Monday, December 27, 2010

Cerita dari Kampung #2: Sipek, The Lonely Heart Club Band

Masih ingat, saya pernah bercerita tentang Barkah?
Kali ini, saya akan bercerita tentang teman Barkah yang lain, masih dari kampung saya yang padat di barat Malioboro, di balik deretan rumah-rumah berlogo Bakpia Pathuk, atau 'back alley neighborhood' alias komunitas belakang rumah (menurut J. Sullivan), yaitu kampung Ngadiwinatan.

Namanya Sipek.
Begitu orang-orang menyebutnya.
Saya tidak tahu nama aslinya. Semua orang di kampung saya memanggilnya:
s-i-p-e-k. Sipek.

Sunday, December 26, 2010

Kora-Kora: Aaaaaaaaaargh!

Selamat Natal!
Kali ini, saya menghabiskan Natal dengan berjalan-jalan ke Sekaten di Alun-Alun Utara yang penuh sesak. Saya membawa serta adik bungsu saya, Wisnu yang memang minta diajak ke Alun-Alun. Tak lupa Greg saya ajak serta.
Setelah parkir di depan warung bajigur langganan kami di dekat Keraton, kami lansung berjalan ke arah wahana permainan.
Sebenarnya kami ingin naik Bombom-Car, namun urung karena ternyata per orang 10 ribu tiketnya. Apa? Wah, mahal. Padahal kami bertiga. Jadilah kami berjalan-jalan saja melewati banyak hal yang berwarna-warni, berkelap-kelip, berpendar-pendar serta riuh rendah suara-suara khas pasar malam.
Kami melewati dremolem, alias ferries-wheel yang penuh dengan teriakan anak-anak kecil.

Saturday, December 25, 2010

Dari Pathuk hingga Nagan

Setiap hari, saya berjalan kaki dari bilangan Pathuk ke area Nagan Lor, dan kali ini saya mengamati sekeliling saya. Ada benda-benda baru yang menarik perhatian saya kali ini.

Friday, December 24, 2010

Nostalgia di Sooko

Kalau sampeyan belum tahu, saya menghabiskan tiga tahun di Mojokerto, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan situs Majapahit-nya. Bapak saya memang asli Mojokerto, walhasil, kadang saya mengimajinasikan bapak saya yang dari bumi Majapahit bertemu dengan ibu saya yang dari Mataram, wah, seru ya. Jadilah saya hibrida dari kedua kerajaan besar itu.
Pengalaman tiga tahun bersekolah 'bukan' di kota pelajar memberikan sebuah pengalaman luar biasa. Merasakan hidup di desa yang tak pernah punya akses buku-buku bagus (harus ke Surabaya kalau hendak beli Tetralogi Buru), tak ada akses bioskop (lagi-lagi harus ke Surabaya hanya untuk sekedar nonton AADC waktu itu), dan akses internet yang mahal sekali (enam ribu perjam waktu itu).
Dan minggu lalu, demi tandatangan pak kepala sekolah SMA saya yang baru di atas ijazah saya yang lama, saya menyempatkan diri melongok SMA saya yang penuh dengan romantisme masa-masa remaja yang penuh gairah.

Thursday, December 23, 2010

Skripsi oh Skripsi

Jadi, begini to yang namanya skripsi?
Ahai! Wadow! Hush! Sssssst!
Saya mengambil mata kuliah THESIS yang artinya adalah skripsi satu setengah tahun yang lalu, dan hari ini, tepat di hari Ibu, saya pontang panting kesana kemari untuk mencari dosen sambil meminta tandatangannya yang berharga.
Saya pikir, itu hanya mitos.
Saya pikir, itu hanya legenda.
Itu adalah:

Tuesday, December 21, 2010

Monday, December 20, 2010

Sepuluh Menit Saja di Istiqlal

Kali ini Antoine mengajak saya ke Masjid Istiqlal, yang katanya terbesar di Asia Tenggara. Kami masuk ke pelatarannya dan mencopot alas kaki, lalu masuk ke dalam. Lantai agak lengket karena banyaknya orang yang lalu lalang dan keluar masuk masjid. Begitu tiba di dalam, kami bertemu dengan seorang laki-laki yang mengaku menjadi pemandu karena Antoine seorang bule. Dia berkata, saya akan ajak Anda berkeliling masjid, sepuluh menit saja.
Kami berpandangan. Sepuluh menit saja? Wah, okelah.
Kami mengikuti mas-mas yang berpakaian rapi itu, lalu mulai masuk ke dalam masjid. Ini pertama kalinya saya pergi ke Istiqlal, jadi saya cerap sebanyak-banyaknya rasa yang menggaung dan bergema di sudut-sudut pilar masjid.

Sunday, December 19, 2010

Lingga Monas

Masih dalam pengembaraan saya di Jakarta dengan Antoine, romo Katolik dari Perancis yang saya paksa untuk mampir ke Monas, yang menurut dia less-interesting. He-he-he. Jadilah saya pergi ke Tugu Monas untuk pertama kalinya dalam hidup saya! Sekedar ingin tahu agar ada sesuatu yang bisa dirasakan, diceritakan, dibagikan dan dikenang.
Satu kesan pertama tentang Tugu Monas adalah jauuuuuh.
Perjalanan dari Masjid Istiqlal sih tidak jauh, tapi kompleksnya yang luas membuat saya kelaparan. Kata Antoine, lihat invani, pelataran Tugu Monas yang luas ini sepi dan kosong, padahal di bawah jembatan dan tepi Sungai Ciliwung banyak orang berdesakan karena tak punya lahan untuk tempat tinggal. Lihat betapa kontrasnya ibukotamu!
Saya nyengir.

