Saturday, October 9, 2010

Cerita dari Kampung #1: Manusia Seribu Rupiah


Saya baru saja masuk gang kampung setelah berjalan kaki dari halte transjogja di depan Benteng Vredeburg. Masih jam sembilan dua puluh. Malam. Dan saya melihat beberapa orang sedang berkerumun di salah satu rumah tetangga saya. Wah, saya sudah mencium bau tak sedap. Dan kalau sampeyan juga mencium bau yang sama dengan saya, silakan klik tanda silang di pojok kanan atas dan jangan lanjutkan membaca tulisan saya ini.

Jadi ini tentang tetangga saya.
Dialah yang menjadi pemeran utama dalam cerita ini, yang saya tulis langsung, hanya sepuluh menit setelah saya baru saja lewat rumahnya yang gelap dan penuh dengan kerumunan orang pada Jumat malam yang dingin ini.
Kita sebut saja Barkah.
Dia cukup populer di kampung saya. Saya masih ingat, waktu saya masih kecil, rumah yang dikerumuni orang malam ini tidaklah gelap. Dindingnya dari kayu-kayu bercat hijau dan berpintu besar dan berkaca. Selalu ada seorang kakek yang duduk di ambang jendela sambil menghisap pipa, dengan celana pendek katun putih, dan kaos oblong Swan. Kulitnya sudah kisut meski badannya tegap tinggi besar. Kakek ini seorang purnawirawan polisi. Sisa-sisa ketegapannya masih terlihat. Dia cukup ramah dengan anak-anak kecil waktu itu. Termasuk saya. Kadang saya masuk ke ruang tamunya dan melihat foto-foto jaman dulu dan vas bunga dan bunganya yang tak pernah layu. Kakek ini sering memberi saya permen. Kalau tidak permen gula-asem yang dibungkus seperti kelereng kecil-kecil ya permen jahe yang pedas dan manis.

Si kakek ini sekarang sudah meninggal. Istrinya sudah lebih dulu meninggal, jauh sebelum saya lahir. Dia meninggalkan beberapa anak. Salah satunya adalah yang menjadi pemain utama dalam cerita saya ini, yaitu Barkah. Ia berbadan tambun, perut agak buncit, rambut krebo, dan wajah penuh dengan bekas jerawat. Biasanya ia memakai celana pendek dan kaos kuning bekas kampanye partai politik. Dan yang malam ini rumahnya dikerumuni banyak orang saat saya lewat selepas saya berjalan kaki dari halte transjogja di depan Benteng Vredeburg. Masih jam sembilan dua puluh. Malam. Dan saya melihat beberapa orang sedang berkerumun di salah satu rumah tetangga saya. Wah, saya sudah mencium bau tak sedap. Dan kalau sampeyan juga mencium bau yang sama dengan saya, (sekali lagi) silakan klik tanda silang di pojok kanan atas dan jangan lanjutkan membaca tulisan saya ini.

Barkah lahir sekitar tahun 1961.
Saat ia es-em-pe, ibu saya yang masih es-de selalu melihatnya bersepeda essel.
Apa itu sepeda essel?
Ibu bilang, itu lho sepeda yang sekarang dipakai anak-anak muda jumpalitan di depan kantor pos besar tiap malam minggu.
Wah, keren dong!
Yang setangnya di-prithili, trus diganti yang aneh-aneh. Pokoknya nanti bisa akrobat.
Saya langsung membayangkan Barkah mengendarai sepeda tinggi jaman sekarang. Wuss...gile!

Barkah bersekolah di es-em-pe negeri favorit di dekat Kridosono.
Dan melanjutkan es-em-a di SMA IKIP, yang sekarang sudah tidak ada, 
dan berubah menjadi SMA N 10.
Yang khas dari seorang Barkah adalah gayanya saat makan.
Ia selalu mengunyah makanan apapun sebanyak 32 kali, sampai benar-benar lembut.
Seluruh orang kampung tahu tentang fakta ini. Ibu dan nenek saya juga tahu.
Ia selalu makan pelan-pelan. Ia selalu makan enak-enak.
Ia mendapat apapun yang ia inginkan.

Dan terjadilah sesuatu 'itu'.
'Itu' yang misterius.
Yang mungkin hanya ia yang tahu, karena seluruh kampung juga masih berteka-teki.
Apalagi setelah kepergian bapaknya, yaitu sang kakek berkaos oblong Swan yang suka ngasih saya permen gula-asem.
Ia sering berbicara sendiri.
Tak pernah mandi. Stop keramas dan ganti baju. Berhenti sikat gigi.
Berteriak-teriak hingga membuat geger warga kampung.
Setiap malam berteriak-teriak, setiap siang menggelandang.
Dan (ini yang tidak enak dibaca) selesai beol, tainya dimasukkan ke tas kresek, lalu dibakar. Mentah-mentah.
Ia juga menjuali semua benda-benda di dalam rumah kayu bercat hijau itu.

