Thursday, September 23, 2010

Romantisme Seratus Lima Puluh Perak

Apa yang sampeyan beli kalau punya uang seratus lima puluh perak?

Alias satus seket gelo.

Menulis tentang Kobutri membuat saya ingat tentang petualangan saya selama bertahun-tahun naik kol kuning yang sekarang hampir masuk Sonobudoyo itu.

Perkenalan saya dengan Kobutri terjadi saat saya masuk SMP 8 tahun 97. Ikatan kuat selama 3 tahun membuat hubungan saya dengan Kobutri semakin mesra. Apalagi selama saya kuliah di Sadhar sejak tahun 2003 sampai sekarang saya masih naik Kobutri.

Saya masih ingat saat saya pertama kali masuk SMP, diantar Ayah saya di muka jalan KS Tubun untuk menunggu Kobutri jam enam pagi.
Dan nantinya, sambil menunggu harap-harap cemas, saya akan terus menengok ke arah selatan, berharap si gendut Kobutri datang. Dan memang si kol kuning itu datang dengan banyak orang menggelayuti tubuh gemuknya. Kebanyakan anak STM Jetis. Murid SMA 6. Dan tentu saja murid SMP 8. Karena memang rute Kobutri jaman segitu lewat depan SMA 6 persis alias tentu saja lewat di depan SMP 8 persis.

Ongkos bis untuk pelajar saat itu: Rp 150,-

Ya. Satus seket gelo.

Dan uang saku saya waktu SMP hanyalah lima keping uang seratusan saja. Untuk ngebis dua kali dan jajan dua ratus perak.
Kalo ngomong tentang Kobutri, yang ada di pikiran saya:
1. Nunggunya lama
2. Nggak ada penumpang
3. Kobutrinya sedikit
4. Kasihan

Dan di sinilah saya biasanya menunggu Kobutri. Tepat di depan GKI Ngupasan di depan Apotik K 24 (sekarang, dulu apotiknya belum ada) dan saya kenal baik dengan bapak di gambar ini karena dia timer Kobutri dan jalur 5. Meski sekarang saya jarang melihat bapak ini lagi. Mungkin sudah nggak jadi timer lagi. Lha wong nggak ada yang di-timer-i...

Kembali ke uang seratus lima puluh perak...

Saya ingat saya kalau jajan waktu SD, seratus lima puluh bisa beli sepiring kecil nasi dengan oseng-oseng tempe yang manis dan sejumput bakmi di warungnya Bu Mur (sebelah timur gerbang SD Muhammadiyah Purwo 2).
Kalau kata Greg, pacar saya, waktu SD uang seratus lima puluh dia bisa beli arem-arem dan criping juruh (semacam lempeng besar berminyak dengan dihiasi lukisan dari cairan gula berwarna coklat di atasnya).
Ah, namanya saja romantisme :)


*kalo sekarang uang seratus cuma bisa buat ngerokin Greg yang sedang flu*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...