Kuli-kuli Sunda Kelapa

Saat saya mampir ke Jakarta beberapa waktu lalu, saya sempat menyambangi Sunda Kelapa. Sebuah pelabuhan yang tidak asing di telinga saya karena sudah diulang-ulang sejak SD dalam pelajaran Sejarah.
Saya pergi ke Sunda Kelapa dengan teman bule saya dari Perancis, Antoine, seorang romo Katolik yang sangat tertarik sekali dengan budaya Indonesia. Kami naik taksi dari Cengkareng, lalu turun di seputaran Harmoni, dan berjalan kaki sampai Sunda Kelapa.Sore yang mendung.

Friday, December 17, 2010

Mesin-mesin di Balik Kemudi

Pak Nahkoda.
Masih melanjutkan cerita saya saat pertama kali naik kapal menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk, saya akhirnya bisa masuk juga ke ruang nahkoda, tempat si juru mudi kapal mengemudikan kapal yang saya tumpangi. Awalnya, saya hanya iseng-iseng saja motret-motret, hingga ada laki-laki yang dengan ramah menyilakan saya masuk ke ruang kemudi. 
Waaah, baru kali ini saya masuk ke dalam ruangan yang ajaib ini. Ya, ajaib, karena saya ndak tahu sama sekali apa ini apa itu. Saya ngobrol sebentar dengan pak nahkoda, tentang 'ini apa pak', 'kalau itu apa pak namanya' dan 'oh, gitu to caranya,' tapi ya saya sudah lupa lagi sekarang. Jadi saya potret saja yang banyak supaya suatu saat saya ingat. Mangga dipunpirsani.

Thursday, December 16, 2010

Tebuireng, Gus Dur dan Jilbab Jingga

Hari ini saya diajak paman saya untuk menengok atau bahasa Jawa Timurnya, nyambangi sepupu saya, Anis, yang mondok di pondok pesantren di Jombang. Sudah hampir seminggu saya memang menyepi di rumah nenek saya di Mojokerto. Dan sore ini saya bertolak menuju Jombang, ke sebuah daerah bernama Diwek, Cukir, dekat Pondok Pesantren Tebuireng, tempat dimana Gus Dur dimakamkan. Wah, saya sudah tidak sabar. Saya memang berniat untuk ziarah ke makam Gus Dur.
Dan ketika paman saya sudah bersiap-siap hendak berangkat, mbah putri saya bilang, eh, lapo koen gak athik jilbab?

Kenapa saya tak pakai jilbab? Ya saya kan memang tak berjilbab.
Ternyata, usut punya usut, kalau kita ke pondok, memang harus berjilbab. Ya.

Wednesday, December 15, 2010

Terombang-ambing di Laut

Kalau kemarin saya sudah cerita tentang terombang-ambing di udara dan di darat, sekarang saya akan menceritakan pengalaman saya terombang-ambing di laut. Wah, episode tiga hari ini memang harus lengkap: episode terombang-ambing. Dan kali ini saya akan bercerita pengalaman pertama saya saat saya naik kapal. Walaupun hanya menyeberang selat kecil yang memisahkan Jawa dan Bali, tapi benar-benar sebuah pengalaman.

Terombang-ambing di Darat

Kalau sebelumnya saya bercerita tentang terombang-ambing di udara dalam perjalanan saya dari Bali menuju Jogja, kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana saya terombang-ambing di darat. Saya sampai heran sendiri, kok sepertinya perjalanan saya ke Bali kali ini susah sekali. Berangkatnya susah, pulangnya juga susah. Berangkatnya penuh perjuangan, pulangnya juga penuh perjuangan. Untung saja saya termasuk orang yang tahan menderita. He-he.
Jadi, saya seharusnya berangkat pagi-pagi naik Mandala dengan tujuan Denpasar. Namun, pagi sebelum saya berangkat, saya di-sms Mandala bahwa penerbangan tidak dibatalkan tapi dialihkan ke Semarang. Wah.
Saya putar otak. Jam penerbangan tetap. Jam 7 pagi. Tapi dari Ahmad Yani, Semarang. Dan berarti saya harus menginap. Dan berangkat dari Jogja sore itu juga. Wah. Saya ber-wah-wah sendirian.

Tuesday, December 14, 2010

Terombang-ambing di Udara

Ada yang menarik saat saya hendak pulang ke Jogja dari Bali.
Masih dalam masa-masa saat Merapi masih aktif, dan banyak penerbangan yang ditunda, atau bahkan dibatalkan. Dalam jadwal tiket saya hari itu, seharusnya saya pulang ke Jogja naik Garuda malam hari, sekitar jam 8 WITA. Sehari sebelumnya, saya ditelpon pihak Garuda yang membatalkan penerbangan ke Jogja karena abu vulkanik masih mengganggu penerbangan. Okelah. Jadilah saya manut dengan Mbak Dyah, dari Solo, yang mengajak saya untuk bersama-sama naik Lion Air. Dengan jadwal pukul 12 siang bertolak dari Ngurah Rai, lalu transit dulu di Jakarta, baru ke Adi Sumarmo, Solo. Rencananya saya akan naik kereta api Prambanan Ekspress, alias Prameks begitu saya sampai di Solo.
Dan tanpa firasat apa-apa, saya berangkat dengan Mbak Dyah.
Kami tiba di Ngurah Rai hampir pukul 12 dan berlari-lari ke kounter Lion untuk check-in. Dan ternyata, pesawat ditunda. Pukul 2 siang, pesawat baru datang. Jadi kami menunggu dua jam, mengobrol, dan kelaparan.

Sunday, December 12, 2010

Sepotong Waktu di Prambanan Ekspress

Petualangan sore ini berakhir. Sandal jepit dan sepatu butut harus pulang ke rumah.
Kaki-kaki yang letih. Tertumpu di pergelangan. Dan mencoba untuk tidur.

