Saturday, November 13, 2010

Bandung, Kulihat Lanskap Lengkungmu dari Sini!

Setelah saya mengisi perut di Warung Kopi Purnama, saya melanjutkan perjalanan menuju Alun-Alun Kota Bandung, hendak melihat geliat sosialnya, mencermati orang-orangnya, dan menghirup bau kotanya.

Saya melewati kantor pos besar, dan menyeberang dengan susah payah ke arah Masjid Raya Bandung. Sudah saya lihat minaret gagahnya dari seberang jalan, menjulang tinggi di langit yang kelabu.

Wah, saya harus naik ke minaret nih, pikir saya, dan melihat sepenjuru kota Bandung dari atas.

Saya masih di depan kantor pos besar Bandung yang berkodepos 40000, dan menyempatkan untuk memotret bangunan besar berwarna oranye dari seberang jalan. Kenapa ya, kantor pos selalu berwarna oranye? Mungkin agar lebih bersemangat dan lebih juicy kali ya. Ah, kantor pos besar di Jogja putih kok :)

Saya bergegas datang ke masjid, melepas si sepatu butut dan menitipkannya ke kounter penitipan sepatu, muter-muter melihat masjid, lalu naik ke minaret 19 lantai dan memandang lanskap Bandung dari atas! Yuhui! Bandung, ingin kulihat lanskap lengkung kotamu!


Kantor pos Bandung yang berwarna oranye sekali. Seperti jeruk bersegi enam yang menyegarkan mata di tengah-tengah gedung kelabu di sekitarnya. Wahai, jalanan Bandung, kenapa susah sekali aku seberangi dirimu?
Jendela kaca patri yang berwarna-warni di dalam Masjid Raya Bandung membiaskan sinar-sinar teja yang berpendar pelan di lantai-lantai keramiknya yang dingin. Indah sekali.

Si jendela kembar yang berpendar. Di balik jendela ini, sampeyan bisa melihat puluhan orang duduk bersandar di dindingnya, dan sampeyan mungkin tidak akan tega memotret mereka seperti saya, karena kebanyakan mereka datang ke Masjid Raya untuk melepas lelah, mencecap sedikit oase ketenangan atas keriuhan kota dan sulitnya memberi makan anak-anak mereka yang bergantung di payudara ibunya.

Jendela ini pun begitu. Menjadi saksi atas tangisan yang keluar dari seorang perempuan, tangis putus asa, dan saya tak kuasa memotretnya, karena saya tahu bagaimana rasanya menangis putus asa, saat semua seolah buntu dan satu-satunya jalan hanya menangis, agar lega, agar sembuh, dan agar ringan.

Pintu-pintu utama masjid yang besar. Dengan lantai keramiknya yang mengkilap dan dingin sekali. Di luar masjid, banyak sekali pedagang asongan yang mengitari sudut-sudut masjid ini, dengan segala dagangannya: tasbih, peci, siwak, cincin akik, kudapan Bandung, dan segala remah-remah sosial yang saya tak mampu menangkapnya dengan lensa.

Inilah ruang dalam masjid yang megah, dan memantulkan ketenangan spiritual. Tak banyak orang yang sedang sembahyang siang itu, tapi saya tahu mereka sudah lama duduk terpekur berdzikir di depan mihrab sambil menasbihkan asma Tuhannya.
Saya melihat ke atas, masih dalam ruang utama masjid agung ini. Waow. Indah sekali. Lengkung-lengkung putihnya. Saya suka sekali dengan yang melengkung, tak statis, dan membulat. Inilah lengkung yang tak terlihat dari luar saat sampeyan memandang kubah Masjid Raya Bandung yang putih membulat.
Setelah naik lift yang membawa saya ke lantai ke-19, saya akhirnya dapat melihat lengkung lanskap kota Bandung dari atas. Melihat sepenjuru kota Bandung dari atas.

Lanskap lengkung Bandung #1
Lanskap lengkung Bandung #2

Lanskap lengkung Bandung #3

Lanskap lengkung Bandung #4

Lanskap lengkung Bandung #5
*bersambung*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...