Thursday, September 23, 2010

Dari Candi ke Candi #3 : Buddha Tidur

*sambungan dari Dari Candi ke Candi #1: Candi Gentong dan Dari Candi ke Candi #2: Candi Brahu*
Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan mas mas penjaga Candi Brahu yang mewasiatkan agar kami, yang muda-muda ini, nggak boleh melupakan budaya Jawa, kami mohon pamit pulang.

Pas di parkiran, saya tanya Puji

Kate ndek endi meneh, rek?

Koen pengen eruh Buddha tidur ta gak?

Buddha tidur? Kapan Mojokerto onok Buddha tidur?

Ah, koen se. Gak tau dolin-dolin. Idhek kene kok. Yok!

Saya dan Greg mengangguk saja.

Sepanjang jalan kami melewati sawah-sawah yang masih hijau dan rumah-rumah dengan banyak anak-anak kecil yang baru pulang dari sekolah. Eh, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada semacam gapura beraksen Bali yang biasanya saya temui di pura-pura di Bali. Tapi anehnya kok hanya gapura saja. Puranya tidak ada. Saya meminta Greg mempercepat motor dan berteriak kepada Puji.

Eh, iku mang opo, Ji?

Opo se? Gepura iku ta? Iku kate dibangun pura ndek kono.
Lha kok purane gak onok?
Iku ceritane onok wong Bali kate gawe pura neng idhek'e candi Brahu. Lagi mbangun gapurane, wong-wong desa protes. Ojok mbangun pura ndek kene. Gak oleh. Trus wong Bali iku mulih neng Bali gak sido gawe pura, lemahe diwenehno wong desa kene. Jarene lho iki rek, jare kate dibangun mejid ae.
Ooooo....
Saya dan Greg berpandang-pandangan.
Tiba-tiba Greg tanya, eh kancamu mau ngomong apa?

Wah, saya lupa. Greg belum akrab dengan boso jawatimuran yang cepat.
Terpaksa saya menterjemahkan ke bahasa jogja. Bahwa ada orang Bali yang berniat membangun pura untuk bersembahyang di dekat Candi Brahu, tapi belum sempat puranya dibangun, baru gapuranya saja, warga desa protes, katanya tidak boleh membangun pura di situ. Hmm, ini katanya lho.. Namanya saja juga katanya... Mungkin bisa iya bisa juga tidak..

Saya nggak sempat mengambil gambarnya, karena kami melintas cepat.
Beberapa menit kemudian, kami sampai di depan sebuah gapura lagi, bertuliskan Vihara Buddha. Namanya saya lupa apa. Maaf, sodara-sodara. Kepala sekecil kura-kura ini tak mampu menampung jutaan informasi dalam waktu yang agak lama.

Kami lalu parkir di bawah pohon dan tersenyum kepada Pak Parkir yang kumisnya besar seperti sikat semir punya ayah saya. Kami memasuki pekarangan vihara yang cukup luas. Ada semacam bangunan induk besar untuk bersembahyang dengan relief melingkari dindingnya. Kami hendak masuk, tapi Puji bilang, Eh, Buddha tidur'e gak ndek kono. Mreneyo.
Kami mengikuti Puji mengambil jalan menyamping ke kiri. Kami bertemu dengan seorang biksu yang tersenyum ramah dan mengangguk kepada kami.
Lalu kami lihat Buddha yang sedang tidur dengan nyenyak itu. Wah saya jadi ingat dengan teman baik saya, Fian Khairunnisa yang juga sempat melihat Sleeping Buddha di Thailand. Wah, di sini pun ada. Saya lalu sms dia, Jeng aku di Sleeping Buddha! Dia pasti ngira saya sedang di Thailand.
Besar sekali memang. Dan Sang Buddha sedang tidur di atas kolam ikan koi raksasa. Sungguh, besar sekali ikan-ikan koinya! Saya aja sampai gemes. Mungkin karena hidup di bawah Buddha tidur jadi energinya besar, makanya pertumbuhan mereka juga pesat ya :)
Lalu kami mengajak Puji untuk istirahat sambil minum air putih. Kami pergi ke taman-taman di belakang bangunan induk vihara. Viharanya tidak seperti Klenteng di Gondomanan, bukan. Tapi ya seperti bangunan induk, hehehe.
Greg menunjuk ke arah bangunan kecil untuk bermeditasi. Ada patung Dewa Brahma yang keemasan. Di bawahnya ada meja lengkap dengan jeruk mandarin oranye yang besar-besar dan hio merah yang baunya wangi.

Kami melepas sepatu dan siap posisi duduk, ketika Puji berkata,
Eh, koen kate lapo, rek?

Sungguh, saya lupa kalo Puji masih di belakang kam!
Eh, iyo. Iki kate lungguh ndek kene sedhelo. Awakmu sante sante sik ae ya.
Wah, onok kirik ndek kono. Aku wedi kirik, rek.
Hahaha.
Lalu kami bermeditasi sebentar, lalu meneruskan perjalanan kami.

(Saya agak merasa bersalah membiarkan Puji duduk takut-takut di pojokan karena memang ada anjing besar di sekeliling vihara. Dan dia mau menunggu kami hampir selama 15 menit. Wah, maaf ya, teman!)
Kami lalu pergi ke parkiran dan bertemu lagi dengan Si Kumis Semir Sepatu. Ternyata bayar ongkos parkir seribu rupiah. Okelah kalo begitu.


-bersambung-
setelah Sleeping Buddha, coming up next on Dari candi ke candi#4: Museum Trowulan...

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...