Friday, September 24, 2010

Tentang Pernikahan dan Sindrom Rumah Boneka #2

Saya lupa saya belum bilang beberapa alasan (pribadi) kenapa saya kok segan menikah.

Pertama, menyelenggarakan pesta pernikahan kok bagi saya menjadi mubazir. Ini sesuai dengan konteks saya yang kalau tidak kerja saya nggak bisa makan. Coba tengok pernikahan si R dan D tadi. Bapaknya R mengaku telah merogoh koceknya sampai 30 juta, termasuk untuk membayar tiga mobil sewaan lengkap dengan uba rampe merah jambunya, belum lagi DP pembayaran rumah barunya. Saya bisa maklum kalau memang keduanya berasal dari keluarga kaya raya. Tidak ada yang salah dengan menyelenggarakan pesta pernikahan yang wah, kalau memang punya uang banyak untuk itu. Nah kalau tidak? Penghuni kampung saya kebanyakan adalah penerima KMS (Kartu Menuju Sejahtera), termasuk keluarga saya. Saya tahu pasti gimana tetangga saya, dan om-om saya dulu, pontang panting mencari pinjaman kesana kesini untuk biaya pernikahan. Dan saya selalu nggak nyaman kalau saya punya hutang.

Suatu saat di rumah saya ada tamu. Maklum, bapak saya ketua RT. Jadi rumah tak pernah sepi dari orang yang datang. Kali ini, yang datang adalah kenalan baik orangtua saya, seorang Tionghoa yang baik dan sedang menguruskan surat pengantar RT untuk keperluan menikah di Catatan Sipil bagi putranya yang seumuran dengan saya.

Lho, anakmu itu kelahiran 85 to? (kata bapak saya sambil menyalin nomor KK di KTP anaknya bapak itu)


Iya. Lho, anakmu yang mbarep itu juga sepantaran dengan anak saya to?
*maksudnya: saya*

He'eh. (bapak saya masih sibuk nulis-nulis di surat pengantar RT)

Lha kapan nikahnya? Kapan sampeyan mantu?

(ibu saya yang ikut nimbrung menjawab) Ah, kayaknya Vani ndak mau. Dia sukanya belajar. Belum kepikiran. Dia itu pengennya bebas. Ndak mikir kawin-kawinan. (ibu saya nambahi lagi dengan berdeham-deham, bapak saya nggak komentar apa-apa)
*ah, ingin rasanya saya memeluk ibu saya saat itu juga!*




Memang sehari sebelum peristiwa itu, saya sempat ngobrol dengan ibu saya. Tema pernikahan tak sengaja tercetus karena kami mendapat undangan nikah dari tetangga kampung seberang. Spontan saya nyeletuk,aku emoh menikah lho Bu...

Saya pikir ibu saya akan memarahi saya, eh dia malah bilang dengan santai, he'eh, nikah sekarang mahal. Nggak cukup limabelas juta kalau mau resepsi di kampung. Apalagi di gedung. Uangnya buat nyekolahin adik-adikmu saja. *jawaban yang melegakan*
Ya. Lalu sisanya saya buat traveling. Sukur-sukur bisa ngicipi bir yang dibuat para biarawan di Belgia lalu ke Tibet ketemu Dalai Lama :)

Kedua, pernikahan itu tidak seindah warna aslinya. Maksud saya, akan terlihat indah pada awalnya namun lama kelamaan ya biasa saja. Saya sudah pernah nyoba living together dan sepertinya memang belum pada tempatnya kalau seumuran twenty-something memaksakan diri untuk tinggal serumah, karena akan banyak energi yang dimampatkan. Seumuran duapuluhan mestinya berkarya dan berkarya karena energinya besar dan membara. Dalam tulisan saya 3 tahun lalu itu, ada terma yang saya sebut sebagai "sindrom rumah boneka". Sindrom ini menyerang sebagian perempuan muda umur duapuluhan yang sudah berstatus istri. Sebagian lho. Ini tulisan saya yang sudah saya tulis ulang agar enak dibaca dan tahan lama :)

"sindrom-rumah-boneka"


Saya punya kakak kelas waktu SD, namanya H. Dia baru saja menikah dengan teman kuliahnya beberapa minggu lalu. Saya tak sempat datang ke resepsinya. Saya malah tertarik dengan undangan pernikahannya. Undangannya sih biasa, ada 3 foto pengantin di masing-masing halaman dengan adat Kalimantan, Jawa, dan busana muslim. Yang menurut saya aneh adalah ekspresi mereka dalam foto-foto itu. Kaku, tegang, seperti pas foto 3x4. Apa mereka grogi waktu difoto ya? Atau deg-degan? Bahkan secuil senyum pun nggak ada. Wajah-wajah tegang yang sama yang saya jumpai saat saya melawat ke resepsinya R dan D.

Si H ini umurnya 25 tahun dan istrinya 24 tahun (*3 tahun yang lalu). Masih sangat muda. Kalau sampeyan menganggap dualima sudah tua dan sudah pantes punya anak, saya malah menganggap kalau usia segitu sedang produktif-produktifnya :) Nah, apa yang saya rumuskan sebagai 'sindrom rumah boneka' itu terjadi pada si perempuan istri H itu.

