Friday, November 12, 2010

Dan Sepatu Butut Itu Masih Terus Berjalan...

Setelah perjalanan si sepatu butut ke Bandung dan Jakarta, sang sepatu butut ternyata masih keras kepala untuk terus menemani saya ke Solo, Semarang, Bali, Jakarta, dan mampir sebentar ke Surabaya, lalu balik lagi ke Solo, baru bisa pulang ke Jogja. Wah, kok bisa?

Semua bermula saat saya memenangkan sayembara Prakarsa Kota Lestari dan saya harus ke Bali untuk presentasi tentang proposal saya yang berjudul, Aku Bangga jadi Anak Kampung. Dimulailah perjuangan saya dan si sepatu butut karena penerbangan yang semula akan bertolak dari Jogja tiba-tiba dialihkan ke Semarang karena abu vulkanik Merapi masih mengambang di atas Bandara Adisucipto. Jadi, mau tak mau saya harus berangkat sore itu juga (5/11) karena pesawat saya berangkat jam 7 pagi (6/11).

Greg mengantar saya keliling sambil berhujan-hujan ria untuk mencari travel (jawabannya selalu sama: ke Semarang? maaf, penuh Mbak) dan ke terminal bis (tidak ada bis ke Semarang). Saya rasanya ingin menjerit!

Untunglah hujan air bercampur abu yang membasuh otak kecil saya membuat saya lebih berpikir tenang, jadi saya memutuskan untuk berangkat naik kereta api, tut tut tut!
Dan, di sinilah petualangan sang sepatu butut dimulai!

                         
Inilah sang sepatu butut di atas kereta api bisnis yang kursi-kursinya penuh debu, dan hampir separuh gerbong kosong melompong. Inilah saat yang mendebarkan saat saya dan Greg (iya, dia saya ajak untuk menemani saya hingga Semarang, biar saya lebih tenang) sampai di Stasiun Tugu untuk berburu Pramex, dan walhasil, Pramex sudah berangkat saat kami sampe, sodara-sodara, jadi kami naik kereta bisnis ke Bandung, saya lupa apa namanya.
Kami sudah sampai Solo, dan kami sedang berada di Terminal Tirtonadi untuk menunggu bis ke Semarang. Huah! Sudah jam delapan malam, dan kami menahan lapar dan dingin karena Solo baru saja diguyur hujan. Greg mengusulkan untuk naik bis patas sehingga kami bisa tidur sejenak. Dan bis patas yang ditunggu-tunggu datang, dan selama satu jam ke depan kami dihibur oleh lagu-lagu Poppy Mercury yang mendayu-dayu.
Kami sampai Semarang sekitar jam 11 malam, beruntung teman kami, Pius sudah menjemput dan menawarkan tumpangan serta tempat berteduh, yaitu di kosnya. Inilah kamar mandinya yang memaksa saya untuk segera mandi pagi-pagi karena jam enam harus berangkat ke Bandara Ahmad Yani, dan sejenak meninggalkan Greg...
Inilah lantai di depan kounter Mandala, yang mengalihkan penerbangannya ke Semarang, dan membuat saya masih menguap lebar-lebar berkali-kali gara-gara tidur yang singkat dan perjalanan yang (sepertinya) tak henti-henti. Untung saya hanya membawa tas punggung saja.
Di dalam pesawat Mandala yang biruuu :) Saya selalu suka duduk di pinggir jendela. Dulu, waktu pertama kali saya naik pesawat, dan ndak kebagian duduk di pinggir jendela, saya selalu bilang ke orang yang duduk di sebelah saya, Mas, ini penerbangan pertama saya, dan saya ingin sekali duduk di dekat jendela, bisa tukar? Dengan pancaran mata yang memelas, beberapa menit kemudian saya sudah melihat pemandangan dari balik kaca jendela :)
Sampai di Ngurah Rai, pukul 9.45 WITA. Hujan deras. Dan saya seperti orang linglung karena saya ndak tahu harus ngapain. Untuk segera check-in ke Aston Kuta, jelas belum bisa karena saya baru bisa check-in jam 12 siang. Jadi saya duduk terpekur di pelataran bandara, melihat hujan, dan memandang kerikil. Saya telpon teman saya, Prima, masih tidur. Jadi saya tunggu saja di sini. Sambil merenung, tentang hujan dan kerikil.
Setelah puas merenung, dan hujan sudah agak reda, saya lalu berjalan menyusuri parkiran, dan keluar dari bandara. Beberapa taksi menawari saya. Gila! Bandara-Kuta 70 ribu! Saya menolak. Tiba saat saya hendak keluar dari gerbang bandara, saya berhenti sejenak untuk mengabadikan tegel basah yang cantik di atas. Disitulah saya bertemu dengan Nyoman, seorang sopir taksi yang dengan baik hati mengantar saya ke Benesari, tempat saya hendak bertemu Prima.
Hujan tambah deras saat mobil yang dikendarai Bli Nyoman melaju di jalanan Legian dan Kuta. Wah, benar-benar penyambutan yang menarik, pikir saya. Saya bahkan tak tahu dimana itu Kamasutra, sebuah sex-shop yang menjadi ancer-ancer untuk menuju ke Rudi's Tattoo, tempat saya akan bertemu dengan Prima. Jadi, kami nyasar hingga harus putar balik, dan walhasil Bli Nyoman tak mau mengantar saya masuk gang lagi (untuk kedua kalinya) dan menurunkan saya di depan Minimart. Sepatu butut saya tambah butut karena basah kuyup saat berlari-lari menuju Minimart dan nebeng berteduh sebentar
karena hujan semakin deras ras ras!
Saya nekat menerobos hujan dan berlari-lari mencari Rudi's Tattoo yang katanya Prima hanya berjarak tiga bangunan saja di belakang Minimart. Voila! Saya menemukannya! Dan t-u-t-u-p sodara-sodara! Saya pikir Prima tidur di studio, ternyata dia masih di kos, dan hujan semakin deras. Saya bungkus sepatu butut kesayangan saya ke dalam tas plastik dan kaki saya menyentuh tanah Bali. Dingin. Basah. Dan saya lapar.
Hujan masih deras dan tempiasnya mengenai seluruh tubuh saya. Ada canang di dekat kaki saya. Saya teringat Prima alias Ni Ketut Dinda. Saya baui canang yang basah oleh hujan. Kembang aneka rupanya sudah agak layu, tapi masih cantik. Saya jadi tak sabar menunggu Prima untuk melihatnya mengganti canang yang sudah basah ini dengan yang baru. Tapi saya pikir, dia masih lama. Jadi saya habiskan dua jam nongkrong di rumah makan Padang sambil sarapan: tahu goreng plus kuah rendang dan dua gelas jeruk panas yang enak sekali = 15 ribu. Ha-ha-ha. Welcome to Kuta!
*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...