Tuesday, November 30, 2010

Eulogi untuk Saya

Eulogi adalah sebuah tulisan singkat yang dibacakan saat pemakaman untuk mengenang kembali kebaikan-kebaikan almarhum.

Dan kali ini saya hendak memperlihatkan kepada sampeyan, eulogi yang Greg tulis untuk saya, ketika saya meninggalkan dunia ini kelak.

Tulisan ini sebenarnya sudah setahun yang lalu dibuat, tapi kata-katanya yang teruntai indah membuat saya ingin menuliskannya lagi, sejenak untuk berefleksi ke dalam diri, memberi makna atas hubungan yang sudah berjalan lima tahun ini, dan terus berusaha aktif untuk mamayu hayuning bawana, atau aktif memperindah dunia dan memberikan kontribusi bagi sesama.

Monday, November 29, 2010

Antara Saya dan Kue Ulang Tahun: Tak Ngiler Lagi!

Pada sebuah sore yang cerah di tanggal 25 November, saya kedatangan dua sahabat karib saya, Uuth dan Ifa. Mereka datang ke YPR (Yayasan Pondok Rakyat) sambil membawa bungkusan besar. Saya menduga-duga, apakah itu. Ternyata ada buah jeruk, dan coba sampeyan tebak: kue-ulang-tahun!
Kuenya besar sekali, menurut saya. Namanya black forest alias kue hutan hitam. Desa kelahirannya Heidegger, he-he-he.
Ifa mungkin ingat, kalau saya belum pernah mendapat kue ulang tahun sejak saya umur lima tahun. Jadi saya senang sekali karena saya tidak akan ngiler lagi seperti yang sudah-sudah.

Sebaskom Sop dan Sore yang Jingga

Sore itu, pacar saya, Greg senang tidak enak badan. Sebagaimana biasanya, setiap Greg demam dan meriang, ia selalu ngidam sop. Kami biasanya makan sop ayam di depan SMP 16 Nagan, tapi kalau Minggu biasanya tutup, dan mungkin kami ingin sesuatu yang berbeda. Kami memang senang mencoba makanan baru. Untuk mencoba makanan di restoran yang harganya mahal, kami akan datang satu kali saja, mencoba, merasa, mencecap, dan cukup. Karena bagi kami, tidak bijak untuk mengeluarkan uang lebih banyak berkali-kali untuk makan sesuatu yang sama di tempat yang sama. Mending makan di angkringan berkali-kali, sekalian mendukung ekonomi lokal.

Wednesday, November 17, 2010

Tentang Rumah

Saya tercenung ketika melihat gambar rumah teman karib saya, Muhamad, yang rata dengan tanah karena terkena muntahan Merapi beberapa waktu lalu. Saya masih ingat dengan jelas ruang-ruang yang pernah saya masuki saat kami dulu sering berkumpul bersama dengan teman-teman Orong-Orong. Di kamarnya yang bersih dan sederhana, di ruang tamunya yang lantainya dingin sekali, dan terutama di terasnya yang hijau dan segar. Bahkan dulu kami sempat berencana untuk berkemah di halaman depan rumah Muhamad yang asri itu. Beberapa menit yang lalu, saat saya mengamati gambarnya sekali lagi, semua berubah menjadi abu-abu. Dingin. Yang tersisa hanya lubang pintu rumah yang (seingat saya) menghubungkan rumah induk dengan pekarangan belakang.

Jadilah saya menulis tulisan pendek ini: tentang rumah.

Saturday, November 13, 2010

Klik! Klik! Klik!

Setelah melihat lanskap lengkung kota Bandung dari minaret Masjid Raya Bandung yang berlantai 19, saya berjalan kembali ke arah Hotel Naripan, untuk mandi (dari pagi belum menyentuh air dan sikat gigi!) dan sejenak istirahat mengumpulkan tenaga untuk pertemuan malam di Gedung Asia Afrika.

Jadinya, saya berjalan terus ke arah Gedoeng Merdeka, alias Museum Konperensi Asia Afrika (iya, konperensi, bukan konferensi) dan suara klik! klik! klik! terus berbunyi di sepanjang jalan.

Bandung, Kulihat Lanskap Lengkungmu dari Sini!

