Tuesday, September 21, 2010

Wah, Beneran Kamu Sudah 'engaged'?

Tanya teman saya lewat YM dengan menggebu-gebu. Saya hanya membalas dengan mengetik titik dua dan kurung buka. Saya nggak tahu sejatinya konsep 'engaged' itu gimana. Apakah sebuah hubungan harus diformalkan dulu sebelum menuju tingkat 'menikah'? Padahal di status relationship saya di Facebook tertulis 'engaged'. Hehehe.
Sebenarnya saya iseng saja waktu ngetik status hubungan di Facebook itu. Tapi kok lalu ada sebuah pertanyaan muncul, 'eh, emang engaged tuh apa to?' Apa iya, saya bener-bener 'engaged'?
Karena ternyata setelah saya cek di kamus Oxford edisi 11, 'engaged' tuh salah satu artinya adalah 'occupied'.


Waaah, saya nggak mau di-occupied dong!
Trus saya cari lagi sebuah kata di bawah 'engaged' yaitu 'engagement' yang artinya 'a formal agreement to get married'. Hmm, berarti ada sebuah kesepakatan bersama secara formal untuk menikah.

Nah, pertanyaan berikutnya, secara formal itu yang seperti apa? Apakah disaksikan oleh keluarga dan sanak sodara? Ataukah di depan Romo atau Kyai? Hmm, saya lalu bertanya kepada seorang teman saya yang umurnya sudah 30an dan sudah menikah beranak satu saja dan bukan dari kalangan akademisi. Kata dia:

Ya harusnya pakai cincin dong, kan tunangan...
Oke. Cincin tunangan.
Harus beli ya?

Iya lah. Kamu kan udah kerja. Duitmu buat apa?
Hmm, di mana?

Ya terserah. Kamu pengennya emas atau perak.
Hmm...
Kalo perak di Kotagede banyak....
Trus?
Kalo emas duitmu mesti nggak cukup. Hehehe...
Sialan!

Lalu kami terdiam.

Hmm, jadi harus pakai cincin ya, pikir saya. Saya masih penasaran dengan masalah cincin ini, jadi saya langsung ketik 'history of rings' di Google. Eh, yang muncul malah 'The History of Engagement Rings and Wedding Bands' (klik di sini kalo sampeyan mau mbaca).

Dahi saya jadi njengkerut.

Katanya sih awalnya dulu orang Mesir yang pertama kali pake cincin sebagai simbol cinta yang tidak berujung alias abadi. Katanya lagi, cincinnya harus dipakai di jari manis (atau jari keempat) karena di jari itulah ada pembuluh darah spesial yang langsung berhubungan dengan jantung. Whuzzz.. Makanya sampai sekarang jari manis disebut 'ring finger' dalam bahasa Inggris.

Oh, apa legenda ini ya yang akhirnya jadi sebuah pakem yang disetujui bersama kalau orang mau tunangan tu harus pakai cincin di jari manis?

Hmmm, coba kita lihat kalo orang Romawi gimana. Katanya, mereka malah menganggap cincin itu sebagai 'bukti kepemilikan' kayak BPKB itu lho. Hehehe.. Siapa yang pakai cincin ini berarti dia milik saya...gitu.
Wah, sisanya dibaca sendiri aja ya di sini :)

Jadi, kenapa harus pakai cincin ya?
Dan kenapa saya harus patuh terhadap aturan itu?
Tapi kenapa tidak?
Lalu kalau saya jadi membeli cincin tunangan untuk saya sendiri (dan mungkin untuk Greg, pacar saya), sampeyan bakal percaya tidak? :)

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...