Saturday, September 25, 2010

Kenapa Saya Nggak Bisa Naik Sepeda Motor?

Saya nggak bisa naik motor.
Percayakah sampeyan?
Hahaha. Di jaman yang semuanya dipercepat ini masih ada produk yang ndak bisa mengikuti lajunya percepatan itu, yaitu saya. Hahaha. Ndak papa, tertawalah bersama saya.

Alasan kenapa saya ndak bisa naik motor sederhana, karena saya ndak punya motor. Alasan ini selalu disangkal teman-teman saya, katanya orang bisa naik motor kan nggak harus punya motor, Van. Hahaha. Gimana saya bisa belajar naik sepeda motor kalau selama saya tk, sd, smp di Jogja keluarga saya ndak punya motor.

Kami adalah keluarga penyepeda. Sepeda pertama saya dibelikan bapak saya saat saya umur 5 tahun. Mereknya Family. Tiga roda. Warnanya oranye. Sekaligus helmnya. Jadilah saya naik sepeda roda tiga mubeng-mubeng kampung tiap sore. Nggenjot sepeda roda tiga tuh malah capek lho, karena rodanya lebih banyak. Hehehe. Dan kaki saya kan pendek, jadi semakin capek. Bapak saya kemana-mana juga pakai sepeda. Ibu saya ndak bisa mengendarai alat transportasi apapun. Jadi yang nganter kemana-mana ya bapak saya itu pakai sepeda. Jangan bayangkan sepedanya onthel, aseli jogja, yang warna ijo itu, bukan. Sepedanya sangat tidak mbois. Sepeda federal bajakan ditambahi boncengan di belakangnya dengan warna yang tak bisa diidentifikasi.

Nah, kalau sampeyan mengira saya seorang biker, simpan dulu anggapan sampeyan itu. Percaya tidak, saya masih naik sepeda roda tiga itu hingga saya kelas 2 sd. Dan empat tahun sesudah itu saya selalu menjadi pejalan kaki karena sepeda roda tiga saya sudah aus dan sudah tidak bunyi toet toet lagi. 

Selama empat tahun itu, teman-teman sd saya ngiming-ngimingi saya dengan sepeda-sepeda mereka. Federal merah dengan botol minum warna hitam yang bisa dicangkolke di sepeda, atau sepeda BMX kuning yang sangat ngetren sekali waktu itu. Saya selalu benci Minggu pagi karena saat teman-teman sd saya janjian pit-pitan muter-muter alun-alun, saya tidak pernah diajak. Awalnya saya minta mereka untuk memboncengkan saya, tapi siapa yang mau? Lagian sepeda federal ndak ada boncengannya.

Jadilah saya menjadi pecandu Doraemon, Sailor Moon, dan Sein Seiya. Nongkrong di depan tivi tiap Minggu pagi. Lama kelamaan saya jengah dan pengen bisa naik sepeda roda dua. Oops, saya lupa bilang, ya, saya belum bisa naik sepeda roda dua. Nggak ada yang ngajarin saya naik sepeda. Mau latihan pakai sepeda anaknya tetangga saya juga malu. Sepedanya bagus. Roda dua. Tapi ada dua roda kecil di belakang. Jadi rodanya empat. Masak anak kelas enam sd pakai sepeda roda empat?

Saya frustasi.

Saya bertekad harus bisa naik sepeda. Lalu saya punya ide. Sahabat baik ibu saya, punya anak perempuan, Kiki namanya. Waktu saya kelas enam sd saat itu, dia masih kelas tiga. Tapi perawakan kami sama. Jadi bayangkan betapa imutnya saya waktu itu :)

Saya berpura-pura bilang pengen nginep di rumahnya. Ibu saya tentu membolehkan. Rumahnya di Jalan Kaliurang, bapaknya bekerja jadi penyiram anggrek. Jadi rumahnya di tengah kebun anggrek. Dan saya tahu kalau Kiki sudah bisa naik sepeda dan punya sepeda sendiri.

