Wednesday, September 29, 2010

Antara Saya, Iler, dan Kue Ulang Tahun

Setiap saya hendak berganti umur, saya selalu teringat kembali tentang ritual-ritual aneh yang dulu pernah saya lakukan. Kenangan paling awal yang masih terekam dalam memori saya adalah ketika saya genap berusia 5 tahun. Teka enol besar.

29/09/1990
Ibu saya yang masih semangat karena punya anak perempuan yang lucu dan bisa didandani mengajak saya untuk melakukan foto pertama saya. Saya dibedaki tebal-tebal, rambut diikat kencang-kencang, kucir dua (padahal waktu teka saya keriting dan berambut jarang), eye shadow biru tua yang terasa gatal di kelopak dan lipstik merah yang dioles dua kali memanjang ke bibir saya yang mungil. Tak lupa gaun putih yang mekar seperti balon dengan dua tali panjang yang disimpul menjadi pita di punggung, sepatu kulit hitam dengan aksen rumbai-rumbai, dan gelang tangan (milik ibu saya) yang dimasukkan paksa ke pergelangan kaki saya.
Lalu saya digandeng pergi ke tukang foto di pertigaan jalan KS Tubun. Toko 'Agung' namanya. Pemiliknya, sekaligus fotografernya adalah seorang bapak Cina yang membawa kamera hitam besar sekali. Saya yang baru pertama kali masuk ke studio foto heran ada banyak payung besar dan ada gambar pemandangan. Saya dibimbing untuk duduk di atas kursi plastik putih (yang terlalu besar untuk anak teka) dan si fotografer mengambil sesuatu yang besar dari balik kain. Ternyata kue taart ulangtahun besar berwarna putih bersusun tiga dengan hiasan krim bunga-bunga merah jambu dan ulir daun kehijau-hijauan.

Saya takjub. Waow, besar sekali kuenya.

Saya semangat sekali. Saya tak sabar untuk mencolek si kue.

Kaki kanannya coba diangkat, ya ya, ditaruh ke atas kaki kiri ya, oke oke, bagus, agak miring ke kanan sedikit, aduh, kebanyakan, ya ya, oke, tahan, tangan ditaruh dua-duanya ke lutut kanan, oke, oke, senyum, ya senyum, tahan, oke ya, tahan, yak!

Ceklek. Ceklek.

Mata saya buta oleh silau cahaya yang benderang. Saya mengerjap.

Yak! Sudah! kata fotografernya sambil mengelap jidatnya yang berkeringat.

Hah? Sudah? Hanya dua kali ceklek?

Saya lirik kue di samping saya. Saya colek si kue dengan semangat. Kok keras? Saya colek lagi. Saya baui. Saya lihat dari jarak tiga senti. Wah, kue gabus dan kardus! Saya dibohongi!

Lho, kuenya nggak bisa dimakan to, bu?

Hehehe. *ibu saya meringis* Besok ya nak ya, kalau kamu sudah agak lebih besar, ibu belikan kue yang asli. Sementara ini yang mainan dulu. Kan kamu juga baru lima tahun...

Invani kecil merengut.


29/09/2000
Saya sudah beranjak remaja. Kelas satu es-em-a. Di sebuah kota di Jawa Timur yang konon kabarnya bekas kerajaan Majapahit. Menjadi satu-satunya 'arek Jogja' di sekolah. Dan saat hari itu tiba, seluruh teman kelas saya kompak menganiaya saya. Para cowok sudah siap dengan berbungkus-bungkus plastik berisi air (semoga air keran), ada teman baik saya, Widya, yang membawa telur, dan Lenny, membawa tepung. Mereka hendak membuat saya menjadi adonan kue ulang tahun rupanya. Tinggal diuleni dan dipanggang dalam oven :)

Dan ketika saya tak berdaya diserbu para gangster bersenjatakan air, telur, dan tepung ini, ada teman cowok saya yang merasa ada yang kurang. Sontak ia bergegas mengambil keranjang sampah di depan kelas dan di kelas sebelah. Langsung ia guyurkan ke badan saya.

Saya merem melek nggak tahu harus berbuat apa.

Hasilnya, nenek saya muring-muring karena bau telur dan sampah tak hilang-hilang. Dan saya masuk angin dua hari. Hatchi! Hatchi!


29/09/2010
Dan hari ini, saat saya menulis ini, saya sedang bolak balik dari laptop-tivi-laptop-tivi, nonton dialognya FPI, Komnas HAM, dan Pak Mentri yang membahas batal tidaknya pemutaran Q!FilmFestival, sambil garuk-garuk betis karena di bawah meja nyamuknya banyak sekali.

dua-lima.
Waow.

Dan tubuh saya masih belum tumbuh tinggi juga.
Meski saya dulu waktu smp sempat memesan ortopedi dan merasa kena tipu mentah-mentah.

Dada saya masih belum membusung juga.
Meski saya sudah berjalan tegak setegak homo erectus.

Dan saya masih teringat dengan kenangan masa kecil akan kue gabus tingkat tiga yang membuat si vani kecil merengut karena ternyata si kue tak bisa dimakan. Mungkin hari ini saya akan makan kue yang bukan dari gabus (dan tak usah bertingkat tiga segala) lalu dimakan bereng dengan adik-adik saya banyak itu, dan mungkin dengan Greg :)

Kalau iya, hutang duapuluhtahun yang lalu akan terbayar lunas, dan saya tidak akan ngiler lagi setiap malam, karena kata nenek saya kalau kita pengen sesuatu dan belum tercapai maka kita dikutuk untuk ngiler terus setiap malam.

Jangan tanya seperti apa bau bantal saya.

No comments:

Post a Comment

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...