Saturday, December 11, 2010

Segarnya Sore di Ngarsopuro

Karena Pasar Triwindu alias Windujenar sudah tutup, kami memutuskan untuk berjalan-jalan saja di sepanjang Jalan Ngarsopuro, Solo.
Wah, segar sekali sore itu!
Hawanya enak sekali. Nyaman.
Dan suasananya Solo banget.
Hampir mirip atmosfer Jogja, tapi agak lengang. Kapan ya, Jogja punya ruang publik seperti ini? Yang sewaktu-waktu mobil-mobil tak boleh lewat, hanya ada pertunjukan wayang kulit atau ketoprak yang dikeraskan suaranya lewat speaker-speaker yang ditanam di dasar tiang-tiang lampu. Sementara berbagai patung menghiasi pinggir jalan yang ditata apik. Pedagang es dawet tampak hilir mudik sambil menanti pembeli. Dan ketika saya melihat ke atas, wah, saya suka dengan lampu kota ini! Indah sekali dengan sangkar burung dari bambu.
Ngarsopuro, saya kira, saya jatuh cinta kepadamu.

Friday, December 10, 2010

Merekam Jejak Sejarah Barang di Pasar Triwindu

Sore itu, saya dan Greg yang sedang ke Solo naik Banyubiru sempat tidak tahu tujuan hendak pergi ke mana karena memang kali ini benar-benar jalan-jalan spontan.
Jadi, begitu kaki kami menginjak lantai Stasiun Balapan dan tiba di parkiran belakangnya yang penuh dengan tukang becak, tiba-tiba saya baru ingat kalau di Solo ada pasar barang antik yang cukup terkenal, meski saya tak tahu namanya. Dan akhirnya kami naik becak ke pasar 'terwindu', yang menurut pak becak, semua barang antik ada di sana. Dan dia berkali-kali meyakinkan kalau 'masih buka, mbak, masih buka'. Saya lirik jam digital di hape saya, hmm, hampir jam lima, dan saya berharap, pasar 'terwindu' masih membuka dirinya untuk kami sore itu.

Thursday, December 9, 2010

Epilog Delapan


Saya akhiri tanggal delapan ini dengan sebuah perjalanan yang panjang, dan basah.
Karena hujan sedang turun deras lagi di sini. Tepat di ulu hati saya.
Bukan karena apa-apa, hanya kadang kembali merasakan nikmatnya hujan dalam diri adalah sebuah hal yang sangat melegakan.
Karena, saat berjalan dalam hujan, orang takkan tahu kalau mata kita juga basah.
Dan semalam, saat saya sedang menunggu di halte bis sekitar jam sembilan malam, kaki saya menjadi hidup, seolah mereka ingin saya menuruti kaki-kaki ini, dan bukan sebaliknya.
Dan, memang benar. Tak ada bis yang akan membawa saya pulang ke rumah.
Hanya bis terakhir yang datang, tepat saat jarum jam ungu saya menunjuk ke angka setengah sepuluh,
dan berhenti di depan sebuah stadion di bilangan Kotabaru. Sisanya?
Saya hanya menurut ke mana kaki-kaki saya akan membawa saya.

Wednesday, December 8, 2010

Ke Solo Naik Si Banyubiru!

Jumat sore itu, saya ajak Greg untuk ke Bandara untuk me-refund tiket Garuda saya yang batal karena abu Merapi. Setelah selesai, tiba-tiba saja ide spontan untuk berjalan-jalan tercetus gara-gara kami melihat ada stasiun di dekat bandara.
Langsung saja kami berjalan ke arah rel kereta, dan menyusuri rel kereta api yang penuh dengan kerikil berwarna kayu manis. Hampir saja kami terhempas karena ada kereta lewat, wah, agak susah ya, pikir saya untuk ke stasiun ini. Kami lalu menyeberang untuk pesan tiket ke Solo.
Tiba di dekat loket, saya tertawa terbahak-bahak. Ternyata, ada jalan kecil di sebelah parkiran bandara yang langsung menuju loket kereta. Wah, ngapain tadi kami mlipir-mlipir lewat rel dan berteriak-teriak saat ada kereta lewat? Ha-ha-ha.

Mampir di Omah Sinten

Kali ini kami mampir makan malam di Omah Sinten, kawasan Ngarsopuro, depan Kraton Mangkunegaran, Solo setelah jalan-jalan sejenak ke Pasar Triwindu untuk berburu barang antik. Greg dan saya segera memilih tempat dan membaca daftar menu.
Wah, lumayan mahal juga, pikir saya. Mencoba satu kali saja, tentunya dibolehkan kan? Sekedar mengecap suasana senja di Solo dan merasa apa yang ditangkap indra.

Monday, December 6, 2010

Warna. Perjalanan. Lensa

Saya suka kuning. Begitu sensual. Dan kadang membuat bergairah.
Lokasi: Legian, Kuta, Bali, Indonesia (2009)

Merah jambu dan biru membuat jiwa saya menjadi kanak-kanak kembali. Mengendarai karusel dan menghentak-hentak.
Lokasi: Legian, Kuta, Bali, Indonesia (2009)

Sunday, December 5, 2010

Sesuap Sore di Jimbaran

Saat ke Bali awal November kemarin, saya dan teman-teman penerima Prakarsa Kota Lestari mampir ke Pantai Jimbaran untuk merasakan bagaimana rasanya makan malam di sepanjang pantai, yang konon katanya sambil memandang matahari terbenam di pesisir Bali.

Jadilah kami bersama-sama berangkat, dan ternyata setelah sampai di pantai, mendung bergayut di atas laut. Wah,sepertinya tidak akan ada matahari terbenam di Jimbaran sore ini. Jadi ya kami putuskan untuk menunggu saja. Teman-teman saya yang kebanyakan sudah berkeluarga itu sedang asyik berfoto-foto ria, saya memilih untuk berjalan-jalan di pantai yang masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang bermain air, dan sisanya bermalas-malasan di atas handuk pantai.

