Wednesday, September 29, 2010

Antara Saya, Iler, dan Kue Ulang Tahun

Setiap saya hendak berganti umur, saya selalu teringat kembali tentang ritual-ritual aneh yang dulu pernah saya lakukan. Kenangan paling awal yang masih terekam dalam memori saya adalah ketika saya genap berusia 5 tahun. Teka enol besar.

29/09/1990
Ibu saya yang masih semangat karena punya anak perempuan yang lucu dan bisa didandani mengajak saya untuk melakukan foto pertama saya. Saya dibedaki tebal-tebal, rambut diikat kencang-kencang, kucir dua (padahal waktu teka saya keriting dan berambut jarang), eye shadow biru tua yang terasa gatal di kelopak dan lipstik merah yang dioles dua kali memanjang ke bibir saya yang mungil. Tak lupa gaun putih yang mekar seperti balon dengan dua tali panjang yang disimpul menjadi pita di punggung, sepatu kulit hitam dengan aksen rumbai-rumbai, dan gelang tangan (milik ibu saya) yang dimasukkan paksa ke pergelangan kaki saya.

Tuesday, September 28, 2010

Kisah Ayu Utami dan Telur Ayam

Siang itu, saat saya melintas di Jalan Moses, ada yang berdering dari dalam tas saya. Ternyata sebuah panggilan dari Yayasan Umar Kayam yang meminta saya untuk menjadi moderator dalam diskusi novel terbaru Ayu Utami yang berjudul 'Manjali dan Cakrabirawa'. Siapa yang menolak? Tentu saja saya mau. Kebetulan saya juga belum pernah bertemu dengan Ayu Utami.

Tulisan Ayu Utami yang pertama saya baca adalah 'Parasit Lajang'. Baru saya membaca 'Saman', 'Larung', 'Bilangan Fu', dan saat itu saya belum membaca 'Manjali dan Cakrabirawa'. Mbak Putri, yang menelpon saya dari Yayasan Umar Kayam bersedia untuk memberi saya novel terbaru itu, gratis. Lumayan, pikir saya.

Jadilah saya membaca dan mempelajari 'Manjali dan Cakrabirawa'.

Saturday, September 25, 2010

Kenapa Saya Nggak Bisa Naik Sepeda Motor?

Saya nggak bisa naik motor.
Percayakah sampeyan?
Hahaha. Di jaman yang semuanya dipercepat ini masih ada produk yang ndak bisa mengikuti lajunya percepatan itu, yaitu saya. Hahaha. Ndak papa, tertawalah bersama saya.

Alasan kenapa saya ndak bisa naik motor sederhana, karena saya ndak punya motor. Alasan ini selalu disangkal teman-teman saya, katanya orang bisa naik motor kan nggak harus punya motor, Van. Hahaha. Gimana saya bisa belajar naik sepeda motor kalau selama saya tk, sd, smp di Jogja keluarga saya ndak punya motor.

Friday, September 24, 2010

Tentang Pernikahan dan Sindrom Rumah Boneka #2

Saya lupa saya belum bilang beberapa alasan (pribadi) kenapa saya kok segan menikah.

Pertama, menyelenggarakan pesta pernikahan kok bagi saya menjadi mubazir. Ini sesuai dengan konteks saya yang kalau tidak kerja saya nggak bisa makan. Coba tengok pernikahan si R dan D tadi. Bapaknya R mengaku telah merogoh koceknya sampai 30 juta, termasuk untuk membayar tiga mobil sewaan lengkap dengan uba rampe merah jambunya, belum lagi DP pembayaran rumah barunya. Saya bisa maklum kalau memang keduanya berasal dari keluarga kaya raya. Tidak ada yang salah dengan menyelenggarakan pesta pernikahan yang wah, kalau memang punya uang banyak untuk itu. Nah kalau tidak? Penghuni kampung saya kebanyakan adalah penerima KMS (Kartu Menuju Sejahtera), termasuk keluarga saya. Saya tahu pasti gimana tetangga saya, dan om-om saya dulu, pontang panting mencari pinjaman kesana kesini untuk biaya pernikahan. Dan saya selalu nggak nyaman kalau saya punya hutang.

Tentang Pernikahan dan Sindrom Rumah Boneka #1

Saya takut pernikahan.
Tepatnya, saya takut untuk menikah - jujur saja.

Begitu bunyi dua kalimat awal pembuka tulisan saya yang ditulis sekitar tiga tahun yang lalu. Tulisan ini tiba-tiba muncul kembali dalam pikiran saya. Ia seperti kecambah yang minta disirami karena lama tak ditengok. Dan saya pikir, kembali menampilkannya di dalam wadah ini masih sangat relevan.

Kenapa? Beberapa minggu terakhir saya dikejutkan dengan kabar bahwa teman-teman dekat saya (yang perempuan) akan menikah. Saya agak shock dan terkejut memang, karena saya pikir mereka sepikiran dengan saya tentang pernikahan. Tapi memang di usia saya yang hendak menginjak dualima ini, saya dihadapkan pada sebuah krisis perempat abad. Krisis, yang kata teman baik saya, Lusia Nini Purwajati, dimana pernikahan menjadi isu hangat yang menjadi beban pikiran para perempuan muda.

Thursday, September 23, 2010

Romantisme Seratus Lima Puluh Perak

Apa yang sampeyan beli kalau punya uang seratus lima puluh perak?

Alias satus seket gelo.

Menulis tentang Kobutri membuat saya ingat tentang petualangan saya selama bertahun-tahun naik kol kuning yang sekarang hampir masuk Sonobudoyo itu.

