya sedang ingin menangis.
Saya sedang membuat hujan.
Yang saya tak tahu, sampai kapan hujan ini berhenti.
Yang saya tahu, setelah hujan reda, tanah akan berbau harum, dan langit akan bersih, seperti dicuci.

Saya menjadi hujan.
Saya menjadi airmata.
Dan saya menikmatinya.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...