Saturday, October 2, 2010

Perempuan-Perempuan yang Merokok

Saya pernah bercerita kalau bapak saya adalah seorang perokok.
Kakek saya juga. Adik laki-laki saya juga. 
Dan teman-teman perempuan saya juga merokok.

Saya dulu merokok.
Namun hanya 8 bulan saja.
Bukan karena saya anti-rokok atau apa, tapi saya ingin tahu bagaimana rasanya rokok.

Pertama kali saya merokok terjadi pada bulan Februari 2008, saya tidak ingat tanggalnya, di kafe kembara Via-Via dengan teman baik saya, Vika, yang dulu juga sempat mengajari saya naik sepeda motor. Rokok pertama yang saya hisap pun saya lupa. Waktu itu saya sedang asyik memperhatikan Vika yang merokok dengan asik. Bibirnya membulat sebelum ia menghembuskan segaris asap putih yang bergulung-gulung lembut membayang-bayangi wajahnya yang cantik. Mungkin ia sadar kalau saya sedang memperhatikan dirinya.

Mau?

*saya menggeleng* Saya ndak bisa ngrokok, Vik.

Hah? *dia tertawa lepas* Gini caranya.

Dengan terampil ia mengambilkan saya sebatang, lalu memberikannya kepada saya.

Ikuti saya pelan-pelan ya.

*saya menurut seperti kebo yang dicocok hidungnya*

Jepit rokoknya di mulut, ambil lighter, cess, nah, hirup waktu apinya udah keluar.

UHUK UHUK UHUK!

Saya batuk keras sekali dan Vika tertawa terbahak-bahak.

Pelan-pelan dong, say, yang gentle...gini...

Dan dia berhasil dengan sangat anggun membulatkan bibirnya dan menghembuskan asap tipis menguar. Saya penasaran. Sungguh, baru pertama kali ini saya menyentuh rokok dengan mulut saya.

*saya hirup pelan-pelan dan saya tak batuk*

Saya merasakan ada sensasi aneh yang menyelimuti tenggorokan saya. Lalu mulut saya membulat besar dan menyuruh si asap keluar. Dan Vika ketawa lagi.

Asapnya jangan dikeluarkan kayak gitu dong! Dihirup. Dinikmati. Kayak gini.

Barusan saya merasa seperti ikan koi yang mulutnya buka-tutup-buka-tutup yang tak bisa membulat seksi seperti bibir Vika.

Jadi semenjak itu saya mencoba merokok.
Tapi saya ndak pernah beli. Biasanya saya ke kantin kampus, dan nimbrung dengan teman-teman perempuan saya, ambil sebatang rokok dari beberapa bungkus yang bergeletakan di meja. Lalu asyik ngobrol. Biasanya teman-teman perempuan saya rokoknya relatif sama, yang bungkusnya putih dengan gambar daun kecil warna hijau. Saya sulut sebatang. Sebatang lagi. Ngobrol ketawa-ketawa. Ambil sebatang lagi. Lalu si bungkus putih itu kosong. Dan saya pindah ke meja lain. Minta rokok dari teman perempuan saya yang lain. Begitu seterusnya.

Hingga saya punya ide:
Saya TIDAK akan membeli rokok. Saya akan minta rokok saja dari teman-teman. Apapun. Yang bungkusnya putih atau merah. Apapun. Karena saya punya misi rahasia.

Sebulan semenjak saya merokok dengan Vika, saya merasa gaya saya sudah lumayan oke. Dua bulan, oke. Tiga bulan, semakin oke. Empat bulan, teman-teman perempuan saya nggak mau semeja dengan saya kalau di kantin.

Sori, van, aku ngecer hari ini, nggak beli bungkusan.
Wah, maaf ya, van, rokokku tinggal satu.
Rokok? Yah, udah habis, van.
Kamu minta anak-anak cowok aja, van, tuh di meja seberang.

Saya cuma nyengir.
Misi saya hampir berhasil: saya berusaha mengurangi kuantitas merokok teman-teman perempuan saya dari sebungkus menjadi beberapa batang saya sehari, hanya karena saya menjadi pengemis rokok selama empat bulan yang tidak tahu malu dan tak punya modal.