Dan memulai identitasnya yang baru sebagai: Manusia Seribu Rupiah.
Apa itu?

Pacar saya, Greg, adalah yang paling sering bertemu dengan Barkah.
Pernah dalam satu pertemuan mereka, dialog ini terjadi:

Mas, sewu, Mas.
*Greg tersenyum dan menggeleng sopan*

Mas, seribu, Mas.
*Greg tersenyum lagi dan menggeleng lagi, tetap sopan*

Aku tuh sakit, Mas. Pusiiiiiing.
*kata Barkah sambil meringis*
Seribu Mas, buat beli obat.

Sakit apa?

Kalau malam kepala saya sakiiiit sekali.
Leher saya jadi keciiiiiiiiil sekali.
*mata menyipit seolah kesakitan, dan sangat meyakinkan*

Greg mengangguk-angguk.
Lalu memberinya seribu.
Dan pergilah ia dengan santai.

Pernah saat saya naik Kobutri, ia juga ikut naik. Dan saya tak mau dekat-dekat dengan dia. Bau.
Dan ia selalu mempraktekkan hal yang sama.

Mbak, seribu, Mbak.
Mas, sewu, Mas.
Pak, sewu, Pak.
Buk, seribu, Buk.

Begitu setiap hari. Setiap siang. Setiap sore.
Malam ia pulang ke rumah setelah ia berjalan kaki (saya pernah melihatnya jalan kaki di depan GOR UNY) dan numpang Kobutri.
Setiap masa liburan, jalan KS Tubun di depan gang kampung saya sering ramai dipadati para pembeli bakpia yang datang dari luar kota.
Dan ia selalu hadir.

Mbak, seribu, Mbak.
Mas, sewu, Mas.
Pak, sewu, Pak.
Buk, seribu, Buk.

Lengkap dengan kaos kuningnya bergambar beringin yang tak pernah ganti, sandal jepit, celana pendek, rambut kriwul-kriwul, mata membelalak, wajah berminyak dan penuh bekas jerawat, dan bau yang khas orang nggak mandi bertahun-tahun.

Nah, jadi, malam ini saat saya melintasi rumahnya yang penuh dengan kerumunan orang, saya mendapati bahwa ternyata Barkah alias Si Manusia Seribu Rupiah tak kelihatan batang hidungnya. Yang kelihatan dengan jelas adalah orang-orang sedang menutupi batang hidungnya, dengan apa saja. Dan saya terlambat menutup hidung.

Barkah baru saja buang air besar dan tainya berserakan. Masih basah. Dan hangat.
Dan orang-orang beramai-ramai menyiram wipol dan karbol.
Saya menahan nafas. Dan mempercepat langkah agar saya cepat sampai rumah.

Saya ingat. Beberapa bulan yang lalu.
Pernah kampung geger karena Barkah berulah.
Bosan membakar tainya di tas kresek, kali ini dia membakar tainya langsung setelah ia mengeluarkannya dengan susah payah dan menampungnya dalam tempolong margarin bekas bermerek Mother's Choice. Membakarnya hidup-hidup.
Dan kampung kami diselubungi gas berwarna abu-abu semalaman. Jangan tanya baunya.

Paginya, ia akan memulai lagi mantranya:
Mbak, seribu, Mbak.
Mas, sewu, Mas.
Pak, sewu, Pak.
Buk, seribu, Buk.

Dari situlah ia bisa makan tiap harinya dan melestarikan hobinya:
membakar tai dalam tas kresek.
Jangan tanya ia bisa makan apa.
Suatu siang, saya pernah melihatnya sedang makan sate sapi yang dagingnya besar-besar, semacam sate padang, dalam satu porsi lengkap di depan bakpia pathuk depan gang rumah saya. Hanya satu pertanyaan saya: selembut apakah tainya, karena ternyata ia masih mengunyah sebanyak 32 kali sebelum ia menelan sate sapi yang besar-besar itu.

2 comments:

  1. miris,lucu,haru jadi satu.salam kenal dari jauh mbak...

    ReplyDelete
  2. iya Mas Bayu :) salam hangat (sehangat tai Barkah) dari kampung Jogja...

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...