Friday, September 24, 2010

Tentang Pernikahan dan Sindrom Rumah Boneka #1

Saya takut pernikahan.
Tepatnya, saya takut untuk menikah - jujur saja.

Begitu bunyi dua kalimat awal pembuka tulisan saya yang ditulis sekitar tiga tahun yang lalu. Tulisan ini tiba-tiba muncul kembali dalam pikiran saya. Ia seperti kecambah yang minta disirami karena lama tak ditengok. Dan saya pikir, kembali menampilkannya di dalam wadah ini masih sangat relevan.

Kenapa? Beberapa minggu terakhir saya dikejutkan dengan kabar bahwa teman-teman dekat saya (yang perempuan) akan menikah. Saya agak shock dan terkejut memang, karena saya pikir mereka sepikiran dengan saya tentang pernikahan. Tapi memang di usia saya yang hendak menginjak dualima ini, saya dihadapkan pada sebuah krisis perempat abad. Krisis, yang kata teman baik saya, Lusia Nini Purwajati, dimana pernikahan menjadi isu hangat yang menjadi beban pikiran para perempuan muda.

Hmm, sampai saat ini saya masih ogah dan belum mau menikah. Banyak alasannya. Dan salah satunya sampeyan bisa baca tulisan saya di bawah ini. Yang sudah saya tulis ulang agar lebih enak dibaca. Seperti kecambah mungil yang sekarang sudah bertelur dan menghasilkan tauge segar untuk dicampur ke dalam semangkok soto ayam atau sepiring lotek saus kacang yang dimakan guna menambah produksi sperma dan sel telur :)

Saya takut pernikahan.
Tepatnya, saya takut untuk menikah - jujur saja.

Kira-kira awal Juli 2007, saya diajak bapak saya untuk ikut dalam 'rombongan mempelai laki-laki' yang hendak menghantarkan 'hantaran' ke keluarga mempelai perempuan.
*Betewe, ucapkan sekali lagi kata itu: 'mempelai'. Enak kan? Rasanya seperti 'terbelai' dan 'terkulai' layaknya 'cerpelai'..Ah, bunyinya enak sekali di lidah!

Oya, lanjut ke mempelai laki-laki itu. Sebut saja R. Dia masih terhitung kerabat dengan saya. Meski jauh, tapi tidak apa-apa. Dianggap saja. Nah, si R ini dulunya adalah teman sepermainan saya jamannya kami masih suka Satria Baja Hitam dan Sein Seiya.

Si R ini berusia 23 tahun (*ingat, tulisan ini saya tulis 3 tahun yang lalu*), sedangkan si perempuan, sebut saja D, baru saja matang dari oven bernama SMA. R dan D ini setahu saya sudah berpacaran sejak 2005. Jadi ya, orang kampung menganggap wajar kalau mereka akhirnya menikah.

Nah, saat saya diajak ke pernikahan mereka, saya sih ayo-ayo saja. Saya pengen tahu, bagaimana sih ekspresi anak muda jaman sekarang saat menikah di usia muda, apalagi keduanya sudah saya kenal baik. 

Jadi, mari kembali ke bangku belakang mobil dimana saya duduk ditumpuki bermacam-macam hantaran kawinan yang melonjak-lonjak kegirangan di atas jalanan utara Jogja sore itu. Ketika saya iseng melihat ke sekeliling dan mengamati bentuk-bentuk hantaran itu, saya tersenyum sekaligus meringis.

Ada 2 kotak masing-masing berisi jenang ketan manis warna putih dan pink bentuk hati yang kotaknya dihias dengan pita-pita lembut merah jambu. Ada sekeranjang 'girl stuff' seperti beha warna pink tua, celana dalam satin warna senada, losion warna pink, sampo anti ketombe warna pink neon, lipstik warna pink, bedak padat yang casing-nya warna pink muda, dan trio pelembab-pembersih-penyegar warna merah muda yang diikat dengan pita merah jambu. Ajaib ya, semuanya PINK! Bahkan pemilihan kosmetik di dalam keranjang itu tidak berdasar merek, tapi berdasarkan warna!

*Ah, generalisasi pemaknaan atas warna ternyata sudah mencapai ke ranah-ranah pribadi, batin saya*

Jangan berhenti dulu. Sampeyan harus  melihat sisanya.

Ada keranjang pink berisi tas tangan imut warna putih dan sandal hak tinggi yang cukup seksi. Lalu sekeranjang apel, jeruk dan pisang yang dipenuhi hiasan pita-pita dan kertas krep warna merah jambu (lagi?). Bahkan di setiap ujung pisang menancap topi kerucut lancip warna merah jambu. Saya ketawa. Ingat iklan kondom Fiesta yang tayang tengah malam. 

