Thursday, September 23, 2010

Ketika Para Ibu Rumah Tangga Turun ke Jalan

Saya melambaikan tangan ke arah Kobutri kuning yang lewat di Jalan Ahmad Dahlan pagi itu. Saya berdiri tepat di samping Halte Trans Jogja.

Saya memang kadang memilih untuk naik Kobutri ke kampus kalau saya melihat kol kuning itu lewat, daripada menunggu Trans Jogja. Bukan apa-apa sih, saya hanya sedih melihat mereka (Kobutri maksudnya) sudah jarang penumpangnya. Jadi, pagi itu, saya yang punya janji dengan pak dosen ganteng yang ngajar manajemen di Sadhar, langsung berlari-lari menyongsong Kobutri. Hanya ada 3 orang penumpangnya. Saya, seorang nenek, dan seorang bapak paruh baya.
Mata saya lalu tertumbuk pada seorang ibu berjilbab, sudah tidak muda lagi, 40-an usianya, duduk tepat di belakang pak sopir. Saya tahu kalo ibu ini bukan penumpang, karena saya sudah sering naik Kobutri yang ini.

Ibu berjilbab dengan kacamata dan pupur tebal tadi adalah istri sang sopir yang merangkap menjadi kenek dan kondektur Kobutri yang sedang saya tumpangi pagi tadi. Ya jadinya Ibu itu berdiri di depan pintu Kobutri, nariki ongkos, dan berakrab-akrab sebentar dengan penumpangnya.
Maka, terlibatlah saya dalam sebuah pembicaraan dalam bahasa Jawa halus yang seharusnya saya tidak mendengarnya dan (harusnya saya) berpura-pura sibuk melamun.
Ini dialog mereka yang sudah saya terjemahkan dalam Bahasa Indonesia campuran:

Nenek (N) : Sampeyan kok ikut ngenek Bu?

Ibu berjilbab alias Kenek (I) : Iya. Sekarang Bapak'e ndak pernah pake kenek lagi. Nggak kuat mbayar. Jadi ya saya yang ikut.

N: Oh, itu (nunjuk pak sopir) suaminya to?

I: (mengangguk) Jaman sekarang susah nyari penumpang, Bu.

N: Lha kok malah sampeyan yang ngenek?
*weh, simbah itu aneh, mbulet pertanyaane, pikir saya*

I: Saya itu dulunya usaha ratengan, Bu. Kecil-kecilan Bu. Ndak banyak.
*ratengan artinya masakan matang/nasi+lauk pauk*

N: Di mana?

I: Di pasar.

N: Oh, sekarang kalau cuma jual ratengan di pasar nggak cukup Bu. Harus ada pembeli tetapnya. Misal di kantor atau apa. Jadi kayak katering.

I: Iya, Bu. Memang. Saya sukanya masak. Sebenarnya ya jual ratengan itu sambilan aja. Daripada nganggur di rumah. Wong dulu itu Bapak'e bisa dapat banyak kalau narik (Kobutri). Sekarang kok... (pandangan menerawang)

N: Lha, sampeyan kalau ikut ngenek kayak gini, yang masak siapa di rumah?
*wah, nenek ini menyelidik sekali, pikir saya*

I: (tertawa gelisah) Ya saya masak pagi-pagi. Buat sarapan trus sebagian dibungkus untuk bekal makan di Kobutri. Nanti kalau pulang masakan tadi pagi itu saya hangatkan lagi.
*Saya melirik ke atas dashboard. Ada tas kresek putih mengembang (yang saya duga isinya bekal makan siang mereka berdua) di samping botol mizon yang isinya bukan mizon*

N: Sekarang memang jamannya susah.
*klise, batin saya*

I: Sekarang kan semua orang sudah punya henpon. Semua orang sudah punya motor. Ya itu Bu penyebabnya.
*analisa yang menarik, pikir saya, karena teknologi, hmmm...*

Pembicaraan terhenti karena bapak di samping saya berteriak, kiri kiri...


Hmmm,
Ada yang mengganjal di pikiran saya. Bukan hanya karena dialog yang secara kejam saya jejali dengan pikiran-pikiran saya sendiri. Tapi karena Ibu yang (terpaksa) jadi kenek itu bukan satu-satunya ibu yang turun ke jalan, meninggalkan rumah, dan membantu suaminya bekerja.
Saya sering nongkrong di kosnya Greg di bilangan Mrican. Setiap hari-hari tertentu, Jumat atau apa gitu, pasti ada pengamen, ibu-ibu berjumlah 2/3 orang yang mengamen menyanyikan lagu campur sari/dangdut dengan modal alat musik sekadarnya. Suaranya bagus. Tapi khas ibu-ibu rumah tangga.
Ada juga Ibu yang jadi loper koran tiap siang di perempatan Jlagran atau depan McD.
Dan pastinya masih ada banyak ibu rumah tangga yang terpaksa turun ke jalan karena di dapur mereka tak ada lagi yang bisa dimasak....



*sigh*

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...