Saturday, December 4, 2010

Kereta dan Saya

Saya suka kereta api.
Sejak kecil, saya selalu suka kereta api.
Konon kata Ibu saya, saat saya masih berumur tiga bulan, orangtua saya sudah membawa saya bepergian naik kereta api ke Mojokerto, tempat nenek saya tinggal. Tentu saja dengan kereta api ekonomi.
Dan saat-saat liburan sekolah adalah waktu yang paling saya nantikan, karena kami akan pergi ke rumah nenek dengan kereta api. Saya masih ingat suara lengking peluit saat kereta hendak diberangkatkan, suara pengumuman yang membahana, suara dentang bel yang memenuhi telinga, lalu suara mesin lokomotif yang melaju.
Tut tut! Jes jes kook!

Friday, December 3, 2010

Gegar Hotel

Entah mengapa, November lalu adalah bulan dimana saya harus banyak melakukan perjalanan dan tentu saja harus menginap di berbagai hotel.

Satu yang kadang saya sukai dari menginap di hotel adalah sepreinya yang bersih dan tempat tidurnya yang empuk dan nyaman, sesuatu yang tidak saya dapatkan di rumah.
Hal lain yang saya suka adalah di hotel bisa mandi lama, dengan pancuran air panas atau berendam di dalam bath-tub. Lagi-lagi, hal yang tak bisa saya dapatkan di rumah.

Thursday, December 2, 2010

Kadang Saya Tak Suka Pantai...

Awal November kemarin, saya harus ke Bali karena saya menang sayembara. Saat saya mendarat di Ngurah Rai, sambutan yang saya dapat adalah hujan deras. Teman baik saya, Prima, yang sudah menikah di Bali sempat bilang kalau saya bisa mampir ke studio suaminya yang seorang pentato. Saya lalu sampai ke Kuta setelah keblasuk-blasuk karena saya disorientasi arah. Jalanan banjir dan sepatu saya basah kuyup.

Episode Adik #2: Ssst, Jangan Berisik!


Pada episode sebelumnya, saya bercerita tentang adik saya, Dea yang mandinya lama, nah kali ini saya akan bercerita tentang adik saya yang lain, yang bernama Nunna, yang sedang menjadi mahasiswa Kriya Tekstil, ISI.
Kalau Dea punya cerita tentang ritual mandi, Nunna punya cerita tentang tidur.

Jadi, adik saya yang bernama lengkap Nurina Rizky Savitri yang kata orang mirip saya ini, sangat tidak suka berisik-berisik di malam hari.
Kami bertiga, saya-Nunna-Dea, memang tidur dalam satu kamar, dan dalam satu tempat tidur yang sekarang sudah tidak cukup lagi untuk menampung kami bertiga yang sedang tumbuh. Jadi, bayangkan, kami bertiga tidur seperti ikan teri berjejer, saya tidur di tengah-tengah diapit Nunna di sebelah kanan saya, dan Dea di sebelah kiri saya.

Episode Adik #1: Menunggu Dea Mandi


Sebagai anak tertua dari lima bersaudara, saya terkadang merasa penuh sekali saat di rumah. Masing-masing dari adik saya karakternya berbeda-beda. Bayangkan saat kami masih anak-anak, dan memperebutkan sesuatu. Wah, rame sekali seperti sarang tawon kesenggol galah.

Salah satu adik saya yang keempat, namanya Dea, sekarang sedang duduk di kelas 2 di SMA Negeri 6 Yogya. Akhir-akhir ini, ia senang sekali karena baru saja mendapat KTP baru.

Oya, Dea ini adik saya yang agak 'lain'. Ketika kami berempat berkulit sawo matang, Dea berkulit kuning langsat. Ketika kami berempat memiliki mata besar, Dea bermata agak sipit. Bahkan saat dia masih balita, orang-orang di kampung memanggilnya 'kapuk' alias 'kapas'. Dea punya tulang pipi yang menonjol, sesuatu yang kami tidak punyai, apalagi saya yang wajahnya bulat seperti bola.

Tuesday, November 30, 2010

Eulogi untuk Saya

Eulogi adalah sebuah tulisan singkat yang dibacakan saat pemakaman untuk mengenang kembali kebaikan-kebaikan almarhum.

Dan kali ini saya hendak memperlihatkan kepada sampeyan, eulogi yang Greg tulis untuk saya, ketika saya meninggalkan dunia ini kelak.

Tulisan ini sebenarnya sudah setahun yang lalu dibuat, tapi kata-katanya yang teruntai indah membuat saya ingin menuliskannya lagi, sejenak untuk berefleksi ke dalam diri, memberi makna atas hubungan yang sudah berjalan lima tahun ini, dan terus berusaha aktif untuk mamayu hayuning bawana, atau aktif memperindah dunia dan memberikan kontribusi bagi sesama.

Monday, November 29, 2010

Antara Saya dan Kue Ulang Tahun: Tak Ngiler Lagi!

Pada sebuah sore yang cerah di tanggal 25 November, saya kedatangan dua sahabat karib saya, Uuth dan Ifa. Mereka datang ke YPR (Yayasan Pondok Rakyat) sambil membawa bungkusan besar. Saya menduga-duga, apakah itu. Ternyata ada buah jeruk, dan coba sampeyan tebak: kue-ulang-tahun!
Kuenya besar sekali, menurut saya. Namanya black forest alias kue hutan hitam. Desa kelahirannya Heidegger, he-he-he.
Ifa mungkin ingat, kalau saya belum pernah mendapat kue ulang tahun sejak saya umur lima tahun. Jadi saya senang sekali karena saya tidak akan ngiler lagi seperti yang sudah-sudah.

Sebaskom Sop dan Sore yang Jingga

Sore itu, pacar saya, Greg senang tidak enak badan. Sebagaimana biasanya, setiap Greg demam dan meriang, ia selalu ngidam sop. Kami biasanya makan sop ayam di depan SMP 16 Nagan, tapi kalau Minggu biasanya tutup, dan mungkin kami ingin sesuatu yang berbeda. Kami memang senang mencoba makanan baru. Untuk mencoba makanan di restoran yang harganya mahal, kami akan datang satu kali saja, mencoba, merasa, mencecap, dan cukup. Karena bagi kami, tidak bijak untuk mengeluarkan uang lebih banyak berkali-kali untuk makan sesuatu yang sama di tempat yang sama. Mending makan di angkringan berkali-kali, sekalian mendukung ekonomi lokal.

