Friday, June 12, 2009

Di Balik Kuil-Kuil Tamil #2

Masih meneruskan jalan-jalan saya ke kuil-kuil di Madras, salah satunya adalah Kuil Kapleeswarar yang penuh dengan ribuan orang, saya kira, setiap harinya yang berdoa dan memuja.
Saya menemukan sesuatu yang berdesir di sini.
Ada semacam energi yang menyelubungi saya dan membuat saya merasa melihat lebih jelas dan lebih lapang. Saya sempat ikut melakukan ritual juga dengan orang-orang India lainnya yang antri di sebuah kuil kecil bernama Garudha apa gitu. Saya menangkupkan tapak tangan saya ke dada, menunduk khidmat, dan sang pendeta mengusapi kepala saya dan memerciki saya dengan air wangi. Dan lagi-lagi lantai kuil basah, lembab, dan berdenyut.
Jangan sampeyan kira kuil di India seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan misalnya, yang dalam satu jam saja kita bisa mengelilinginya. Di Kuil Kapleeswarar ini, mungkin butuh berhari-hari untuk sembahyang di altar ini, lalu di altar itu, sungguh buanyak sekali altar sembahyangnya!
Itulah kenapa orang-orang dari luar Chennai atau Madras rela menginap berhari-hari di sini bersama seluruh keluarga dan sanak sodara untuk berdoa, berdoa, dan berdoa. Kuil ini luaaaaaas sekali. Di dalam kuil ada kuil lagi, di dalamnya ada kuil lagi, dan kuil lagi, dan begitu seterusnya.
Sampai saya dan teman-teman sampai pada kuil inti. Kami ikut antri, waktu itu teman saya dari Brasil, Swiss, Perancis dan Republik Czech ada di depan saya. Tapi kemudian kami dilarang masuk oleh pendeta yang berjaga di depan kuil. Wadow! Saya bertanya mengapa. 
Only Hindu! Only Hindu!
Sambil geleng-geleng kepala khas India.

Okelah kalo begitu.
Jadi kami berjalan memutar dan melihat-lihat kuil di seberang. Lewat semacam lorong-lorong berdinding tinggi.
Dan ada kuil yang pendetanya membolehkan kami masuk. Dan setelah berkomat-kamit dan memberi berkat, dahi kami diberi kunyit pekat yang baunya khas.
Lihatlah dahi-dahi kami yang berwarna oranye! Saya suka baunya :)

Teman kami, Selim dari Swiss memang seorang fotografer, jadi dia boleh membawa kamera besarnya dengan catatan membayar 100 rupee lagi. Dan inilah wajah-wajah para anak muda nan gaul yang berpanas-panas ria, telanjang kaki, dan penuh semangat! Yang memakai baju kuning barong Bali itu saya, karena saya pikir, orang Hindu di India juga mengenal Barong jadi saya (berharap) diijinkan masuk ke dalam kuil mereka, tapi ternyata tidak! Ha-ha-ha. Barong mereka beda kali ya :)
Saya juga sempat berfoto dengan Selim, di bawah patung hanuman yang berdada besar. Wah, saya baru tahu kalau hanuman berdada. Apa dewi hanuman ya? Harus saya cari tahu lagi nih :) Yang susah dilupakan adalah jalan menuju patung hanuman ini. Kuil ini kompleksnya terpisah dengan yang sebelumnya. Dan ada jalan berpasir yang lebar, dan coba tebak, panas sekali tentu saja! Kaki-kaki kecil saya seperti disangrai tanpa minyak saat saya menginjak bulir-bulir pasir besi yang panas itu.
Dan tur kami ke Kuil Kapleeswarar selesai sudah.
Ya, kami lalu berjalan pulang lagi menuju bis yang diparkir dua kilo jaraknya dari kuil yang superbesar itu.
Kembali berjingkat-jingkat seperti ada pegas di tapak kaki saya.
Dan bis berangkat menuju kuil selanjutnya, yang terkenal karena terletak di atas sebuah batu besar alias gunung batu.


Kami segera menuju ke Trichy, alias Tiruchirapalli :)


-bersambung-

4 comments:

  1. aih! harusnya kamu ngaku jadi hindu! (sama seperti yang kulakukan di bangkok, pura2 jadi thai, biar dapat masuk kuil secara gratis)

    ReplyDelete
  2. oh.. ini terusannya...
    apik yo,, jadi kaya' jurnal perjalanan.
    ngomong-ngomong, bikin juga dong jurnal perjalananmu keliling jawa akhir-akhir ni..
    :)

    ReplyDelete
  3. enaknyo kamu van..jalan2 terus marai pengin :(

    ReplyDelete
  4. @Fian: aku sudah coba itu, karena wajahku mirip orang Tamil, tapi yang bisa masuk HANYA perempuan yang memakai saree dan laki-laki yang pake kurtha. lha aku ro bule2 ra nggenah kae..dadi kan ketara banget nek dudu Hindu. hehe.

    @Mbakyu Rere:) iya jeng, sedang ditulis :)

    @Hendrooo: ayooooo....

    ReplyDelete

terimakasih ya sudah mampir dan menyapa kurakurakikuk :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...