Monday, November 29, 2010

Antara Saya dan Kue Ulang Tahun: Tak Ngiler Lagi!

Pada sebuah sore yang cerah di tanggal 25 November, saya kedatangan dua sahabat karib saya, Uuth dan Ifa. Mereka datang ke YPR (Yayasan Pondok Rakyat) sambil membawa bungkusan besar. Saya menduga-duga, apakah itu. Ternyata ada buah jeruk, dan coba sampeyan tebak: kue-ulang-tahun!
Kuenya besar sekali, menurut saya. Namanya black forest alias kue hutan hitam. Desa kelahirannya Heidegger, he-he-he.
Ifa mungkin ingat, kalau saya belum pernah mendapat kue ulang tahun sejak saya umur lima tahun. Jadi saya senang sekali karena saya tidak akan ngiler lagi seperti yang sudah-sudah.
Jadi, saya mengajak Uuth, dan kami bergegas ke warung terdekat, dan membeli lilin. Saya ingat, warung itu menjual lilin merah, karena dulu waktu di YPR sempat mati lampu, kami pernah membeli lilin, dan diberi lilin merah. Dan ternyata, sang ibu pemilik warung tidak punya lilin merah, tapi karena saya bertanya terus, ibu itu memberi sebatang lilin merah bekas. Tak apalah. Jadi saya serut lilin-lilin itu dan saya tancapkan ke kue ulang tahun. Voila! Jadilah kue ulang tahun pertama saya! Lalu saya sulut dengan api, dan menyala-lah kedua lilin merah putih itu. Berkelap kelip indah, dan meliuk liuk tertiup angin kecil.
Yay!

Impian saya sejak lima tahun terkabul sudah. Dan saat saya meniup lilin merah-putih di atas kue hitam putih berhiaskan ceri merah itu, saya mengucapkan permintaan saya dalam hati.
Tentunya, salah satunya, bahwa saya nggak akan ngiler lagi kalau tidur, karena permintaan saya sudah terpenuhi! Ha-ha-ha! :)
Setelah ditiup dan sekelumit nyanyian penuh tawa, saya segera mengambil pisau, dan memotong kuenya dalam empat bagian. Tapi ternyata, empat potong terlalu besar, jadi saya membaginya lagi menjadi delapan potong kue. Dan saya berikan kepada dua sahabat saya, Uuth dan Ifa, yang setia berbagi tentang hal apa saja, baik hal domestik, tentang tubuh, perempuan, masa depan, dan mimpi-mimpi. Saya juga memberi kue kepada adik saya, Nunna yang tiba-tiba datang dan mampir ke YPR sepulang dari kampusnya yang nun jauh di Sewon sana. Sejenak semua senang saat mendapat kue-kue. Namun kemudian, suasana langsung berubah riuh saat kami mengoleskan kue-kue itu ke wajah kami bertiga. Waaaa! Inilah wajah-wajah kami yang belepotan kue!


Uuth yang belepotan kue dan masih tetep pede untuk nyengir.
Saya yang berubah menjadi satria berjenggot.
Dan Ifa yang di hidungnya menempel segumpal upil besar dari kue putih. Ha-ha!
Semoga kebersyukuran ini adalah juga sebagai doa agar seluruh makhluk di semesta damai dan bahagia.
Salam sayang untuk Arnovi Putty Febriani (Uuth) dan Ifa Hadi Subardan (Ifa).

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...