Wednesday, November 17, 2010

Tentang Rumah

Saya tercenung ketika melihat gambar rumah teman karib saya, Muhamad, yang rata dengan tanah karena terkena muntahan Merapi beberapa waktu lalu. Saya masih ingat dengan jelas ruang-ruang yang pernah saya masuki saat kami dulu sering berkumpul bersama dengan teman-teman Orong-Orong. Di kamarnya yang bersih dan sederhana, di ruang tamunya yang lantainya dingin sekali, dan terutama di terasnya yang hijau dan segar. Bahkan dulu kami sempat berencana untuk berkemah di halaman depan rumah Muhamad yang asri itu. Beberapa menit yang lalu, saat saya mengamati gambarnya sekali lagi, semua berubah menjadi abu-abu. Dingin. Yang tersisa hanya lubang pintu rumah yang (seingat saya) menghubungkan rumah induk dengan pekarangan belakang.

Jadilah saya menulis tulisan pendek ini: tentang rumah.

Saturday, November 13, 2010

Klik! Klik! Klik!

Setelah melihat lanskap lengkung kota Bandung dari minaret Masjid Raya Bandung yang berlantai 19, saya berjalan kembali ke arah Hotel Naripan, untuk mandi (dari pagi belum menyentuh air dan sikat gigi!) dan sejenak istirahat mengumpulkan tenaga untuk pertemuan malam di Gedung Asia Afrika.

Jadinya, saya berjalan terus ke arah Gedoeng Merdeka, alias Museum Konperensi Asia Afrika (iya, konperensi, bukan konferensi) dan suara klik! klik! klik! terus berbunyi di sepanjang jalan.

Bandung, Kulihat Lanskap Lengkungmu dari Sini!

Setelah saya mengisi perut di Warung Kopi Purnama, saya melanjutkan perjalanan menuju Alun-Alun Kota Bandung, hendak melihat geliat sosialnya, mencermati orang-orangnya, dan menghirup bau kotanya.

Saya melewati kantor pos besar, dan menyeberang dengan susah payah ke arah Masjid Raya Bandung. Sudah saya lihat minaret gagahnya dari seberang jalan, menjulang tinggi di langit yang kelabu.

Wah, saya harus naik ke minaret nih, pikir saya, dan melihat sepenjuru kota Bandung dari atas.

Saya masih di depan kantor pos besar Bandung yang berkodepos 40000, dan menyempatkan untuk memotret bangunan besar berwarna oranye dari seberang jalan. Kenapa ya, kantor pos selalu berwarna oranye? Mungkin agar lebih bersemangat dan lebih juicy kali ya. Ah, kantor pos besar di Jogja putih kok :)

Friday, November 12, 2010

Dan Sepatu Butut Itu Masih Terus Berjalan...

Setelah perjalanan si sepatu butut ke Bandung dan Jakarta, sang sepatu butut ternyata masih keras kepala untuk terus menemani saya ke Solo, Semarang, Bali, Jakarta, dan mampir sebentar ke Surabaya, lalu balik lagi ke Solo, baru bisa pulang ke Jogja. Wah, kok bisa?

Semua bermula saat saya memenangkan sayembara Prakarsa Kota Lestari dan saya harus ke Bali untuk presentasi tentang proposal saya yang berjudul, Aku Bangga jadi Anak Kampung. Dimulailah perjuangan saya dan si sepatu butut karena penerbangan yang semula akan bertolak dari Jogja tiba-tiba dialihkan ke Semarang karena abu vulkanik Merapi masih mengambang di atas Bandara Adisucipto. Jadi, mau tak mau saya harus berangkat sore itu juga (5/11) karena pesawat saya berangkat jam 7 pagi (6/11).

Greg mengantar saya keliling sambil berhujan-hujan ria untuk mencari travel (jawabannya selalu sama: ke Semarang? maaf, penuh Mbak) dan ke terminal bis (tidak ada bis ke Semarang). Saya rasanya ingin menjerit!

Untunglah hujan air bercampur abu yang membasuh otak kecil saya membuat saya lebih berpikir tenang, jadi saya memutuskan untuk berangkat naik kereta api, tut tut tut!

Mencoba Sarikaya di Pecinan

Jalan-jalan yang cukup membuat kaki saya pegal mendorong saya untuk mencari jajanan yang cukup bisa mengenyangkan perut dan membasahi kerongkongan. Setelah muter-muter Braga dan menyusuri jalanan Bandung sambil motret-motret, saya masuk ke jalan Pecinan yang isinya full jualan. Apa saja ada di jalan ini. Saya lupa namanya. Pasar Baru ya? Hmm, nanti saya cek lagi.

Di jalan ini masih banyak terselip bangunan-bangunan lawas yang mengingatkan saya pada sebuah sudut di Kota Lama, Semarang. Beserta dengan hiruk pikuk suasana pasarnya. Jangan bayangkan Pecinan dengan atribut merahnya.

Menyusuri Jalanan Bandung

Di ujung Braga, saya menemukan ada semacam mall berjudul Braga City Walk, yang sangat meriah tampilannya dengan segala lengkung dan sulur bunga-bunga. Tapi karena waktu masih pagi, Braga City Walk masih sepi. Hanya terlihat beberapa orang menyapu, membersihkan kounter, dan saya pun masuk melihat-lihat. Ya memang masih sepi. Kounter-kounter masih terbalut dalam bungkus-bungkusnya yang warna-warni. Spontan saya menengok ke atas, dan ternyata ada sarang besar sekali saling jalin menjalin di atas saya. Ada dua ekor capung besar yang melayang di bawahnya. Hmm, saya kira tadi sarang laba-laba. He-he.

