Tuesday, September 28, 2010

Kisah Ayu Utami dan Telur Ayam

Siang itu, saat saya melintas di Jalan Moses, ada yang berdering dari dalam tas saya. Ternyata sebuah panggilan dari Yayasan Umar Kayam yang meminta saya untuk menjadi moderator dalam diskusi novel terbaru Ayu Utami yang berjudul 'Manjali dan Cakrabirawa'. Siapa yang menolak? Tentu saja saya mau. Kebetulan saya juga belum pernah bertemu dengan Ayu Utami.

Tulisan Ayu Utami yang pertama saya baca adalah 'Parasit Lajang'. Baru saya membaca 'Saman', 'Larung', 'Bilangan Fu', dan saat itu saya belum membaca 'Manjali dan Cakrabirawa'. Mbak Putri, yang menelpon saya dari Yayasan Umar Kayam bersedia untuk memberi saya novel terbaru itu, gratis. Lumayan, pikir saya.

Jadilah saya membaca dan mempelajari 'Manjali dan Cakrabirawa'.
Sampeyan tahu kan, ketika kita menyukai seseorang, ada rasa-rasa halus yang membuat jantung memompa lebih cepat, membuat tangan kita gemetar, dan mengacaukan sistem kerja otak dengan mulut yang akhirnya membuat bibir kelu dan susah ngomong. Saya takut mengalami hal itu saat saya bertemu dengan Ayu Utami.

Lho, kok bisa? Memang ada beberapa kalangan akademisi yang mengkritisi tulisan-tulisan Ayu Utami dan bisa berdiskusi panjang lebar serta panas di pojok-pojok kantin kampus atau di lorong-lorong kampus. Saya sih mendengarkan dan ikut belajar saja saat saya ada di tengah-tengah diskusi itu. Karena saya menikmati setiap tulisan yang ditulis entah siapa, terkenal atau tidak, feminis atau tidak, sastra atau tidak, dan best-seller atau tidak. Dan untuk kasus Ayu Utami, sepertinya saya telah jatuh hati pada pandangan pertama saat saya membaca tulisan-tulisan singkatnya di 'Parasit Lajang'. Apalagi tulisan saya juga masuk dalam kategori yang kata teman baik saya, Gugun, disebut sebagai  'sastra betis' :) Sampeyan tahu apa maksudnya kan?

Jadi, sore itu, saya kebagian menjemput Mbak Ayu di sebuah hotel di bilangan Sosrowijayan. Saya berdiri cukup lama di meja resepsionis hotel dan menunggu, dan menjadi senewen karena mbaknya malah melayani bule-bule yang hendak check out. Setelah kepala mbak resepsionis menggeleng-geleng dan menggeleng-geleng terus tanpa henti, saya putuskan, oke, saya salah hotel, dan harus pergi ke hotel yang lain dengan nama yang sama di ujung jalan. Saat saya hendak berbalik, saya berjalan sambil melihat jam digital di ponsel saya dan nyaris saya membentur jendela kaca yang super bening dan super besar. Sungguh, saya tak melihat kalau yang ada di hadapan saya itu jendela. Seorang room boy yang melihat hidung saya berjarak hanya lima senti dari kaca super bening itu mesam mesem. Sialan. Sepertinya saraf otak dan kaki saya sudah mulai terganggu.

Jadilah saya pergi ke hotel bernama sama di ujung jalan. Dan lagi-lagi mbak resepsionisnya menggeleng-geleng tanpa henti. Saya mati-matian menjelaskan ciri-ciri fisik dan non-fisik seorang Ayu Utami yang baru saja saya lihat fotonya siang tadi waktu saya sedang browsing. Mbaknya tetap menggeleng-geleng dan sepertinya agak kesal juga dengan saya yang ngeyel.

Maaf, mbak. Tapi kamar kami tidak ada yang bernomor awal empat. Mungkin mbak salah hotel. Kami juga ada hotel lain dengan nama yang sama di tengah jalan ini.
*sambil menggeleng-geleng*

Saya sudah ke sana mbak.
*dan hampir ketabrak kaca jendela superbening dan superlebar*
Dan kata mbak resepsionisnya juga ndak ada.

Mungkin mbak salah nama. Bener namanya Ayu Utami? Mungkin check-in'nya dengan nama lain. Dengan nama suaminya mungkin?

Wah, mbak resepsionis ini sudah pasti belum pernah baca Parasit Lajang, pikir saya.

