Wednesday, November 3, 2010

Saya dan Sepatu Butut (lagi)

Masih berkelana di Bandung, saya dan sepatu butut saya melanjutkan perjalanan ini. Menyusuri jalanan kota Bandung, kemudian dilanjut ke Jakarta.

 Inilah keramik di depan Gedung Sociteit Concordia, yang sekarang berubah menjadi Museum Konperensi (bukan Konferensi) Asia Afrika. Gedung yang megah dengan balkon yang ditutup untuk pengunjung umum. Gedung yang penuh dengan bendera-bendera negara tetangga.

Sebelum Gedung Asia Afrika, ada sebuah gedung yang dulunya adalah bioskop dan sekarang menjadi restoran elit, dengan nama yang sama, yaitu Majestic. Banyak genangan air di depan gedungnya karena Bandung selalu hujan saat sore hari, jadi sepatu butut saya bergelimang lumpur dan lembab di telapak.

Sudah tiba di Jakarta, tepatnya di gedung NAM (Non-Aligned Movement) Center, Kemayoran, daerah bekas lapangan udara. Gedungnya besar sekali dan kamar saya kuncinya sangat moderen, memakai semacam kartu ATM yang dimasukkan ke sebuah kotak elektronik di dekat handel pintu. Saya sempat berdiri di depan pintu kamar setengah jam karena tak tahu harus berbuat apa.

Saya suka dengan tekstur keset selamat datang ini, yang terhampar di depan pintu kaca gedung NAM Center yang otomatis membuka kalau ada orang ingin masuk. Meski terlihat biasa, tapi saya salut sekali dengan keberadaan keset merah marun ini. Berapa banyak kaki yang melintas di atasnya ya? Kalau ia punya mata, pasti ia bisa melihat warna celana dalam para tante-tante kaya yang selalu datang dengan rok satin mereka yang bergelambir.

Sepatu butut saya ada di dalam tas punggung saya, karena saya sedang di atas lantai Masjid Istiqlal. Ini juga kali pertama saya menginjakkan kaki ke masjid yang katanya terbesar se-Asia Tenggara itu. Lantainya dingin, dan si guide yang memandu tur masjid hanya memberikan waktu 10 menit saja untuk berkeliling di dalam masjid raya ini.
Salah satu foto (kaki) favorit saya. Kali ini di pelataran dalam Masjid Istiqlal, yang kata guide-nya, sayang sekali si arsitek masjid megah ini adalah orang Nasrani. Saya hanya tersenyum. Mendengarkan si guide bercerita tentang tinggi minaret yang 6666 cm seperti jumlah ayat di Al-Qur'an. Dan mendengarnya mengeluh, mengapa malah orang Nasrani yang tahu jumlah ayat di dalam Al Qur'an. Saya tersenyum lagi.

Di depan Masjid Istiqlal ada Katedral Santa Maria. Dan inilah ubin di depan pintu masuk gereja. Kebetulan ada misa pernikahan di dalam, dan saya sempat menonton. Menunggu-nunggu sang pengantin, penasaran pengen tahu seperti apa cantiknya, karena katedral ini cantik sekali. Dan kemudian, datanglah ia, dalam balutan gaun pengantin putih, berukuran XLL.

Di pelataran parkir Katedral Santa Maria, saya melihat seorang perempuan cantik, muda, seksi, dengan gaun putih ketat, mini, di atas lutut, dengan sepatu hak tinggi, gaunnya cukup unik dengan lobang di pinggang, hingga celana dalam hitamnya menyembul. Pantatnya melenggok saat melewati saya dan sepatu butut saya. Saya menelan ludah.

Ubin di trotoar Jakarta. Saya berjalan dari Katedral menuju Lapangan Merdeka, Tugu Monas. Saya melewati Lapangan Banteng yang berubah jadi lapangan sepakbola, mengingat dulu Bung Karno pernah berpidato di sini, menyulut api kebangsaan para pemuda. Tak ada yang tersisa. Hanya sedikit sampah beterbangan, dan logo sebuah minuman energi.

Pertama kalinya saya ke Monas, dan antri satu jam, demi naik ke atas tugunya. Saya sempat gerah karena sekali naik, lift dalam Tugu Monas hanya mampu mengangkut 11 orang saja padahal yang mengantri ratusan. Inilah ubin di lantai paling puncak Tugu Monas, yang sering dianggap falusnya Bung Karno. Anginnya kencang di atas sini dan rok saya melembung, membalon.

  Saya suka dengan tegel di pelataran Tugu Monas ini. Langit mendung hari ini, dan saya masih harus melanjutkan perjalanan ke Batavia, mengunjungi Fatahillah, dan melihat perahu di Sunda Kelapa. Tentang taman di Merdeka Square ini, saya cukup heran dengan banyaknya patung berbentuk bunga bangkai, Rafflesia arnoldi yang bertebaran di kaki Monas. Pikir saya, banyak sekali simbol lingga dan yoni di sini. Kenapa ya?

Sampailah saya di Sunda Kelapa. Pelabuhan yang hiruk pikuk dengan para pelaut. Saya ngobrol dengan Pak Mande, pelaut yang sudah 19 tahun melaut di perairan Sunda Kelapa. Sebuah potret realitas yang menarik saya tangkap di sini, dengan seluruh mekanisme buruh dan kuli, truk-truk besar mengangkut semen, dan mbak jamu yang tersipu-sipu karena disuiti para lelaki setiap satu meter. Sungguh, saya ingin memotret lagi, tapi baterai kamera saya habis. Ya sudah.

2 comments:

  1. Kali ini di pelataran dalam Masjid Istiqlal, yang kata guide-nya, sayang sekali si arsitek masjid megah ini adalah orang Nasrani. Saya hanya tersenyum. Mendengarkan si guide bercerita tentang tinggi minaret yang 6666 cm seperti jumlah ayat di Al-Qur'an. Dan mendengarnya mengeluh, mengapa malah orang Nasrani yang tahu jumlah ayat di dalam Al Qur'an. Saya tersenyum lagi.


    nunut mesem juga mbak :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...