Wednesday, November 3, 2010

Braga!

*lanjutan dari petualangan saya di Bandung*

Daripada saya bengong di lobi hotel, saya putuskan untuk berjalan-jalan ke Braga. Setelah tanya-tanya kepada pak satpam hotel, akhirnya saya tiba di sebuah jalan yang terkenal di Bandung, namanya:

Jalan Braga.

Ada dua versi mengenai asal usul Jl. Braga atau Braga Weg. Versi pertama adalah Braga weg diambil dari nama perkumpulan seni sandiwara asal Belanda yang terkenal di daerah itu yaitu Toneelvereniging Braga yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1882. Sedangkan versi kedua adalah nama Braga berasal dari kata Bahasa Sunda ‘ngabaraga’, yang berarti “berjalan menyusuri sungai” karena Jl. Braga memang berdampingan dengan Sungai Cikapundung. (ref: Hatmanto Poenja Blog)

Saat saya berjalan di jalan Braga ini, saya memang merasa sedang terlempar ke masa lalu. Gedung-gedung besar berarsitektur kolonial memadati kedua ruas jalannya. Arus lalu lintas di jalan ini padat sekali, hampir seperti Malioboro. Tapi parahnya, di sini saya sulit sekali menyeberang!

Ini sebagian gambar bangunan-bangunan berarsitektur lama yang sempat saya ambil selama saya berjalan di atas tegel merah jambu ini.

 Braga Weg (bahasa Belanda), atau Jalan Braga. Lampu kotanya lawas, dan bahkan ada gambar Popeye si pelaut di temboknya. Memang nggak nyambung sih, tapi sepertinya karena mereka jualan biertje (alias bir kecil) dan pelaut selalu identik dengan bir. Mungkin. He-he.he.

 Sepertinya toko ini jualan parfum, kalau saya tidak salah. Bahkan ada lambang Menara Eiffel juga yang terpasang di toko ini. Saya jadi membayangkan noni-noni Belanda dengan gaun-gaun putih mereka serta payung berenda yang berjalan bergerombol dua-dua sambil tersipu-sipu dan tertawa-tawa kecil.
 Ini toko apa ya? Saya lupa. Saya tertarik dengan susunan batubatanya yang hangat. Saya bayangkan, ada dua atau tiga meja bundar di depan dinding ini dengan payung besar di atasnya. Para muda-mudi Belanda sedang duduk bercengkerama sambil minum teh melati panas dan panekoek dengan madu. Ah, lama-lama kok saya malah tenggelam dalam romantisme kolonial ya?
 Sebenarnya bangunan ini tidak kuno, namun saya tergelitik dengan tulisannya, 'bebek garang' alias 'segar merangsang', ha-ha-ha! Seperti apa ya, rasa bebek yang segar nan merangsang? Namun logo semacam donalbebek di spanduknya menurut saya kurang cocok. Harusnya memakai gambar desibebek yang garang merangsang, bukan donal yang sedang garang.
 Pintu ini besaaaaar sekali! Saya nggak tahu, dulunya bangunan ini apa, tapi saya tertarik dengan kokohnya pintu ini. Saya jadi ingat dengan pintu di rumah saya. Pintu belakang. Banyak orang yang selalu kejedot saat lewat di bawahnya. Karena hanya berukuran satu meter setengah. Mungkin hanya saya dan keluarga saya yang tidak pernah kejedot.
Salah satu sudut jalan Braga, dengan lambang Hotel Aston Braga'nya. Saya juga baru tahu kalau Aston nama hotel, karena tanggal 6-8 November besok saya akan ke Aston Kuta untuk presentasi proposal saya yang menang sayembara Prakarsa Masyarakat untuk Kota Lestari. Doakan ya!

*selanjutnya: menyusuri jalanan Bandung!*

2 comments:

  1. menariiik sekaliiiiii...

    lagi lagiii...

    ReplyDelete
  2. iyaaaa :) tunggu kurakurakikuk jalan-jalan ke bali dan solo yaaa :) makasih sudah mampir :)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...