Setelah saya mengisi perut di Warung Kopi Purnama, saya melanjutkan perjalanan menuju Alun-Alun Kota Bandung, hendak melihat geliat sosialnya, mencermati orang-orangnya, dan menghirup bau kotanya.

Saya melewati kantor pos besar, dan menyeberang dengan susah payah ke arah Masjid Raya Bandung. Sudah saya lihat minaret gagahnya dari seberang jalan, menjulang tinggi di langit yang kelabu.

Wah, saya harus naik ke minaret nih, pikir saya, dan melihat sepenjuru kota Bandung dari atas.

Saya masih di depan kantor pos besar Bandung yang berkodepos 40000, dan menyempatkan untuk memotret bangunan besar berwarna oranye dari seberang jalan. Kenapa ya, kantor pos selalu berwarna oranye? Mungkin agar lebih bersemangat dan lebih juicy kali ya. Ah, kantor pos besar di Jogja putih kok :)

Friday, November 12, 2010

Dan Sepatu Butut Itu Masih Terus Berjalan...

Setelah perjalanan si sepatu butut ke Bandung dan Jakarta, sang sepatu butut ternyata masih keras kepala untuk terus menemani saya ke Solo, Semarang, Bali, Jakarta, dan mampir sebentar ke Surabaya, lalu balik lagi ke Solo, baru bisa pulang ke Jogja. Wah, kok bisa?

Semua bermula saat saya memenangkan sayembara Prakarsa Kota Lestari dan saya harus ke Bali untuk presentasi tentang proposal saya yang berjudul, Aku Bangga jadi Anak Kampung. Dimulailah perjuangan saya dan si sepatu butut karena penerbangan yang semula akan bertolak dari Jogja tiba-tiba dialihkan ke Semarang karena abu vulkanik Merapi masih mengambang di atas Bandara Adisucipto. Jadi, mau tak mau saya harus berangkat sore itu juga (5/11) karena pesawat saya berangkat jam 7 pagi (6/11).

Greg mengantar saya keliling sambil berhujan-hujan ria untuk mencari travel (jawabannya selalu sama: ke Semarang? maaf, penuh Mbak) dan ke terminal bis (tidak ada bis ke Semarang). Saya rasanya ingin menjerit!

Untunglah hujan air bercampur abu yang membasuh otak kecil saya membuat saya lebih berpikir tenang, jadi saya memutuskan untuk berangkat naik kereta api, tut tut tut!

Mencoba Sarikaya di Pecinan

Jalan-jalan yang cukup membuat kaki saya pegal mendorong saya untuk mencari jajanan yang cukup bisa mengenyangkan perut dan membasahi kerongkongan. Setelah muter-muter Braga dan menyusuri jalanan Bandung sambil motret-motret, saya masuk ke jalan Pecinan yang isinya full jualan. Apa saja ada di jalan ini. Saya lupa namanya. Pasar Baru ya? Hmm, nanti saya cek lagi.

Di jalan ini masih banyak terselip bangunan-bangunan lawas yang mengingatkan saya pada sebuah sudut di Kota Lama, Semarang. Beserta dengan hiruk pikuk suasana pasarnya. Jangan bayangkan Pecinan dengan atribut merahnya.

Menyusuri Jalanan Bandung

Di ujung Braga, saya menemukan ada semacam mall berjudul Braga City Walk, yang sangat meriah tampilannya dengan segala lengkung dan sulur bunga-bunga. Tapi karena waktu masih pagi, Braga City Walk masih sepi. Hanya terlihat beberapa orang menyapu, membersihkan kounter, dan saya pun masuk melihat-lihat. Ya memang masih sepi. Kounter-kounter masih terbalut dalam bungkus-bungkusnya yang warna-warni. Spontan saya menengok ke atas, dan ternyata ada sarang besar sekali saling jalin menjalin di atas saya. Ada dua ekor capung besar yang melayang di bawahnya. Hmm, saya kira tadi sarang laba-laba. He-he.

Wednesday, November 3, 2010

Braga!

*lanjutan dari petualangan saya di Bandung*

Daripada saya bengong di lobi hotel, saya putuskan untuk berjalan-jalan ke Braga. Setelah tanya-tanya kepada pak satpam hotel, akhirnya saya tiba di sebuah jalan yang terkenal di Bandung, namanya:

Jalan Braga.