Wednesday, November 3, 2010

Braga!

*lanjutan dari petualangan saya di Bandung*

Daripada saya bengong di lobi hotel, saya putuskan untuk berjalan-jalan ke Braga. Setelah tanya-tanya kepada pak satpam hotel, akhirnya saya tiba di sebuah jalan yang terkenal di Bandung, namanya:

Jalan Braga.

Ada dua versi mengenai asal usul Jl. Braga atau Braga Weg. Versi pertama adalah Braga weg diambil dari nama perkumpulan seni sandiwara asal Belanda yang terkenal di daerah itu yaitu Toneelvereniging Braga yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1882. Sedangkan versi kedua adalah nama Braga berasal dari kata Bahasa Sunda ‘ngabaraga’, yang berarti “berjalan menyusuri sungai” karena Jl. Braga memang berdampingan dengan Sungai Cikapundung. (ref: Hatmanto Poenja Blog)

Bandung!

Saya akhirnya ke Bandung juga!

Baru kali ini saya berkelana ke barat, karena biasanya selalu ke arah timur. Kebetulan saya ikut dalam rombongan Konferensi Asia Afrika alias 55 tahun Bandung Spirit. Jadi ya, bersama dengan 25 orang profesor dari Asia, Eropa, Amerika dan Afrika, saya nyelip di tengah-tengah, dan nebeng naik kereta api menuju Bandung. Saya tertidur pulas di Lodaya Malam, dan tiba di Stasiun Bandung sekitar jam 5 pagi.

Wah, udara pagi Bandung langsung menyapa saya. Untung saya hanya membawa tas punggung dan tas pundak kecil. Jadi langkah saya enteng juga.Tulisan BANDUNG berpendar-pendar biru di atas pintu stasiun. Saya tersenyum.

Wilujeng Sumping di Bandung!

Kampong Understanding toward Gender Diversity; Case study on Sidomulyo’s Acceptance on Waria Community

Kampong and its Daily Life
Kampong is a home for over 80% of Indonesia urban inhabitants, despite only 30% of urban space of Indonesia exists as kampong. Back to the Dutch colonialism era, kampong is identified as settlement for factory workers and city criminals, but in its progress, kampong has become the survival system for the most urban population. Since the New Order era (under the Suharto regime) until nowadays, kampong is considered negatively as the black spot of the city, and cannot be used as the measurement of the city development.

Tak Sengaja ke Ragusa

Di malam terakhir saya di Jakarta, saya harus menghadiri makan malam untuk penghargaan Ali Sastroamidjojo di Newseum Cafe, dekat Monas. Saya segera menghampiri meja-meja penuh lauk dan makan dengan lahap.

Barulah saya sadar bahwa tiket Taksaka saya pukul 8.45, jadi saya cepat-cepat pesan taksi, karena bawaan saya sekitar 30 kilo (ditambahi dua karung kaos yang harus dibawa kembali ke Jogja. Alamaaaaaak!) Dan ternyata masih ada satu tas kresek yang ketinggalan di mobilnya Mas Dede, yang setelah saya telpon ternyata sedang nongkrong di Ragusa Es Krim Italia.

Saya dan Sepatu Butut (lagi)

Masih berkelana di Bandung, saya dan sepatu butut saya melanjutkan perjalanan ini. Menyusuri jalanan kota Bandung, kemudian dilanjut ke Jakarta.

 Inilah keramik di depan Gedung Sociteit Concordia, yang sekarang berubah menjadi Museum Konperensi (bukan Konferensi) Asia Afrika. Gedung yang megah dengan balkon yang ditutup untuk pengunjung umum. Gedung yang penuh dengan bendera-bendera negara tetangga.

Tuesday, November 2, 2010

Saya dan Sepatu Butut

Inilah kisah saya dan sepatu butut saya yang menemani saya keliling kota Bandung dan Jakarta...



Berjalan hanya berbekal peta Bandung dari sebuah buku semacam Lonely Planet terbitan Perancis, inilah saya dan sepatu butut saya di atas Jalan Braga alias Braga Weg. Jalan yang kondang di Bandung dengan deretan toko-toko berarsitektur kolonial, dan lampu jalannya yang unik.Inilah kali pertama saya dan sepatu butut saya menginjakkan kaki di bumi Bandung.

Sejarah Airmata

Pernahkah sampeyan merasakan jantung yang berdesir saat bibir terkatup rapat dan diam-diam airmata mengalir?

Saya pernah.

Dan airmata saya semalam mengalir, pelan, tidak usah terlalu deras.
Saya kalau menangis selalu diam-diam.
Tanpa suara.
Dan katanya, itu yang paling sakit.

Saturday, October 9, 2010

Cerita dari Kampung #1: Manusia Seribu Rupiah


Saya baru saja masuk gang kampung setelah berjalan kaki dari halte transjogja di depan Benteng Vredeburg. Masih jam sembilan dua puluh. Malam. Dan saya melihat beberapa orang sedang berkerumun di salah satu rumah tetangga saya. Wah, saya sudah mencium bau tak sedap. Dan kalau sampeyan juga mencium bau yang sama dengan saya, silakan klik tanda silang di pojok kanan atas dan jangan lanjutkan membaca tulisan saya ini.

Jadi ini tentang tetangga saya.
Dialah yang menjadi pemeran utama dalam cerita ini, yang saya tulis langsung, hanya sepuluh menit setelah saya baru saja lewat rumahnya yang gelap dan penuh dengan kerumunan orang pada Jumat malam yang dingin ini.

Thursday, October 7, 2010

29 September di Koken Resto

Masih inget dengan kutukan iler vs. kue ulang tahun? Nah, kali ini saya memang belum beruntung. Tanggal 29 September kemarin saya tidak mendapati kue yang saya idam-idamkan sejak duapuluhtahun yang lalu itu. Tapi tak apa. Setidaknya Greg mengajak saya makan di sebuah warung 'yang katanya super pedas' di samping Mirota Kampus.
Kami baru pertama kali ke situ dan pengen mencoba menu baru. Setelah agak bingung dengan tempat yang luas dengan jumlah pelayan yang bisa dihitung dengan jari, kami memesan makanan dan minuman.
Dan kami menunggu.