Perkenalan saya dengan Kobutri terjadi saat saya masuk SMP 8 tahun 97. Ikatan kuat selama 3 tahun membuat hubungan saya dengan Kobutri semakin mesra. Apalagi selama saya kuliah di Sadhar sejak tahun 2003 sampai sekarang saya masih naik Kobutri.

Ketika Para Ibu Rumah Tangga Turun ke Jalan

Saya melambaikan tangan ke arah Kobutri kuning yang lewat di Jalan Ahmad Dahlan pagi itu. Saya berdiri tepat di samping Halte Trans Jogja.

Saya memang kadang memilih untuk naik Kobutri ke kampus kalau saya melihat kol kuning itu lewat, daripada menunggu Trans Jogja. Bukan apa-apa sih, saya hanya sedih melihat mereka (Kobutri maksudnya) sudah jarang penumpangnya. Jadi, pagi itu, saya yang punya janji dengan pak dosen ganteng yang ngajar manajemen di Sadhar, langsung berlari-lari menyongsong Kobutri. Hanya ada 3 orang penumpangnya. Saya, seorang nenek, dan seorang bapak paruh baya.
Mata saya lalu tertumbuk pada seorang ibu berjilbab, sudah tidak muda lagi, 40-an usianya, duduk tepat di belakang pak sopir. Saya tahu kalo ibu ini bukan penumpang, karena saya sudah sering naik Kobutri yang ini.

Dari Candi ke Candi #3 : Buddha Tidur

*sambungan dari Dari Candi ke Candi #1: Candi Gentong dan Dari Candi ke Candi #2: Candi Brahu*
Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan mas mas penjaga Candi Brahu yang mewasiatkan agar kami, yang muda-muda ini, nggak boleh melupakan budaya Jawa, kami mohon pamit pulang.

Pas di parkiran, saya tanya Puji

Kate ndek endi meneh, rek?

Koen pengen eruh Buddha tidur ta gak?

Buddha tidur? Kapan Mojokerto onok Buddha tidur?

Ah, koen se. Gak tau dolin-dolin. Idhek kene kok. Yok!

Saya dan Greg mengangguk saja.

Wednesday, September 22, 2010

Dari Candi ke Candi #2: Candi Brahu

Nah, setelah saya diajak ke Candi Gentong yang nggak ada gentongnya, saya diajak ke Desa Bejijong, untuk melawat ke Candi Brahu.
Candinya, wah, anggun sekali!

Kalo sampeyan pengen mengenal sedikit saja tentang Candi Brahu, bisa dibaca dulu di sini. nanti akan muncul situs Informasi Mojokerto. Lumayan oke dibaca. Dan komennya lucu-lucu :) 
Tapi kalau sampeyan masih pengen jalan-jalan sama saya, mari kita 
berkeliling.

Saya sempat terkecoh ketika melihat candi ini. Begitu melihat sosoknya yang anggun, saya langsung meminta Greg untuk memfoto saya di sini. Eh, tiba-tiba bapak penjaga candinya menghampiri saya, lalu bilang begini:

Ning, nek sampeyan kate foto, luwih apik ndek ngarepe candi kana, Ning. Ndek kene iki mburine.

Ha? Saya ketawa. Ternyata saya salah!

Dari Candi ke Candi #1 : Candi Gentong

Saya senang pergi ke candi. Kenapa?
Karena candi tuh kayak buku lama yang bisa dipegang, disentuh, dibaui, dilihat, dimasuki, diraba-raba, dan diajak ngomong lewat bahasa energi.

Entah darimana datangnya tiba-tiba rasa suka terhadap candi ini. Mungkin karena Greg, pacar saya yang pertama kali mengenalkan saya tentang pemaknaan semiotika atas candi. Tapi saya nggak akan ngomong soal itu kepada sampeyan semua. Tanya saja dia.

Jadi, di suatu Minggu sore yang cerah saya dan Greg (tanpa terencana) naik kereta api ekonomi ke Mojokerto, kota dimana ayah saya lahir, kota tempat saya menghabiskan waktu 3 tahun untuk belajar di SMA, dan tempat dimana saya merasa ada sebagian diri saya tertinggal di sana...

Tuesday, September 21, 2010

Wah, Beneran Kamu Sudah 'engaged'?

Tanya teman saya lewat YM dengan menggebu-gebu. Saya hanya membalas dengan mengetik titik dua dan kurung buka. Saya nggak tahu sejatinya konsep 'engaged' itu gimana. Apakah sebuah hubungan harus diformalkan dulu sebelum menuju tingkat 'menikah'? Padahal di status relationship saya di Facebook tertulis 'engaged'. Hehehe.
Sebenarnya saya iseng saja waktu ngetik status hubungan di Facebook itu. Tapi kok lalu ada sebuah pertanyaan muncul, 'eh, emang engaged tuh apa to?' Apa iya, saya bener-bener 'engaged'?
Karena ternyata setelah saya cek di kamus Oxford edisi 11, 'engaged' tuh salah satu artinya adalah 'occupied'.


Waaah, saya nggak mau di-occupied dong!

Yuhuuuu!

Wah, akhirnya jadi juga saya punya wadah yang lumayan buat nulis petualangan saya selama ini. Lha setiap saya punya blog, saya tuh lupa password-nya apa. Seperti yang terakhir di sadhusindana.blogspot.com. Sampai sekarang nggak bisa saya update, lha wong buka blognya aja saya nggak bisa. Hehehe :)

Semoga si kurakura kikuk ini bisa jadi teman curhat yang enak sambil nge-teh hangat atau nyeruput coklat panas..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...