*gantian saya yang menggeleng-geleng dengan kecepatan super*
Dia penulis mbak. Dari Jakarta. Rambut panjang. Ada tahi lalat di wajahnya.

Penulis? Hmm. Sebentar ya mbak. Mbak boleh duduk di sana sebentar.
*lalu mbak resepsionis itu sibuk berhalo-halo dan menggeleng-geleng, lalu mengangguk-angguk*

Mbak, ini yang rombongan seminar ya?

Saya mengangguk-angguk dengan kecepatan super.
Dan tiba-tiba ponsel saya berdering. Nama Ayu Utami berkedap-kedip di layar.

Dan saya menghembuskan napas panjang dan lega karena saya melihat sosoknya di luar lobi.

Jadilah kami berempat naik taksi. Mbak Ayu mengajak dua orang temannya untuk ikut serta dalam rombongan kecil ini. Perjalanan diisi dengan obrolan ringan tentang sudut-sudut Jogja. Hingga sampailah pada pembicaraan tentang Gudeg Yu Jum yang terkenal itu. Dan taksi lalu meluncur ke Jalan Kaliurang untuk berburu gudeg yang konon kabarnya cepat habis itu.

Sampai di Gudeg Yu Jum, ternyata kabar itu tak sepenuhnya benar pun salah. Gudeg ayam memang habis. Tapi telur dan kepala ayam masih tersisa. Dibungkuskanlah empat bungkus gudeg telur lengkap dengan kerupuk. Lalu kami meluncur ke Yayasan Umar Kayam.

Orang-orang sudah mulai berdatangan dan saya bilang kepada Mbak Putri, kalau kami hendak makan malam dulu sebelum mulai diskusi dan peluncuran novel. Mbak Putri bilang oke oke.

Kami berempat lalu duduk dan mulai membuka bungkusan gudeg. Saya duduk di samping Mbak Ayu. Dan kami mulai makan. Wah, gudeg telur memang oye, pikir saya. Dengan sekuat tenaga saya arahkan sendok saya ke telur ayam coklat yang lumayan besar itu, hendak mengirisnya menjadi dua agar lebih mudah dimakan.

Dan terjadilah hal memalukan itu.

Pasti telur ayamnya Yu Jum berasal dari ayam kampung yang lincah. Terbukti sang telur melesat menghindari terkaman sendok saya dan meloncat tinggi membentuk kurva selebar lima belas senti dan hilang di bawah meja.

Saya membeku.

Sedetik kemudian saya lalu berjongkok ke bawah meja dan melihat sang telur ayam kampung coklat yang lincah itu mendarat persis di dekat jempol kakinya Ayu Utami.

Spontan saya raih telur nakal itu dan membawanya ke permukaan. Di atas meja, wajah-wajah yang sulit saya tafsirkan apa maknanya melihat ke arah saya yang embuh sudah berwarna apa wajah saya ini.

Udah dibuang aja. Kan udah jatuh.

Saya bungkus erat-erat telur nakal itu dengan selembar tisu makan. Dan saya kembali makan gudeg telur tanpa telur dengan perasaan yang berkecamuk.

Mungkin Mbak Ayu berpikir:
Kenapa si moderator itu harus membungkus telur itu dengan sebungkus tisu makan ya?
Kenapa tidak dibuang saja ke tempat sampah?

Dan mungkin akan saya jawab:
Karena saya melihat telur ayam itu bercengkerama dengan jempol kakimu, Mbak.

5 comments:

  1. 6 tahun yang lalu saya mengalami kepanikan yg serupa ketika ketemu Seno Gumira Ajidarma. parah. hahaha.. deg-degannya lebih parah dr ketemu pacar!

    The Picnic Girl

    ReplyDelete
  2. @ Miy sang Gadis Piknik :
    hehehe, tapi kamu nggak sempat liat jempol kakinya Mas SGA to? hehehe :)

    @Elga:
    syiiip :) ikuti terus petualangan saya yg memalukan yaaa :)

    ReplyDelete
  3. waaaah Miy tuh Mbak Miraaaaaaa tooo :-)
    wah blog-nya kereeeeen...kapan aku bisa punya blog kayak gitu yaaaa....eh majalah Huff-nya bisa didapat di mana Mbak :)

    ReplyDelete
  4. Ohohohoho.. iya.. Miy adalah Mira. Makasiih.. makasiih.. blog kmu juga lucu..

    Huff bebas di download lewat websitenya, van.. kami juga nerima karya jadi klo mau join kontribusi. Ok? Ok? (bantu promo promo yaaaa) ;)

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...