Saturday, October 2, 2010

Perempuan-Perempuan yang Merokok

Saya pernah bercerita kalau bapak saya adalah seorang perokok.
Kakek saya juga. Adik laki-laki saya juga. 
Dan teman-teman perempuan saya juga merokok.

Saya dulu merokok.
Namun hanya 8 bulan saja.
Bukan karena saya anti-rokok atau apa, tapi saya ingin tahu bagaimana rasanya rokok.

Wednesday, September 29, 2010

Antara Saya, Iler, dan Kue Ulang Tahun

Setiap saya hendak berganti umur, saya selalu teringat kembali tentang ritual-ritual aneh yang dulu pernah saya lakukan. Kenangan paling awal yang masih terekam dalam memori saya adalah ketika saya genap berusia 5 tahun. Teka enol besar.

29/09/1990
Ibu saya yang masih semangat karena punya anak perempuan yang lucu dan bisa didandani mengajak saya untuk melakukan foto pertama saya. Saya dibedaki tebal-tebal, rambut diikat kencang-kencang, kucir dua (padahal waktu teka saya keriting dan berambut jarang), eye shadow biru tua yang terasa gatal di kelopak dan lipstik merah yang dioles dua kali memanjang ke bibir saya yang mungil. Tak lupa gaun putih yang mekar seperti balon dengan dua tali panjang yang disimpul menjadi pita di punggung, sepatu kulit hitam dengan aksen rumbai-rumbai, dan gelang tangan (milik ibu saya) yang dimasukkan paksa ke pergelangan kaki saya.

Tuesday, September 28, 2010

Kisah Ayu Utami dan Telur Ayam

Siang itu, saat saya melintas di Jalan Moses, ada yang berdering dari dalam tas saya. Ternyata sebuah panggilan dari Yayasan Umar Kayam yang meminta saya untuk menjadi moderator dalam diskusi novel terbaru Ayu Utami yang berjudul 'Manjali dan Cakrabirawa'. Siapa yang menolak? Tentu saja saya mau. Kebetulan saya juga belum pernah bertemu dengan Ayu Utami.

Tulisan Ayu Utami yang pertama saya baca adalah 'Parasit Lajang'. Baru saya membaca 'Saman', 'Larung', 'Bilangan Fu', dan saat itu saya belum membaca 'Manjali dan Cakrabirawa'. Mbak Putri, yang menelpon saya dari Yayasan Umar Kayam bersedia untuk memberi saya novel terbaru itu, gratis. Lumayan, pikir saya.

Jadilah saya membaca dan mempelajari 'Manjali dan Cakrabirawa'.

Saturday, September 25, 2010

Kenapa Saya Nggak Bisa Naik Sepeda Motor?

Saya nggak bisa naik motor.
Percayakah sampeyan?
Hahaha. Di jaman yang semuanya dipercepat ini masih ada produk yang ndak bisa mengikuti lajunya percepatan itu, yaitu saya. Hahaha. Ndak papa, tertawalah bersama saya.

Alasan kenapa saya ndak bisa naik motor sederhana, karena saya ndak punya motor. Alasan ini selalu disangkal teman-teman saya, katanya orang bisa naik motor kan nggak harus punya motor, Van. Hahaha. Gimana saya bisa belajar naik sepeda motor kalau selama saya tk, sd, smp di Jogja keluarga saya ndak punya motor.

Friday, September 24, 2010

Tentang Pernikahan dan Sindrom Rumah Boneka #2

Saya lupa saya belum bilang beberapa alasan (pribadi) kenapa saya kok segan menikah.

Pertama, menyelenggarakan pesta pernikahan kok bagi saya menjadi mubazir. Ini sesuai dengan konteks saya yang kalau tidak kerja saya nggak bisa makan. Coba tengok pernikahan si R dan D tadi. Bapaknya R mengaku telah merogoh koceknya sampai 30 juta, termasuk untuk membayar tiga mobil sewaan lengkap dengan uba rampe merah jambunya, belum lagi DP pembayaran rumah barunya. Saya bisa maklum kalau memang keduanya berasal dari keluarga kaya raya. Tidak ada yang salah dengan menyelenggarakan pesta pernikahan yang wah, kalau memang punya uang banyak untuk itu. Nah kalau tidak? Penghuni kampung saya kebanyakan adalah penerima KMS (Kartu Menuju Sejahtera), termasuk keluarga saya. Saya tahu pasti gimana tetangga saya, dan om-om saya dulu, pontang panting mencari pinjaman kesana kesini untuk biaya pernikahan. Dan saya selalu nggak nyaman kalau saya punya hutang.

Tentang Pernikahan dan Sindrom Rumah Boneka #1

Saya takut pernikahan.
Tepatnya, saya takut untuk menikah - jujur saja.

Begitu bunyi dua kalimat awal pembuka tulisan saya yang ditulis sekitar tiga tahun yang lalu. Tulisan ini tiba-tiba muncul kembali dalam pikiran saya. Ia seperti kecambah yang minta disirami karena lama tak ditengok. Dan saya pikir, kembali menampilkannya di dalam wadah ini masih sangat relevan.

Kenapa? Beberapa minggu terakhir saya dikejutkan dengan kabar bahwa teman-teman dekat saya (yang perempuan) akan menikah. Saya agak shock dan terkejut memang, karena saya pikir mereka sepikiran dengan saya tentang pernikahan. Tapi memang di usia saya yang hendak menginjak dualima ini, saya dihadapkan pada sebuah krisis perempat abad. Krisis, yang kata teman baik saya, Lusia Nini Purwajati, dimana pernikahan menjadi isu hangat yang menjadi beban pikiran para perempuan muda.