Jadilah saya ke rumahnya menghabiskan liburan cawu yang hanya 3 hari itu. Dan ternyata, sepeda Kiki nyaris sama dengan sepeda anak tetangga saya yang rodanya empat itu, tapi roda kecil di belakang sudah tak ada. Dan sepedanya agak lebih tinggi. Saya bilang tanpa malu,
Ajarin saya naik sepeda ya, Ki.

Dimana Mbak? Ndak ada lapangan di sini.
Saya terdiam. Saya punya ide.
Kebun anggrek di belakang rumah Kiki luas sekali. Tapi, tahukah sampeyan kebun anggrek itu seperti apa? Semacam rumah kaca yang tak ada kacanya, terbuat dari bambu, dengan ratusan bibit anggrek warna-warni, ungu, kuning, belang-belang, putih, yang ditata rapi di atas semacam amben-amben atau bale-bale bambu yang luas. Jadi ada jalan sempit yang memisahkan amben satu dengan amben lainnya. Di situlah biasanya bapaknya Kiki mondar-mandir dengan alat penyiram dan pupuk semprot tiap pagi dan sore.
Saya bilang, di sini aja ndak papa, Ki.

Jadilah saya teriak-teriak, wadow, wadow, setiap lima menit.

Kiki bertugas sebagai pengontrol. Dia memegang bagian belakang sepeda untuk membantu menyeimbangkan saya. Dan saya mengayuh pedal sekuat tenaga, Kiki mendorong saya sekuat tenaga juga, dan berlari-lari mengikuti dan menjagai saya dari belakang. Dan saya berwadow-wadow karena jatuh saya selalu di tempat yang tidak estetis. Nubruk bibit-bibit anggrek yang sudah tertata rapi dalam sak-sak plastik, dahi saya terbentur amben tempat bibit anggrek, nyungsep di bawah amben, dan ketindihan sepeda. Lutut saya lecet-lecet dan hari itu saya dinyatakan mentor setia saya, Kiki, gagal.

Paginya, saya siap. Kali ini Kiki punya strategi. Saya akan menaruh kaki kanan saya di pedal, kaki kiri saya di tanah. Begitu saya bilang, ayo, Kiki akan mendorong saya dengan kecepatan super dan saya akan meluncur. Tentu saja kaki kiri saya harus sudah di atas pedal. Dan hasilnya saya menjerit kencang-kencang kegirangan. Saya bisa mengayuh sepeda kecil itu kencang sekali hingga saya tidak tahu caranya mengerem saat saya melihat bapaknya Kiki datang dari tikungan sambil membawa gembor besar.

Kamu harus mengajari saya caranya mengerem, Ki. Saya ndak tahu gimana.
Hahahaha. Kiki ketawa. Lama sekali.

Tiga hari saya diprivati Kiki yang baru kelas 3 sd itu, dan saya kelas 6. Di hari terakhir, saya sudah bisa naik sepeda pelan-pelan, hiyag hiyug seperti orang mabuk. Tapi yang penting Kiki sudah tidak berlari-lari di belakang saya. Dia ada di ujung dan saya di ujung yang satunya. Dia menyambut murid pertamanya. Dan kami senang sekali hari itu. Dua anak kecil yang tingginya tidak lebih tinggi dari amben anggrek bersorak-sorak di tengah kebun anggrek berwarna kuning yang ikut bergoyang-goyang senang melihat kami.

Jadi begitulah, saya baru bisa naik sepeda roda dua saat saya kelas 6 sd. Meski bapak saya tak kunjung membelikan saya sepeda, tapi saya bisa pinjam sepeda bapak saya yang super jelek itu dan setiap Minggu pagi saya sudah muter-muter alun-alun utara dengan teman-teman sd saya.

Tiba saatnya saya smp. Dan saya masih belum bisa naik sepeda motor. Saya menunggu waktu yang tepat. Kelas satu, kelas dua, kelas tiga. Berlalu begitu saja. Tak ada sepeda motor. Tak ada guru seperti Kiki. Dan saya tak bisa apa-apa.