Itu semua barang-barang hantaran yang dipangku oleh saya dan adik-adik saya yang berjejalan di bangku belakang. Yang ada di bawah kaki-kaki kami adalah sekarung beras, gula pasir, minyak sayur, telur, dan satu kotak yang mendapat tempat terhormat adalah, jreng jreng jreng, kotak kecil merah jambu berisi cincin emas dan uang satu juta rupiah yang dilipat-lipat sedemikian rupa hingga menyerupai bunga mawar merekah berwarna merah jambu!

Saya meringis. Nggak tahu pengen ketawa apa mendelik.

Di dalam mobil, saya mendengar pertanyaan bapak saya yang duduk di samping sopir, yang notabene adalah bapak si teman saya, si R.

Setelah menikah, R dan D akan tinggal di mana to?

Oh, saya telah mengkredit rumah sangat sederhana (RSS) di selatan kota, khusus untuk 'temanten anyar'. 

Hahaha. Tertawa bersama-sama satu mobil. Kecuali saya, tentu saja.
Saya hanya meringis. 

Kemudian, tiba-tiba saja semuanya seolah dipercepat seperti ada yang memencet tombol 'ffwd' di batok kepala saya. Saya melihat wajah-wajah tegang saat kedua mempelai bertemu, wajah-wajah bahagia keluarga mempelai perempuan karena hantaran nikahnya banyak sekali (bonus sembako), dan wajah ingin tahu saya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Saya melirik R. Wajahnya tegang sekali. Keringat menitik beberapa di dahinya. Senyumnya tegang dan saat saya mengajaknya bersalaman, tangannya tremor dan telapaknya basah kuyup.

Prosesi berjalan lancar. Bapak saya jadi kyai informal yang mendoakan dengan mata terpejam dan kumisnya bergerak-gerak, semoga menjadi keluarga sakinah mawwaadah warrohmah, katanya, dan semuanya beramin-amin. Saat mereka berikrar, saya seperti terlempar dari ruang, dan waktu seakan berhenti.

Janji-janji pernikahan, saling lirik malu-malu, jari-jari bertaut, cincin mengkilap terpasang, dua buku hijau berstempel, dan desah nafas tertahan yang menjanjikan kenikmatan nanti malam. Lalu cium dahi dan kening dan tangan. Lalu tepuk tangan dan senyum lebar dengan pikiran:
"Akhirnya aku sudah menikah!"

m-e-n-i-k-a-h

Sepertinya sangat indah sekali scene di atas. Semuanya serba suci dan khusuk. Saat itulah saya menggigil. Tepat saat itulah tetangga saya bertanya, kapan giliranmu. Mungkin dia bertanya itu karena melihat mulut saya terbuka dan mata saya kosong melihat ijab kabul. Saya tergagap. Tak menjawab.

Saya takut pernikahan.
Saya selalu deg-degan kalau diajak teman atau ibu saya 'njagong manten'.
Ada perasaan berdesir yang aneh saat masuk ke ruang pesta pernikahan dan ada sesuatu yang meremas jantung dan membelainya diam-diam.

Dulu (waktu saya nulis tulisan ini 3 tahun lalu). saya menganggap pernikahan itu hanyalah institusi yang memformalkan hubungan seks demi untuk memperlancar keturunan dan menggiring keduanya ke dalam sebuah ikatan dan konstruk sosial bernama keluarga.

Saat ini, ketika saya mencoba menulis ulang tulisan ini dan menambahinya sesuai dengan konteks saya saat ini, saya akan bilang, saya masih setuju dengan pendapat saya di atas, tapi saya akan menambahinya dengan sebuah kalimat: 
...pernikahan menjadi hal yang rumit dan isu yang hangat dan kabar yang selalu membuat jantungmu berdesir saat kau berumur dualima dan pacarmu beda agama dan kau sudah pacaran dengannya selama 5 tahun....

*sigh*

-bersambung-

2 comments:

  1. Dulu (waktu saya nulis tulisan ini 3 tahun lalu). saya menganggap pernikahan itu hanyalah institusi yang memformalkan hubungan seks demi untuk memperlancar keturunan dan menggiring keduanya ke dalam sebuah ikatan dan konstruk sosial bernama keluarga.


    betul,dan karena itulah kita disebut manusia,mbakyu...ndak ada yang perlu ditakutkan,sekali lagi,ndak ada,Tuhan bersama orang2 yg berani,wis talah percoyo aku..

    ReplyDelete
  2. @Mas Bayu: hehehehe. sip. tetep masih mikir kalau mau nikah, hehehe :p tapi nuwun komennya :) sip.

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...