Thursday, September 23, 2010

Romantisme Seratus Lima Puluh Perak

Apa yang sampeyan beli kalau punya uang seratus lima puluh perak?

Alias satus seket gelo.

Menulis tentang Kobutri membuat saya ingat tentang petualangan saya selama bertahun-tahun naik kol kuning yang sekarang hampir masuk Sonobudoyo itu.

Perkenalan saya dengan Kobutri terjadi saat saya masuk SMP 8 tahun 97. Ikatan kuat selama 3 tahun membuat hubungan saya dengan Kobutri semakin mesra. Apalagi selama saya kuliah di Sadhar sejak tahun 2003 sampai sekarang saya masih naik Kobutri.

Ketika Para Ibu Rumah Tangga Turun ke Jalan

Saya melambaikan tangan ke arah Kobutri kuning yang lewat di Jalan Ahmad Dahlan pagi itu. Saya berdiri tepat di samping Halte Trans Jogja.

Saya memang kadang memilih untuk naik Kobutri ke kampus kalau saya melihat kol kuning itu lewat, daripada menunggu Trans Jogja. Bukan apa-apa sih, saya hanya sedih melihat mereka (Kobutri maksudnya) sudah jarang penumpangnya. Jadi, pagi itu, saya yang punya janji dengan pak dosen ganteng yang ngajar manajemen di Sadhar, langsung berlari-lari menyongsong Kobutri. Hanya ada 3 orang penumpangnya. Saya, seorang nenek, dan seorang bapak paruh baya.
Mata saya lalu tertumbuk pada seorang ibu berjilbab, sudah tidak muda lagi, 40-an usianya, duduk tepat di belakang pak sopir. Saya tahu kalo ibu ini bukan penumpang, karena saya sudah sering naik Kobutri yang ini.

Dari Candi ke Candi #3 : Buddha Tidur

*sambungan dari Dari Candi ke Candi #1: Candi Gentong dan Dari Candi ke Candi #2: Candi Brahu*
Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan mas mas penjaga Candi Brahu yang mewasiatkan agar kami, yang muda-muda ini, nggak boleh melupakan budaya Jawa, kami mohon pamit pulang.

Pas di parkiran, saya tanya Puji

Kate ndek endi meneh, rek?

Koen pengen eruh Buddha tidur ta gak?

Buddha tidur? Kapan Mojokerto onok Buddha tidur?

Ah, koen se. Gak tau dolin-dolin. Idhek kene kok. Yok!

Saya dan Greg mengangguk saja.

Wednesday, September 22, 2010

Dari Candi ke Candi #2: Candi Brahu

Nah, setelah saya diajak ke Candi Gentong yang nggak ada gentongnya, saya diajak ke Desa Bejijong, untuk melawat ke Candi Brahu.
Candinya, wah, anggun sekali!

Kalo sampeyan pengen mengenal sedikit saja tentang Candi Brahu, bisa dibaca dulu di sini. nanti akan muncul situs Informasi Mojokerto. Lumayan oke dibaca. Dan komennya lucu-lucu :) 
Tapi kalau sampeyan masih pengen jalan-jalan sama saya, mari kita 
berkeliling.

Saya sempat terkecoh ketika melihat candi ini. Begitu melihat sosoknya yang anggun, saya langsung meminta Greg untuk memfoto saya di sini. Eh, tiba-tiba bapak penjaga candinya menghampiri saya, lalu bilang begini:

Ning, nek sampeyan kate foto, luwih apik ndek ngarepe candi kana, Ning. Ndek kene iki mburine.

Ha? Saya ketawa. Ternyata saya salah!

Dari Candi ke Candi #1 : Candi Gentong

Saya senang pergi ke candi. Kenapa?
Karena candi tuh kayak buku lama yang bisa dipegang, disentuh, dibaui, dilihat, dimasuki, diraba-raba, dan diajak ngomong lewat bahasa energi.

Entah darimana datangnya tiba-tiba rasa suka terhadap candi ini. Mungkin karena Greg, pacar saya yang pertama kali mengenalkan saya tentang pemaknaan semiotika atas candi. Tapi saya nggak akan ngomong soal itu kepada sampeyan semua. Tanya saja dia.

Jadi, di suatu Minggu sore yang cerah saya dan Greg (tanpa terencana) naik kereta api ekonomi ke Mojokerto, kota dimana ayah saya lahir, kota tempat saya menghabiskan waktu 3 tahun untuk belajar di SMA, dan tempat dimana saya merasa ada sebagian diri saya tertinggal di sana...

Tuesday, September 21, 2010

Wah, Beneran Kamu Sudah 'engaged'?

Tanya teman saya lewat YM dengan menggebu-gebu. Saya hanya membalas dengan mengetik titik dua dan kurung buka. Saya nggak tahu sejatinya konsep 'engaged' itu gimana. Apakah sebuah hubungan harus diformalkan dulu sebelum menuju tingkat 'menikah'? Padahal di status relationship saya di Facebook tertulis 'engaged'. Hehehe.
Sebenarnya saya iseng saja waktu ngetik status hubungan di Facebook itu. Tapi kok lalu ada sebuah pertanyaan muncul, 'eh, emang engaged tuh apa to?' Apa iya, saya bener-bener 'engaged'?
Karena ternyata setelah saya cek di kamus Oxford edisi 11, 'engaged' tuh salah satu artinya adalah 'occupied'.


Waaah, saya nggak mau di-occupied dong!

Yuhuuuu!

Wah, akhirnya jadi juga saya punya wadah yang lumayan buat nulis petualangan saya selama ini. Lha setiap saya punya blog, saya tuh lupa password-nya apa. Seperti yang terakhir di sadhusindana.blogspot.com. Sampai sekarang nggak bisa saya update, lha wong buka blognya aja saya nggak bisa. Hehehe :)

Semoga si kurakura kikuk ini bisa jadi teman curhat yang enak sambil nge-teh hangat atau nyeruput coklat panas..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...