Waktu sma, saya pindah ke Mojokerto. Saya tinggal dengan nenek saya. Teman-teman saya hampir semuanya pakai sepeda motor. Dan saya bilang, saya ndak bisa naik motor. Banyak yang nawarin saya ngajarin saya naik motor. Tapi janji tinggallah janji. Tiga tahun di sana dan pulang ke Jogja saya tetap ndak bisa naik kendaraan berat itu.

Tiba masa-masa kuliah. Saya ketemu Greg. Saya bilang, ajari saya naik sepeda motor. Motor Greg waktu itu astrea grand yang pendek dan menurut saya tidak begitu berat. Jadilah saya diajak ke GOR Tridadi Sleman dan diajari naik motor. Waa. Satu puteran. Dua puteran. Tiga puteran dan saya ngegas terlalu keras dan njungkel. Hahahaha. Greg yang saya bonceng di belakang misuh-misuh. Misi pertama gagal.

Saya bilang, cari lapangan di desa-desa aja. Biar nggak ada yang kenal. Jadi saya bisa santai dan nggak gugup.

Oke. Dia mau. Saya diajak di lapangan besar di daerah Monjali. Besar sekali dan berumput. Saya bingung mau muter kemana. Tanahnya mblendug-mblendug biasa untuk dipakai main bola. Kali ini Greg nggak mau mbonceng. Dia memilih duduk di bawah pohon. Dia hanya bilang, ini untuk ngerem, ini untuk ngegas, ini untuk ganti gigi. Gigi satu, gigi dua, gigi tiga. Saya bingung. Sepeda motor kok harus pake gigi-gigi. Tapi saya nekat. Dan saya bisa. Saya ketawa keras sekali. Sambil berteriak-teriak, hooy, saya bisa tooo. Saya hendak mengarahkan motor itu ke arah Greg yang duduk di bawah pohon, tapi saya ndak tahu mana yang dipake buat ngerem. Saya lupa lagi. Dan Greg kembali misuh-misuh. Kali ini keras sekali.

Saya menyerah.


Ya sudah. Semester tiga di Sadhar. Saya punya sahabat baik, namanya Uuth. Kami jadi voluntir gempa di Bantul. Waktu saya diboncengkan pulang, saya bilang, gantian po Uth, aku mau nyoba naik motor. Uuth yang tidak tahu track record saya setuju. Di Jalan Bantul yang besar itu. Yang menuju ke arah Dongkelan, saya teriak-teriak. Wah, enak ya naik motor. Mak ser.

Pas hampir di bangjo, saya panik, saya selalu lupa mana remnya. Saya pakai kaki saya dua-duanya untuk mengerem motor. Tapi motor bukan sepeda. Dan dia nggak bisa direm pakai kaki. Kaki saya keseret dan Uuth yang di belakang teriak-teriak kayak orang gila. Saya panik, jadi saya cabut stop kontaknya. Hahahaha. Semua orang ngeliatin saya dan Uuth sudah pucat pasi.

Uuth mengambil alih kemudi. Dari perempatan Dongkelan kami belok kanan ke arah ringroad. Wah, jalannya besar, dan relatif sepi, pikir saya. Saya bilang ke Uuth, saya nyoba lagi ya. Eh, kok dia mau ya? Hahaha.

Mulus dan santai. Waow, saya suka naik motor, dan kami ketawa-ketawa. Ring road cukup panjang, dan saya benci melihat kelap kelip lampu merah. Saya bilang, Uth, gimana ini. Pelan -pelan, Van. Pindah gigi, Van, sampai ceklek-ceklek. Pelan-pelan. Dan kami dengan selamat berhenti 50 meter sebelum bangjo. Uuth lalu bilang dengan sangat sopan sekali, yang di depan saya aja ya, Van. Saya nyengir.

Tapi saya belum kapok.


Saya punya sahabat lain lagi, namanya Vika. Dan dia gila seperti saya. Malam itu, sekitar jam 9. Kami baru saja makan bakso di Gejayan. Saya mau nginep di rumahnya di Maguwoharjo. Pas di jalan raya Tajem, saya bilang, Vik, ajarin saya naik motor ya. Tentu saja dia mau. Saya berani karena sebelumnya, sepeda motor Greg itu grand, Uuth juga pake grand, dan Vika juga grand. Jadi ya paling nggak jauh beda. Jadilah saya di depan. Dan kali ini saya merasa aman karena Vika kan tinggi besar, jadi kalau saya nggak bisa ngerem, dia pasti kuat menahan sepeda motor dengan kakinya.

