Friday, November 12, 2010

Mencoba Sarikaya di Pecinan

Jalan-jalan yang cukup membuat kaki saya pegal mendorong saya untuk mencari jajanan yang cukup bisa mengenyangkan perut dan membasahi kerongkongan. Setelah muter-muter Braga dan menyusuri jalanan Bandung sambil motret-motret, saya masuk ke jalan Pecinan yang isinya full jualan. Apa saja ada di jalan ini. Saya lupa namanya. Pasar Baru ya? Hmm, nanti saya cek lagi.

Di jalan ini masih banyak terselip bangunan-bangunan lawas yang mengingatkan saya pada sebuah sudut di Kota Lama, Semarang. Beserta dengan hiruk pikuk suasana pasarnya. Jangan bayangkan Pecinan dengan atribut merahnya. Bukan, di sini gang-gang sempit niaganya seperti jalanan di belakang Pasar Beringharjo Yogyakarta, semacam jalan Gandekan Lor, dan sejenisnya, tapi lebih padat dan merayap. Dan tentu saja, saya masih mencari-cari tempat yang enak untuk sekedar menempelkan pantat di kursi.
Setelah berjalan keluar masuk gang dan menghindari mobil-mobil yang lalu lalang karena jalanannya cukup sempit, saya menemukan sebuah kafe yang cukup unik. Namanya "warung kopi PURNAMA". Tempat nongkrong yang saat saya melongok ke dalam isinya cina semua, dan penuh sekali. Arsitektur dalam kafe mungil itu masih tempo doeloe. Dengan lampu-lampu bundar yang menggantung rendah dan foto-foto kenangan jalanan Bandung masa lalu. Kursi-kursinya juga masih lawas, dan kebanyakan yang datang sudah berumur, saya jarang melihat muda-mudi seperti saya.
Saya melirik ke arah pasangan cina yang sedang memesan semacam pai apel, dan spontan saya bilang, saya mau ini ya mbak, dan ketika makanan itu datang, waaaah, saya terkejut! Ternyata bukan pai apel, sodara-sodara!

Sampeyan tahu apa itu?

Roti dengan ham dan keju.

Kalau dalam bahasa belandanya adalah brood met kas en ham. Saya juga memesan jus stroberi yang enaaak sekali. Beda dengan jus-jus yang lain, segar dan stroberinya banyaaaak! Jadinya, saya sisihkan ham-nya, karena saya tak makan daging dari hewan berkaki empat, jadi saya makan rotinya, kejunya, dan timunnya. Sarapan yang sangat kolonial, pikir saya.

Jadi saya teruskan sarapan saya yang bergaya itu dengan membaca-baca menu, dan saya menemukan roti sarikaya. Wah, perlu dicoba ini.
 

Jadi saya menunggu roti sarikaya tadi, yang katanya jadi andalan, dan menemukan bahwa roti sarikaya adalah roti dengan SELAI sarikaya. Walah! Saya merasa tertipu. Harganya lumayan mahal untuk roti se-biasa ini, pikir saya. Dan saya makan roti sarikaya itu dengan sulit, karena ingat tagihan. Ha-ha! Sampeyan pernah merasakan kan, bagaimana nggak enaknya menelan makanan, saat tahu harganya mahal padahal sudah terlanjur pesan, dan ternyata tidak begitu enak. Jadi dengan susah payah saya habiskan roti sarikaya yang 'kaya rasa' itu. Ya, benar-benar 'kaya rasa': rasa bersalah karena memesan, rasa bangga karena memesan yang paling mahal, rasa was was karena ingat uang di dompet, dan rasa penuh di perut karena saya makan terlalu banyak!

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...