Thursday, October 7, 2010

29 September di Koken Resto

Masih inget dengan kutukan iler vs. kue ulang tahun? Nah, kali ini saya memang belum beruntung. Tanggal 29 September kemarin saya tidak mendapati kue yang saya idam-idamkan sejak duapuluhtahun yang lalu itu. Tapi tak apa. Setidaknya Greg mengajak saya makan di sebuah warung 'yang katanya super pedas' di samping Mirota Kampus.
Kami baru pertama kali ke situ dan pengen mencoba menu baru. Setelah agak bingung dengan tempat yang luas dengan jumlah pelayan yang bisa dihitung dengan jari, kami memesan makanan dan minuman.
Dan kami menunggu.Ngobrol ini itu.
15 menit.
Ketawa-ketawa.
20 menit.
Melirik ke kanan kiri dengan gelisah.
25 menit.
Minuman datang setelah saya merengut ke arah pelayan yang membawa menu lengkap ke meja sebelah kami yang notabene datangnya barusan.
Jus sayuran seharga enam ribu dan pina colada cuma empatribulimaratus.
30 menit.
'Maaf Mbak, kertas pesanan Mbak hilang'
Si pelayan nyengir.
Wajah kami merah padam dan asap keluar dari kuping.

Langsung kami berdiri.
Saya keluar tanpa menengok kiri kanan.
Dan tiba di parkiran.

Lho, Greg mana ya?
Tiga menit kemudian ia datang dengan mulut penuh jus sayuran.
Eman-eman, jus sayurannya enak.
Saya yang nyengir.
Saya bayar pak parkir dan kami melesat pergi.
Saya tadi nggak bayar, kata saya.
Gantian Greg yang nyengir.
Lalu kami ketawa. Ha-ha-ha.
Dan sedetik kemudian perut kami berbunyi.
Sejak pagi memang belum makan apa-apa.
Begitu kami melintas di Kotabaru, mata saya tertumbuk pada resto baru yang berbau belanda, di samping circle-K. Saya ajak Greg kesitu.
Dan begitu melihat menu, kami berdua nyengir lebaaaar sekali.

Jadilah, kami menikmati makan siang di bekas rumah orang belanda lengkap dengan tangki minyak besar kuno di kebun yang mengingatkan saya pada tangki-tangki di ladang gandum dan berkincir angin.

Kami sepakat tidak memesan minuman, karena akua berharga delapanribu. Bahkan mas pelayannya bilang,
Bisa beli aja di samping Mbak, di circle-K lebih murah, nggak apa-apa.

Dan inilah menu kami siang itu. Greg memilih:
Nicoise Salad a la Koken resto
Nicoise Salad 
(tuna, potato, green bean, onion, olive, egg, iceberg lettuce with vinaigrette dressing)
Komentar Greg: 
Cantik, sehat, tapi kentangnya tidak berasa kentang.
Komentar saya:
Sepakat kalau cantik dan sehat, tapi saya malah terkejut karena saya pikir yang saya makan tadi adalah apel, bukan kentang.

Saya memilih yang agak mengenyangkan:
Aglio E Olio a la Koken Resto
Aglio E Olio
(very special pasta, parmesan, olive, basil oil & chili crush)
Komentar Greg:
Rasanya kaya, pedasnya oke, tapi agak berminyak.
Komentar saya:
Sudah dimakan saja. Laparrr!
Kami lalu makan dengan lahap kedua menu tersebut.
Beberapa menit kemudian, Greg berkata, pelan pelan saja, dinikmati.
Si pemilik resto sempat datang dan bercerita perihal rumah dan tangki minyak aseli buatan belanda. Lalu awan menghitam dan angin berhembus kencang. Saya sempat khawatir akan ada badai lagi.
Jadi saya memanggil mas pelayan dan menambah menu baru untuk makanan penutup.

Kami sepakat untuk mencoba:
Pannacotta a la Koken Resto

Pannacotta
(traditional Italian gelatin with fruit)

Komentar Greg:
Enak, rasa baru, porsi kurang besar.
Komentar saya:
Mahal dan kecil, tapi enak.
Ada jeruk, daun mint yang ajaib itu, stroberi, dan semacam selasih.
Kenyal, segar.

Lalu hape saya berdering. Harus rapat untuk Q!Film Festival dan saya sudah sangat terlambat datang.

Jadi kami menyudahi sesi makan siang a la eropa ini dengan berfoto sejenak:
Ditambah dengan ucapan selamat ulang tahun dari kasir dan ucapan:
Diskon sepuluh persen ya Mbak...

Saya tersenyum lega.
Tak apa tak ada kue.
Saya rela ngiler lagi sampai 2011.

2 comments:

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...