Ada dua versi mengenai asal usul Jl. Braga atau Braga Weg. Versi pertama adalah Braga weg diambil dari nama perkumpulan seni sandiwara asal Belanda yang terkenal di daerah itu yaitu Toneelvereniging Braga yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1882. Sedangkan versi kedua adalah nama Braga berasal dari kata Bahasa Sunda ‘ngabaraga’, yang berarti “berjalan menyusuri sungai” karena Jl. Braga memang berdampingan dengan Sungai Cikapundung. (ref: Hatmanto Poenja Blog)

Bandung!

Saya akhirnya ke Bandung juga!

Baru kali ini saya berkelana ke barat, karena biasanya selalu ke arah timur. Kebetulan saya ikut dalam rombongan Konferensi Asia Afrika alias 55 tahun Bandung Spirit. Jadi ya, bersama dengan 25 orang profesor dari Asia, Eropa, Amerika dan Afrika, saya nyelip di tengah-tengah, dan nebeng naik kereta api menuju Bandung. Saya tertidur pulas di Lodaya Malam, dan tiba di Stasiun Bandung sekitar jam 5 pagi.

Wah, udara pagi Bandung langsung menyapa saya. Untung saya hanya membawa tas punggung dan tas pundak kecil. Jadi langkah saya enteng juga.Tulisan BANDUNG berpendar-pendar biru di atas pintu stasiun. Saya tersenyum.

Wilujeng Sumping di Bandung!

Kampong Understanding toward Gender Diversity; Case study on Sidomulyo’s Acceptance on Waria Community

Kampong and its Daily Life
Kampong is a home for over 80% of Indonesia urban inhabitants, despite only 30% of urban space of Indonesia exists as kampong. Back to the Dutch colonialism era, kampong is identified as settlement for factory workers and city criminals, but in its progress, kampong has become the survival system for the most urban population. Since the New Order era (under the Suharto regime) until nowadays, kampong is considered negatively as the black spot of the city, and cannot be used as the measurement of the city development.

Tak Sengaja ke Ragusa

Di malam terakhir saya di Jakarta, saya harus menghadiri makan malam untuk penghargaan Ali Sastroamidjojo di Newseum Cafe, dekat Monas. Saya segera menghampiri meja-meja penuh lauk dan makan dengan lahap.

Barulah saya sadar bahwa tiket Taksaka saya pukul 8.45, jadi saya cepat-cepat pesan taksi, karena bawaan saya sekitar 30 kilo (ditambahi dua karung kaos yang harus dibawa kembali ke Jogja. Alamaaaaaak!) Dan ternyata masih ada satu tas kresek yang ketinggalan di mobilnya Mas Dede, yang setelah saya telpon ternyata sedang nongkrong di Ragusa Es Krim Italia.

Saya dan Sepatu Butut (lagi)

Masih berkelana di Bandung, saya dan sepatu butut saya melanjutkan perjalanan ini. Menyusuri jalanan kota Bandung, kemudian dilanjut ke Jakarta.

 Inilah keramik di depan Gedung Sociteit Concordia, yang sekarang berubah menjadi Museum Konperensi (bukan Konferensi) Asia Afrika. Gedung yang megah dengan balkon yang ditutup untuk pengunjung umum. Gedung yang penuh dengan bendera-bendera negara tetangga.

Tuesday, November 2, 2010

Saya dan Sepatu Butut

Inilah kisah saya dan sepatu butut saya yang menemani saya keliling kota Bandung dan Jakarta...



Berjalan hanya berbekal peta Bandung dari sebuah buku semacam Lonely Planet terbitan Perancis, inilah saya dan sepatu butut saya di atas Jalan Braga alias Braga Weg. Jalan yang kondang di Bandung dengan deretan toko-toko berarsitektur kolonial, dan lampu jalannya yang unik.Inilah kali pertama saya dan sepatu butut saya menginjakkan kaki di bumi Bandung.

Sejarah Airmata

Pernahkah sampeyan merasakan jantung yang berdesir saat bibir terkatup rapat dan diam-diam airmata mengalir?

Saya pernah.

Dan airmata saya semalam mengalir, pelan, tidak usah terlalu deras.
Saya kalau menangis selalu diam-diam.
Tanpa suara.
Dan katanya, itu yang paling sakit.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...