Pasti sampeyan sudah bisa menebak apa yang terjadi, jadi saya nggak akan cerita panjang lebar. Hahaha.

Usaha saya yang terakhir adalah dengan Tyas, teman guide di Viavia. Kali ini pakai Mio merah. Dia meyakinkan saya, kalau Mio itu jetmatik. Jadi lebih enak, nggak pakai gigi-gigian. Kali ini kami di persawahan di sekitar Nitiprayan. Dan ternyata Mio itu beraaaaat sekali. Dengan Tyas di belakang saya, saya semakin tak berkutik. Dan kami nyungsep di sawah. Hahahaha.

Empat kali saya berusaha. Dan saya ndak bisa ngerem. Wah, ini pertanda apa takdir ya. Hahaha. Sampai sekarang saya masih ndak bisa naik motor. Dan banyak orang-orang yang nggak percaya karena mereka melihat saya sangat mobile dan aktif sekali. Sepeda saya sekarang sepeda cina jengki yang ada keranjangnya. Dan baru beberapa minggu lalu remnya jebol saat saya hendak berangkat ke YPR. *sigh*

Mungkin saya butuh jalan sempit di tengah kebun anggrek dan seorang Kiki yang tulus mau mengajari saya dan nggak akan nyerah sampai saya bisa...

23 comments:

  1. Guess what.. saya juga g bisa naik motor! hahaha.. tapi, sekarang sedang belajar.. konon sih yg penting nekat.. dududu.. *semangat!*

    The Picnic Girl

    ReplyDelete
  2. @Miy si Gadis Piknik:
    kalau kamu sudah bisa saya diajarin yaaa :)

    ReplyDelete
  3. Saya sudah bisaaaa! Hahaha.. caranya? yg penting nekat dulu! ;p

    ReplyDelete
  4. waaaaa...saya juga sudah bisa naik sepeda listriiiik :)

    dan naik motor listrik yang bentuknya kayak mio :p
    hehehe

    ReplyDelete
  5. saya bisa naik motor. Tapi parkirnya yang saya paranoidkan. Apalagi kalau rapat. Bingung mau ngeluarin mtrnya. Itulah hal yang membuat saya kadang malas naik motor. Tapi gimana dong? Kalau punya pasangan pasti harus memboncengnya kan? Ini yang membuatku stress

    ReplyDelete
  6. Anak saya laki-laki belum bisa naik sepeda, SMAnya Jauh jarak 7,5 KM, minta langsung diajarin naik motor, minta di komplek yg sepi banget jaraknya 4,5 KM, kelihatannya susah payah MENCARI KESEIMBANGAN, tapi akhirnya bisa juga cuma belum bisa belok (lurus aja... lempeng), akhirnya Abah dapat ilmu : 1. Mencari keseimbangan di segala situasi itu penting. 2. Alah Bisa karena biasa, setelah dibiasakan barulah dia bisa dengan berkali-kali belajar. 3. Ya apa-apa butuh waktu 4. Biar lambat asal selamat. 5. Semangat juga harus dicari dan dikobarkan, titik-titik api itu harus ditiup-tiup. 6. Jangan lupa berdoa, kalau Abah kalau ada adzan ya ke Mesjid lah...

    ReplyDelete
  7. Pede. Kalau gk pede gk akan pernah bisa. menurut saya, kalau sudah bisa naik sepeda ontel, menjaga keseimbangan itu otomatis, kamu jatuh karena tidak yakin aja, dan karena kamu takut jatuh. coba lagi deh, PASTI BISA

    ReplyDelete
  8. saya gak bisa naek sepeda tp bisa naek motor. Dulu belajar langsung pake motor tp kakak bonceng di belakang sambil pegangin bahu saya(utk jaga keseimbangan). 2 hari langsung bs naek sendiri di trek lurus.kr2 2 mggu udh lancar jalan belok2.