Setiap pagi, saya selalu melewati halaman rumah pasangan muda itu. Rumah yang rapi dan bertaman aglonema. Rumah yang dibelikan orangtua H sebagai hadiah perkawinan mereka. (Kok sama kasusnya dengan R dan D ya? Hehe) Yang agak lucu, jarak rumah baru itu dengan rumah orangtua H hanya 100 meter. Rumah itu berjendela kaca besar-besar, sehingga jika siang hari dan cahaya dalam rumah cukup terang saya bisa melihat aktivitas yang dilakukan si penghuni rumah dengan jelas. Setiap pagi, kira-kira jam 8 saat saya hendak berangkat ke kampus, saya selalu mendengar suara tivi yang tak ditonton, atau terkadang ada sejulur betis kaki panjang nan ramping di atas sofa yang terlihat dari balik jendela.

Waktu saya pulang dari kampus sore harinya, si istri sedang menyapu teras mungilnya dan menyemprot rimbun aglonema. Crot crot. Sedang menunggu suami pulang dari kantor ya, batin saya. Kami kerap bertemu di warung kelontong saat saya membeli sampo limaratusan dan dia sedang belanja indomi, telur, gula dan kopi cap kapal. Kerap-kerapnya saya melihat dia sendirian di teras sambil melipat cucian di keranjang kecil dengan tivi masih menyala di ruang tamu. Terkadang saya mencium harum tumis kangkung atau bau bumbu mi goreng.

Hingga saya tak bosan-bosan lewat jalan itu. Saya bertanya dalam hati, mungkinkah dia bosan karena dia sendirian dan tak tahu harus berbuat apa setelah dia selesai mencuci, memasak, menyapu, membersihkan tempat tidur, menyeterika, menyiram aglonema. Crot crot. Apakah ini yang dia inginkan saat dia memutuskan untuk menikah, menjadi penunggu 'rumah boneka' yang setia. Seperti gadis kecil enam tahun yang lelah setelah bermain asyik dengan rumah bonekanya: menggantikan baju, masak-masakan, dokter-dokteran...

Dulu waktu saya kecil, saya senang main 'anak-anakan kertas' dengan anak tetangga sebelah atau teman sekelas. Kami punya rumah kecil yang kami atur dari bungkus-bungkus rokok (bapak saya perokok berat) dan si boneka kertas itu kami dandani hingga cantik, makan di atas meja makan dari bungkus korek api, naik mobil rokok bentoel, lalu ketemu dengan pria tampan yang naik mobil rokok gudang garam. Menikah. Terus punya anak lucu. Dan permainan diulang lagi dari awal. Saya menyimpan boneka kertas dan baju-bajunya ke dalam bungkus rokok tujuenam, lalu saya masukkan harta karun saya itu ke dalam kaleng bekas Khong Guan. Untungnya bapak saya punya banyak koleksi bungkus rokok yang kalau ditempelkan satu dinding rumah bisa penuh. Jadi saya dulu cukup kreatif memanfaatkan bungkus rokok bapak saya. Bisa saya buat jadi mobil, tempat tidur, lemari baju, lemari es dua pintu, pintu gerbang, jembatan,
dan kolam renang. Itulah rumah boneka saya, dulu.

'Sindrom-rumah-boneka' bisa saya sebut sebagai keinginan kuat akan romantisme masa kecil dan memori kanak-kanak untuk mengulangi kembali permainan boneka kertas saat semua bahannya sudah terhidang di depan mata: rumah, dapur, baju-baju, dan suami. Sayangnya kali ini mereka bukan terbuat dari kertas atau bungkus rokok. Dan saat si perempuan sadar, ia sudah berada dalam rumah berjendela kaca besar-besar, sendirian menunggu suami pulang dan menghabiskan waktu di depan tivi yang menyala. Dia tidak bisa bilang, capek ah main bonekanya, pulang yuk, besok kita maen lagi ya. Seperti saat waktu kecil dulu, karena sekarang sudah terikat janji di depan penghulu dan hijaunya buku nikah.

Itu 3 tahun yang lalu.

Sekarang R dan D sudah punya balita yang selalu dimasukkan dan didorong di kereta bayi. H dan istrinya menjual rumah berjendela besar itu dan pindah ke Kalimantan. Saya jarang mendengar kabar tentang mereka lagi.

Saya tidak anti-pernikahan. Saya malahan sangat terharu dengan teman-teman sebaya saya yang berani menikah, dan saya tidak. Saya menulis ini semua karena saya sedang meledak-ledak karena saya grogi saya hendak dualima. Biarkan saya dan Greg, pacar saya tetap begini saja. Dan saya akan nikmati semua perasaan berdesir yang membelai jantung saya diam-diam saat sampeyan mengulang-ulang kata-kata itu:

p-e-r-n-i-k-a-h-a-n...



No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...