Wednesday, June 10, 2009

Di Balik Kuil-Kuil Tamil

Mei kemarin, saya punya kesempatan pergi ke Tamil Nadu, India Selatan untuk sebuah konferensi gaul ala anak muda yang membuat saya menulis sebuah paper yang bisa sampeyan baca di sini. Sebanyak 30 anak muda dari tiga benua (kecuali amerika) datang ke desa Karur, tempat para kaum Dalits tinggal. Salah satu program kami adalah kunjungan budaya ke kuil-kuil di kota-kota India Selatan, seperti Chennai, Trichy dan Madurai.
Kami beramai-ramai naik bis besar dan perjalanan pertama kami terhenti di Madras, mengunjungi Kuil Kapleeswarar.

Sampeyan tahu, bis berhenti dan parkir sejauh 2 km dari kuilnya, dan tentu saja kami harus berjalan kaki menuju kuil dengan syarat 'no sandals, no shoes, no slippers'. Ohmaigot! India kan panas sekali kalau bulan Mei! Dan aspalnya. Dan mataharinya. Begitu pikir saya. Tapi saya dan teman-teman tak punya pilihan lain. Kami tak mau tinggal di bis dan gigit jari. Jadilah kami beramai-ramai melepas semua kaos kaki, sandal, sepatu, dan segala alas kaki.

Dan saya berhasil menginjakkan kaki ke bumi India Selatan - secara harafiah.

Puanase rek! Saya berjingkat-jingkat kecil seperti berjalan di atas api. Pertama-tama memang agak sakit, tapi lama-kelamaan akan terbiasa. Semacam ada 'kapal' otomatis yang terbentuk di telapak kaki saya. Dan kami tidak berjalan di aspal. Tapi di pinggir jalan. Dan jalanan India berpasir kuning, berbau pesing dan berkerikil tajam. Saya menikmatinya sebagai sebuah perjalanan karma saya :) Sepanjang jalan selalu banyak orang, orang, orang, dan orang. Rickshaw yang berbentuk seperti becak tapi penumpangnya ada di belakang juga sliwar-sliwer di mana-mana. Dan tempat sembahyang selalu ramai di pinggir-pinggir jalan. Nyanyian, mantra-mantra, dan bau dupa menemani perjalanan kami menuju kuil Kapleeswarar.

Tiba-tiba saya terhenti.
Di sebuah dinding ada poster iklan besar yang menarik mata saya.

Adam yang menolak apel Hawa, dan lebih menginginkan kain sari. Saya tertawa. Wah, aneh-aneh saja orang India ini :)

Dan kami berjalan lagi.
Masih jauh?
Iya. Hampir.

Dan saya menekuni jalanan panas yang berdebu dan berdoa semoga cepat sampai. 

Dan akhirnya saya melihatnya...
Kuil setinggi 37 meter yang terkenal dengan gaya dan arsitektur Dravida itu gagah menjulang di langit biru kota Madras.

Saya tak sabar menemui Pharvati, istri Shiva yang menjelma menjadi seekor burung merak cantik, serta menyentuh Pohon Punnai yang paling tua di Chennai.

Berbeda dengan kuil atau candi di Indonesia, kuil di India relatif berwarna-warni. Sewarna-warni sari yang dipakai perempuan-perempuan Tamil yang selalu membuat mata saya silau. 

Saya hanya bilang, waow, waow.
Kami bergegas. Dan saya kecewa karena tidak boleh memotret di dalam candi.
Yaaaah!
Saya memotret satu lagi tampak detail candi dengan warna-warni gulali.


Di dalam, banyak perempuan gundul dengan sari dan tampak khusyuk berdoa. Saya bertanya kepada teman India saya, Raj.

Kenapa mereka mencukur habis rambut mereka?
Mereka menggunduli kepala mereka karena permohonan mereka dikabulkan dewa-dewa. Mereka mengorbankan milik mereka yang paling berharga untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa.

Mulut saya membulat.
Semakin saya ke dalam, saya menyadari kalau apa yang saya lihat di depan tadi adalah semacam gerbang yang menghantar kami menuju lebih dalam ke komplek candi ini. Dan banyak orang, orang, orang dan orang. Tidur di lantai kuil, satu keluarga, kakek nenek, ayah ibu, bayi bayi. Kuil gelap dan pengap. Dan ratusan orang berdesak-desakan hendak memuja dan bersembahyang. Saya merasa saya berada dalam sebuah terowongan penuh orang dengan gaung mantera dan harum dupa serta bau keringat matahari. Kaki saya menginjak lantai kuil yang lembab dan berdenyut.

Lalu, ada yang berdetak keras dalam dada saya.
Dan mata saya basah.

....bersambung...

3 comments:

  1. SUKAAAKK!! guhuhuhuhu.... manaa?? kok to be continued? india adalah negara yang puingin bianget tak jamah!! hhuuhhu

    ReplyDelete
  2. follow dulu baru tak terusin ceritanyaaaa...
    hahaha :) ini lagi tak tuliiiis...
    semoga mbak Ria yang imut kayak kuwaci bisa ke indiaaa. amiiin :)

    ReplyDelete
  3. wuapik! top !
    neng kok bersambung? piye to, mara'ke penasaran wae...

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...