    ReplyDelete
  9. TQ ,, saya gak bisa naek sepeda , tapi saya yakin pasti bisa naek motor suatu saat nanti .. wkakakakka

    tapi sebelum belajar motor .. pengen beli mobil dolo .. insya allah aamiin ..

    ReplyDelete
  10. q gak bisa dua2nya. Mw belajar takut palagi rumah di tepi jaln pantura jd kalo mw apa2 yg hrus lwat jaln raya yg rame abis. Dah gitu saking seringnya liat org kcelakaan (trutama pngendara speda mtor) skrng mlh jd phobia. Sbenernya sih pengin belajar, tp blum siap mental.

    ReplyDelete
  11. wah, saiia kira , cuma saiia aja yg gk bisa naik motor, naik sepeda alhamdulillh bisa, motor saia sudah ada walaupun bekas sih, tapi belajar ngendarainnya masih takut" githu. Huahaha

    ReplyDelete
  12. Saya udah kelas 1 sma tapi belum lancar bawa motor.tapi,udah bisa dikit2.belok bisa lurus bisa.cuman saya masih sering salah gas,itu yg bikin saya sering nabrak.

    ReplyDelete
  13. sring2 latihan bung, yg penting nekad. jatuh saat latihan itu wajar, kl ga jatuh biasanya susah untuk berkembang.

    ReplyDelete
  14. gue laki dah SMA, insyaallah bisa deh bentar lagi, awalnya jujur ragu banget dari kecil ga pernah naek sepeda.. alhamdullilah skrng udah bisa dikit2, gas bisa, rem udh lumayan, awalnya pake rem blakang mulu karena doktrin org2 ga bertanggung jawab yg katanya pake rem depan bisa slip dan berbahaya, akhirnya barusan baca2 artikel ternyata yg bener pake keduanya, belokan lumayan udah bisa, yg masih jadi masalah, kalo ngerem suka diteken terus (lupa dilepas) jadi berhentinya ambruk kesamping, dan masalah yg terakhir belom pernah test drive keluar jalan.. insyaallah minggu2 ini mau coba. bismillah!!

    ReplyDelete
  15. sy lki2 umur 29th.. dlu prnh bljar naik motor yg lucu gk tau jalur klu naik motorkn pke jalur kiri sy mlah plih jlur yg knan wktu kenceng2nya mau belok orang yg diDepan pda takut.
    yg diatas tdi mlah 4th stelah llus SMA. Wktu SMA blum bisa atw blum prnh bawa motor krn mrasa sok bisa diDepan teman2 Akhirnya Mmalukan jg naik motor punya teman (Honda Legenda) yg diparkirkan tpi krn gk tw aq injak2 tu Gigi sampe Giginya msuk 4 hbis sy Starter (starter otomatis) Langsung dah Sy terbang nabrak Tembok sampe Roda Depan Naik keatas Tembok krn Gugup q gk kpikiran Ngerem Wkkkkkkkk... Udah Sakit diKetawain dan Malu jdi bhan pmbicaraan diSkolah... sprt Crita diAtas bnyak sih teman yg ngmong mw ngajarin Trnyata sampe SMA lulus gk da.. Suram dah sampe skrang sy blum brani bwa motor dijlan Bukn krna tkut nabrak atw jtuh tapi Krn Malu Faktor Usia... Hadehhhhh

    ReplyDelete
  16. Sebab dan alasan hampir sama aku lelaki yg udah umur 35 tahun tetep aja gak punya keberanian naik sepeda motor..bisa sih bisa cuma kurang percaya diri terutama di jalan2 yang banyak kendaraan lain jadi grogi dan panik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus sekarang gimana bro..udah bisa belum

      Delete
    2. Terus sekarang gimana bro..udah bisa belum

      Delete
  17. Ceritanya bagus. dan buat teman-teman yg belum bisa naik motor tetap semangat sampai bisa..

    ReplyDelete
  18. Ceritanya bagus. dan buat teman-teman yg belum bisa naik motor tetap semangat sampai bisa..

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...