Wednesday, September 22, 2010

Dari Candi ke Candi #1 : Candi Gentong

Saya senang pergi ke candi. Kenapa?
Karena candi tuh kayak buku lama yang bisa dipegang, disentuh, dibaui, dilihat, dimasuki, diraba-raba, dan diajak ngomong lewat bahasa energi.

Entah darimana datangnya tiba-tiba rasa suka terhadap candi ini. Mungkin karena Greg, pacar saya yang pertama kali mengenalkan saya tentang pemaknaan semiotika atas candi. Tapi saya nggak akan ngomong soal itu kepada sampeyan semua. Tanya saja dia.

Jadi, di suatu Minggu sore yang cerah saya dan Greg (tanpa terencana) naik kereta api ekonomi ke Mojokerto, kota dimana ayah saya lahir, kota tempat saya menghabiskan waktu 3 tahun untuk belajar di SMA, dan tempat dimana saya merasa ada sebagian diri saya tertinggal di sana...

Greg yang belum pernah naik kereta ekonomi Pasundan selama hampir 7 jam senang sekali (pada awalnya). Dengan segala riuh rendah  penjaja nasi pecel, mizon, akua, dan jepitan ketek, Greg tampak menikmati setiap detik lengkingan suara dan bebunyian kereta. Tapi begitu menjelang malam, dia malah jadi pendiam dan pemikir. Wah, peteng, raiso ndelok pemandangan, katanya. Maklum, namanya traveling spontan, jadi ndak ada rencana beli tiket kereta api pagi. Kereta cukup penuh, tapi asyiiik, dapat tempat duduk.

Sampai di Mojokerto tepat jam 11.30 malam. Disambut dengan tukang becak yang langsung saya sapa dengan logat Jawatimuran yang kental,

Tulung sampeyan terna neng Daleman yo Cak. Biyasane lak sepuluh ewu se?
Wah, gak oleh, Ning. Wis bengi rek.
Alah, idhek kunu ae lo Cak.
Wis limolas ae yo. Gakpopo. 
Oke deh Cak!


Lalu kami berdua naik ke becak yang secara spasial bentuknya beda dengan becak Jogja. Hmm, aroma kota ini waktu malam hari masih akrab di rongga hidung saya.Sampai di rumah Mbah saya, kami sudah disambut dengan masi goreng warna pink yang dari dulu saya selalu heran: Kok nasi goreng di Mojokerto warnanya selalu pink.

Dan Greg langsung mendapat tempat kehormatan untuk tidur di kamar Mbah saya. Jadilah kami bertiga untel-untelan di kamar kecil itu. Saya dikeloni Mbah di atas tempat tidur ala pengantin taon 80an, dan Greg tidur di bawah dengan teman obat nyamuk besar yang mbulek beluknya.

Paginya, kami bangun jam 7 dan agak malu melihat Mbah saya sudah nyapu di depan rumah. Mbah saya memang rajin. Dulu, waktu saya tinggal 3 tahun dengan Mbah saya tercinta ini, saya selalu kalah bangun pagi. Begitu saya bangun pasti sudah ada teh panas, sepiring nasi hangat, dan 3 potong tempe goreng di atas meja. Dan Mbah sedang menimba air untuk saya mandi. Sungguh, anak yang tidak tahu malu saya ini...

Jadi, jam 8 pagi itu saya langsung berangkat ke Trowulan. Kami naik angkot Line C (dibaca: Len Se) dan menunggu lamaaa sekali di depan SMA saya dulu. Akhirnya, angkot kuning itu datang dan langsung membawa kami ke Jatipasar, Trowulan. Sebelumnya, saya memang sudah sms seorang teman SMA yang menjadi pematung di Trowulan. Namanya Puji. Dia dulu berambisi masuk ISI Jurusan Patung dan sempat nginap di rumah saya beberapa hari demi ikut tes masuk ISI yang pada akhirnya tidak diterima sodara-sodara...

Makanya, saya ingin bertemu dengannya lagi mumpung rumahnya di Trowulan. Hehehe. Kami diaba-aba untuk turun di depan Rumah Makan Asmuni, Jatipasar, Trowulan. Saya baru tahu lho kalo Asmuni punya warung di Trowulan. Sungguh, 3 tahun saya hidup di sana saya bahkan nggak tahu kalau Asmuni orang Mojokerto.

Betewe, saya sempat foto dengan Pak Asmuni lho..
Sama-sama miring ternyata...maksud saya pose berdirinya..Walaupun dilirak lirik sama mbak-mbak pegawe warung makannya saya tetep pede aja cengar-cengir sambil ngrangkul patung gedenya Pak Asmuni...

Akhirnya, Puji datang. Dan kami diajak ke rumahnya dan dipinjami sepeda motor untuk berkeliling Trowulan. Asyiiiiik! Wah, lumayan bisa muter-muter. Mesti sampeyan heran, kenapa saya selama 3 tahun hidup di Mojokerto belum pernah sekalipun menengok candi-candi di Trowulan. Saya juga heran. Bodoh ya. Maklum, waktu saya SMA perhatian saya lebih mengarah ke hal-hal yang lebih menggiurkan secara inderawi.

Inilah candi pertama yang kami kunjungi.
Candi Gentong namanya.
Nggak ada gentongnya. Situs ini masih terus dipugar. Lokasinya cukup terawat dengan atap besar untuk memayungi batu-batu candi.
Maklum, candi di Jawa Timur kan kebanyakan bermateri batu bata, jadi lebih rentan ketimbang batu kali. Sempat kaget karena saya nemu selongsong panjang kulit ular di atas tumpukan batu-batu candi. Hiii...untung tinggal kulitnya aja.

Di sinilah saya menemukan sebuah pohon yang aneh. Saya pikir itu pohon kelapa, tapi kok aneh. Gak mungkin juga pohon melon. Lalu saya tanya Puji. Eh, dia malah memetik buah bulat berwarna ijo muda yang kulitnya licin dan halus. Buah apa ya? pikir saya.

Eh, Ji, iki opo se?
Iku ta. Iku buah Maja, rek. Gurung tau eruh ta?
Buah Maja? Maja pahit?
Iyo. Lha katene opo. Maja legi ta. Hehehe
Eh eh, lapo awakmu methik iku? Gak diseneni ta?
Halah, akeh buah kaya ngene iki ndek kene. Gak popo.

Jadi saya berhadapan dengan buah yang legendaris itu ya.

Maja yang pahit.

Saya lalu ambil satu dan saya masukkan ke dalam tas. Harus saya bawa pulang ke Jogja. 
Biar adik-adik saya tahu, buah Maja itu seperti apa.Hmm, setelah Candi Gentong ini saya mau diajak ke mana lagi ya sama Puji? Besok saya akan cerita lagi :)

Eh, kalau sampeyan jeli, di foto sebelah ini ada juga lambang Kerajaan Majapahit yang terkenal itu lho.
Yang mana hayooo? 



-bersambung-

 

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...