Wednesday, September 22, 2010

Dari Candi ke Candi #2: Candi Brahu

Nah, setelah saya diajak ke Candi Gentong yang nggak ada gentongnya, saya diajak ke Desa Bejijong, untuk melawat ke Candi Brahu.
Candinya, wah, anggun sekali!

Kalo sampeyan pengen mengenal sedikit saja tentang Candi Brahu, bisa dibaca dulu di sini. nanti akan muncul situs Informasi Mojokerto. Lumayan oke dibaca. Dan komennya lucu-lucu :) 
Tapi kalau sampeyan masih pengen jalan-jalan sama saya, mari kita 
berkeliling.

Saya sempat terkecoh ketika melihat candi ini. Begitu melihat sosoknya yang anggun, saya langsung meminta Greg untuk memfoto saya di sini. Eh, tiba-tiba bapak penjaga candinya menghampiri saya, lalu bilang begini:

Ning, nek sampeyan kate foto, luwih apik ndek ngarepe candi kana, Ning. Ndek kene iki mburine.

Ha? Saya ketawa. Ternyata saya salah!


Lalu kami berjalan memutar.
Hanya ada satu candi di sini. Berdiri anggun di tengah terik matahari. Saya memandang sekeliling. Perawatan tempat ini oke juga. Bersih. Tak banyak yang datang ke candi siang itu. Hanya beberapa remaja berseragam SMP yang bergerombol di bawah pohon. Juga ada anak-anak desa yang berlarian. Saya menutupi wajah dengan tangan. Panas terik.
Dan saya merasa bodoh karena saya pakai topi wol yang sangat tidak mojokerto di bawah terik matahari jam duabelas siang di atas candi yang konon katanya dipakai untuk menyimpan abu jenazah raja-raja Majapahit. Nggak nyambung banget!
Saya jadi malu sendiri. Tapi serba salah juga.
Mau nyopot topinya kok panas, tapi kalo dipake ya panas.
Jadi, sudahlah. Mari kita tinggalkan si kikuk ini:)

Nah, candi ini kalau dari depan lebih gagah lagi.
Candi ini seperti tungku raksasa berwarna oranye yang lubangnya menganga menanti abu jenazah orang-orang besarnya Majapahit. Ada tulisan Dilarang Naik. Dan saya sebenarnya sudah dengan sopan mengajak Puji turun. Tapi dia bilang, gakpopo gakpopo.

Jadi saya sempatkan untuk berdialog dengan si oranye yang gagah ini.
Bermeditasi sebentar dan membiarkan Puji bermain-main dengan kamera digital saya.

Sedangkan Greg sudah entah kemana.
Dia lebih senang berkhalwat sendirian di tepi-tepi candi yang sepi.
Bahkan waktu di Candi Gentong, teman saya yang pematung itu bertanya,

Pacarmu iku Hindu ta? Lapo iku arek'e?

Saya hanya tertawa saja.
Kami juga sempat bertemu dengan mas penjaga candi dan ngobrol banyak dengannya. Saya agak lupa apa saja yang diobrolkan, maaf atas otak yang kecil ini :) Yang saya ingat hanyalah sebagai generasi muda kami diharapkan (ini nasihat beliau) untuk selalu nguri-uri kabudayan dan tak terbawa arus modernisasi yang membius.
Dan kami sempat membuat foto yang setelah saya melihatnya lagi, ah, saya suka sekali foto ini:
Ah!
Batu-bata kuno yang merah menyala.
-bersambung-

next on dari candi ke candi #3: mampir ke Buddha tidur...

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...