Tuesday, November 2, 2010

Saya dan Sepatu Butut

Inilah kisah saya dan sepatu butut saya yang menemani saya keliling kota Bandung dan Jakarta...



Berjalan hanya berbekal peta Bandung dari sebuah buku semacam Lonely Planet terbitan Perancis, inilah saya dan sepatu butut saya di atas Jalan Braga alias Braga Weg. Jalan yang kondang di Bandung dengan deretan toko-toko berarsitektur kolonial, dan lampu jalannya yang unik.Inilah kali pertama saya dan sepatu butut saya menginjakkan kaki di bumi Bandung.



Masih di Braga Weg, di depan sebuah bangunan besar bertegel putih. Braga Weg dulu sempat mendapat julukan De meest Eropeesche winkelstraat van Indie atau kompleks pertokoan yang paling terkemuka di Hindia Belanda. Dan saya sedang berdiri di atas tegelnya.


Dan inilah lantai di dalam lift Masjid Raya Bandung yang membawa saya ke lantai 19 dan membumbung tinggi ke atas, pada salah satu minaretnya yang menjulang di langit kota Bandung. Dari lantai 19, saya dapat melihat sepenjuru kota Bandung dengan lanskapnya dan langit mendungnya. Tentu saja sepatu butut saya harus dititipkan. Ssst, ini masjid lho! Jangan lupa.


Inilah saya di atas lantai hotel Naripan, tempat saya menginap di Bandung. Hotel yang di depan pintunya ada tulisan Wilujeng Sumping, hotel yang membiarkan saya menunggu 12 jam hanya demi sebuah kamar, hotel yang membuat saya bingung mandi, karena kran air panasnya sangat panas dan menyembur tiba-tiba, hotel yang membuat saya merasa jauh dan merindu dengan pacar saya yang ada di Jogja...


Sepatu butut saya di atas lantai Museum Konperensi (yak! konperensi, bukan konferensi) Asia Afrika, tempat saya menghabiskan waktu dengan delegasi-delegasi dari benua Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. Saya sempat takjub dengan pidato-pidato Soekarno yang menggugah kebangsaan saya sebagai orang Indonesia. Hebat!

*bersambung*


No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...