Monday, June 15, 2009

Di Balik Kuil-Kuil Tamil #3

Bis kami melaju lagi setelah melawat ke Kapleeswarar.
Kali ini menuju kota sebelah yang namanya diambil dari iblis Asura Tirusiras yang berkepala tiga, mungkin dari situlah kata 'sirah' dalam bahasa Jawa diambil. Ternyata 'tirusiras' atau 'trishira' itu artinya 'kepala tiga'.
Tiruchirapalli, atau lebih singkat dan enak disebut Trichy Trichy *sambil geleng-geleng kepala khas India*
Bis kami berhenti di depan sebuah gereja kuno yang indaah sekali. Namanya San Thome Basilica yang dibangun abad 16 oleh para petualang Portugis, yang lalu direnovasi oleh Inggris di tahun 1893. Gaya arsitekturnya Neo-Gothic, gaya yang disukai pada akhir abad ke-19. Saya hanya bisa memotret gereja indah itu dari ujung jalan karena kami harus jalan kaki lagi ke kuil, dan lagi-lagi jaraknya sekitar dua kilo. Saya bertanya pada Raj, teman saya,
No sandals again?
Dia ketawa.
Kepalanya menggeleng-geleng seperti boneka beruang yang ada di dashboard mobil.
Saya selalu bingung dengan orang-orang India ini. Menggeleng-geleng terus.
Ternyata kami boleh memakai sandal dan sepatu kami untuk berjalan hingga nanti ketika di depan pintu masuk kuil, segala alas kaki harus dititipkan di kounter penitipan alas kaki. WHAT? Bagaimana bisa seribu orang menitipkan sandal mereka di satu kounter? Saya jadi penasaran.
Turun dari bis, setelah memotret gereja gothic itu, saya melihat teman-teman saya merubungi seruang dinding di pinggir jalan dan ketawa-ketawa aneh.
Wah, apalagi nih, pikir saya.
Jangan-jangan poster aneh lagi.
Saya ikut-ikutan merubung.
Dan ohmaigot!
ATM kondom!
Saya ulangi:
ATM kondom yang indiahei banget! :)
Cuman 50 rupees dan itu setara dengan seribu.
Saya yang koleksi kondom dari berbagai macam negara menjadi sangat tertarik dan langsung memasukkan koin. Wah, ternyata rusak!
Jadilah kami melanjutkan perjalanan ke kuil tanpa berjingkat-jingkat kepanasan. Kami melewati sebuah pasar tradisional. Yang tak jauh beda dengan sudut-sudut Beringharjo atau Klewer, dengan porsi terbesar dagangan mereka adalah kain, kain, dan kain.
Terselip di balik kios-kios adalah bangunan-bangunan kuno peninggalan Inggris yang mungkin masih ada penghuninya.
Dan bukan India kalau jalanannya tak semrawut dan macet. Semua kendaraan tumpah ruah di sini. Saling silang dan bertumbukan. Poster-poster bertuliskan huruf Tamil yang terpasang miring-miring ini juga dibiarkan begitu saja. Sepertinya iklan Kratingdaeng Tamil :) atau kalau bukan ya merek celana dalam.
Ruas jalan di pasar ini cukup panjang, dan kami sampai di sini tepat sekitar pukul dua siang waktu Tamil atau jam setengah empat sore waktu Jogja. Saya tak sempat melongok-longok dagangan di pasar ini, karena si pemandu sudah jauh di depan saya. Jalannya cepat sekali. Saya bertanya lagi kepada teman saya, kali ini namanya Virgil, yang punya bulu dada lebat sekali.
Katanya memang harus cepat, karena kuil tutup sekitar jam lima sore, padahal kami harus mendaki ke atas untuk masuk ke dalam.
Mendaki?
Wah, saya tidak tahu kalau daki-mendaki.
Virgil bilang, ada tangga yang melingkar-lingkar di dalam gunung batu itu yang dibuat untuk memudahkan orang untuk naik.
Di dalam gelap?
Dia bilang, mungkin.
Karena gunung itu sudah sepuh. Menyimpan energi-energi yang teredam. Mungkin saja gelap dan agak lembab karena secara harafiah kami harus masuk ke dalam tubuh gunung batu itu.
Saya selalu senang untuk masuk ke tempat-tempat semacam ini. Seperti masuk kembali ke gua garba. Semacam perjalanan spiritual yang mengisyaratkan untuk masuk ke dalam, bukan ke luar, mencari ke dalam diri untuk mencari 'sunya'. Dan Virgil berseru:
Itu dia!
Di pinggir jalan inilah kami melihatnya.
Kuil yang diberi nama Kuil Thayumanavar.
Kuil kuno yang dipahat di atas bukit batu yang besaaaar sekali. Seperti melubangi gunung batu, mengeroknya hingga di dalam gua ada relung-relung yang dipakai untuk bersemadi. Seperti waktu jaman purba, saat manusia hidup di gua-gua batu, Kuil Thayumanavar adalah gunung batu solid yang diubah menjadi sebuah kuil raksasa alam yang selalu penuh dikunjungi ribuan orang tiap harinya.
Waow. Waow. Waow.
Dan saya akan kesana?
Saya semakin bersemangat. Dan jalanan ini tak kunjung usai. Masih panjang.
Dan masih banyak yang dilihat.
Saya ketawa-ketawa senang saat melihat sesuatu yang sangat familiar di mata saya.
Harumanis!
Ya, harumanis atau cotton candy atau gula-gula kapuk yang berwarna jambon itu ternyata ada juga di sini. Dengan kemasan yang lebih mini dan cara menjualnya yang menarik.
Saya yang selalu pergi ke Sekaten di Alun-Alun Utara tiap tahun jadi ingin memotret si penjual harumanis itu. Seorang anak kecil Tamil seusia sekitar 10 tahunan dengan membawa kayu panjang dengan reronce harumanis merah muda yang disusun dari atas hingga bawah.
Cantik sekali!
Dan saya ketinggalan rombongan lagi.
Wah, maklum, saya yang paling kecil dalam tur ini jadi langkah-langkah kaki saya juga kecil-kecil dan sering berhenti untuk mengamati dan memotret apa-apa yang menarik mata saya.
Jadilah kami berlari-lari mengejar rombongan dan berhenti tepat di pintu gerbang besar dan disambut dengan kios-kios yang menjual segala rupa keperluan sembahyang, semacam dupa, bunga, dan renik-renik lain yang menarik. Saya tak punya banyak waktu untuk mampir.
Mereka sudah memanggil-manggil saya:
Hurry, vanie! We don't want you get lost!
Oke. Saya bergegas dan tibalah saya di kounter maha penitipan sepatu itu.
Alamaaak! Gila! Ini bukan kounter penitipan sepatu namanya.
Benoit, teman saya dari Perancis berbisik, masukkan sandalmu ke dalam tasmu! Dan simpan kameramu! Kalau ketahuan, mereka akan mendendamu.

Oh oh, tanpa kamera lagi?

Damn!


-bersambung-

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...