Menjadi perokok membuat kesadaran baru saya terbit. Saya mulai rajin mencari-cari referensi tentang rokok, sejarah rokok dan tembakau, dan bersyukur pacar saya yang tidak merokok itu membiarkan pencarian saya. Hingga sampai pada bulan kedelapan, sebuah sore yang tenang di sebuah sudut di kantin Realino, saat saya sedang terlibat dalam sebuah diskusi Orong-Orong yang seru tentang propaganda.

Kamu tahu, van, sejak kapan perempuan merokok? tanya Muhamad teman saya yang pintar itu.
*saya menggeleng saja*
Itu bagian dari propaganda lo. Ada seorang ahli propaganda bernama Ed Bernays yang disewa Lucky Strike sekitar tahun 1928 untuk meningkatkan penjualan rokok dengan mengajak perempuan untuk merokok. Ada pawai besar di jalanan New York yang menampilkan perempuan-perempuan sedang merokok di depan publik.

Saya terdiam. Dan sejak itu saya berhenti merokok.
Benar-benar berhenti merokok. Sampai sekarang.

Hingga pagi ini, saya tiba-tiba ingat kata-kata Muhamad dua tahun lalu itu.
Saya lalu ingat teman-teman perempuan saya yang merokok.
Saya ingat dengan Bu Sumi, yang setiap be'ol menghabiskan dua batang rokok jisamsu.

Lalu saya menjadi penasaran, siapa ya perempuan pertama yang merokok?
Hingga saya tiba di sebuah artikel sangat menarik tentang sejarah rokok di Amerika. Saya menemukan bahwa ternyata pada tahun 1904 di New York, seorang perempuan dikurung 30 hari karena dia merokok di depan anak-anaknya. Lalu di tahun yang sama, seorang perempuan ditangkap polisi karena kedapatan merokok di dalam mobil. Dan mulai tahun 1908, perempuan dilarang merokok di depan umum (berarti boleh merokok di rumah).

Rokok yang didisain untuk wanita pertama kali (yang akhirnya tidak sukses) adalah merek Helmar dan Murad pada tahun 1919. Lima tahun kemudian, Marlboro muncul dengan target utama penjualan adalah perempuan. Tagline'nya adalah "Mild as May", yang iklannya berbunyi, 'karakter perempuan dapat dibaca dari rokoknya, bukan dari warna rambutnya'.

Dan tibalah saya pada tahun 1928 saat si Bernays itu melakukan terobosan iklan dengan metode propaganda dan memakai dasar-dasar psikoanalisis: yaitu menyimbolkan rokok sebagai "obor kebebasan" bagi para perempuan untuk menjadi setara dengan laki-laki.

Waow. Saya membayangkan ratusan model dan artis perempuan sedang long march dengan sebatang obor kebebasan terjepit di bibir-bibir mereka lengkap dengan dress code ala Patung Liberti. Pasti seru!


Saat ini, saya masih tidak berkebiasaan merokok.
Juga tidak pernah membeli rokok.
Dan saya masih berteman baik dengan teman-teman perempuan saya yang merokok obor kebebasan mereka.
Dan masih tidak menolak kalau ditawari sebatang dua batang.

Bahwa bibir saya hitam, itu bukan akibat merokok-delapan-bulan saya, tapi semata-mata malpraktek yang dilakukan ibu saya yang tega mengoles odol banyak-banyak ke bibir saya setiap pagi saat saya berumur lima tahun dengan maksud agar bibir saya merah semerah delima.



'perempuan dan obor kebebasannya'

3 comments:

  1. sore setelah saya mem-publish tulisan ini, Vika telpon saya sambil ketawa:
    rokok pertamamu adalah 'Lucky Strike Menthol' sayaaang :)

    ReplyDelete
  2. Kita berbagi rokok juga sayaaang :)

    ReplyDelete
  3. ulasan yang menarik. tapi merokok (kretek) adalah budaya indonesia, roro mendut menjadi ikon perokok wanita pertama sebagai bentuk perlawanan atas kuasa laki laki

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...